Demi Menu Wajib - majalah.tempo.co

Pokok dan Tokoh 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Demi Menu Wajib


Tara Basro

Tempo

Edisi : 9 Agustus 2019
i Tara Basro. Dok. Falcon Pictures
Tara Basro. Dok. Falcon Pictures

ANDI Mutiara Pertiwi Basro, 29 tahun, masih kerap blusukan ke pasar di tengah kesibukannya menjalani syuting film. Jika ada waktu luang, aktris yang akrab disapa Tara itu menyempatkan diri berburu sayur-mayur kegemarannya. Pasar yang sering ia kunjungi antara lain Pasar Modern BSD, Tangerang Selatan, Banten. Bagi Tara, berbelanja di pasar lebih mengasyikkan ketimbang di supermarket. Harganya pun bisa lebih murah.

Sayur-mayur hampir menjadi menu wajib Tara. Padahal, saat kecil, dia begitu membencinya. Kala itu, ia sama sekali tak mau menyentuh sayuran. Sadar akan manfaat sayuran bagi kesehatan, Tara pun perlahan-lahan belajar menyukainya. “Lama-lama ngerasa enak juga, ya,” katanya di Jakarta, Jumat, 19 Juli lalu.

Aktris yang memerankan tokoh Wulan dalam Gundala: Negeri Ini Butuh Patriot—tayang di bioskop akhir Agustus 2019—itu pun cenderung memilih sayuran lokal. Selain ingin mendukung petani Indonesia, ia merasa kesegaran sayuran lokal lebih terjamin. “Kalau impor kan harus terbang dari mana dulu,” ujarnya.

Pemeran Utama Wanita Terbaik Festival Film Indonesia 2015 lewat film A Copy of My Mind itu juga menyukai jajanan pasar. Demi mendapatkan jajanan itu, ia rela menyambangi berbagai pasar, termasuk pasar tradisional, di daerah-daerah tempat syuting berlangsung. “Apalagi setiap daerah suka beda-beda makanannya,” tuturnya.

 


 

Arjan Onderdenwijngaard. TEMPO/M Taufan Rengganis

 

Kenangan dengan Pramoedya

AKTOR asal Belanda, Arjan Onderdenwijngaard, punya kenangan khusus dengan sastrawan Pramoedya Ananta Toer. Bagi pria yang kini menetap di Indonesia itu, Pram—sapaan Pramoedya—bukan sosok asing.

Pada 1980, Arjan menjejakkan kaki di Indonesia untuk pertama kalinya. Pram menjadi alasan utama ia bersama seorang kawannya, yang Indo-Belanda, datang ke Jakarta. Saat itu, Arjan baru lulus sekolah menengah atas. Ia datang untuk membuat dokumenter radio beberapa sastrawan Indonesia. Pram menjadi orang pertama yang ia jumpai. “Banyak tokoh sastra Indonesia selain Pram yang selanjutnya aku wawancarai,” katanya, Jumat, 2 Agustus lalu.

Bermula dari keinginan kawannya mencari tahu asal-usul keluarganya di Indonesia, Arjan mengusulkan ide pembuatan dokumenter tentang sastra Indonesia kepada stasiun radio tempat ia bekerja, KRO (Katholieke Radio Omroep).

Mewawancarai Pram menjadi salah satu momen paling berkesan baginya, karena saat itu Pram belum lama bebas setelah 14 tahun menjadi tahanan politik. Arjan merasa beruntung karena Pram mau menerimanya. “Dia mau menjawab dalam bahasa Belanda dan kami wartawan pertama dari luar negeri yang datang menemui dia,” tutur Arjan, yang memerankan hakim dalam film Bumi Manusia.

Ada kenangan tak terlupakan dari pertemuan itu. Arjan masih menyimpan jawaban yang diketik Pram. “Dia bacakan saat itu karena enggak mau salah. Dia masih sangat tegang, masih takut dan hati-hati.” Arjan memahami alasan Pram melakukan itu karena rumahnya diawasi.

 


 

Fajar Nugros. TEMPO/ Gunawan Wicaksono

 

Obat Kangen

BAGI Fajar Nugros, kereta api bukan cuma alat transportasi. Kereta, lewat suaranya, juga menjadi peranti yang membuat dia tenang karena merasa dekat dengan rumah. “Waktu awal pindah ke Jakarta, saya enggak bisa tidur karena enggak dengar suara kereta,” katanya di rumahnya di Bumi Serpong Damai, Tangerang Selatan, Banten, Ahad, 4 Agustus lalu.

Fajar, 40 tahun, dibesarkan di perumahan pegawai PT Kereta Api Indonesia di Pengok, Yogyakarta. Begitu ia membuka pintu dapur, rel kereta sudah tampak di depan mata. Ia dan keluarganya biasa bepergian dengan kereta karena ayahnya pegawai PT KAI. Ia terbiasa melihat sang ayah bermain miniatur kereta di rumah. “Tapi waktu itu saya enggak tertarik ikut main,” ujar sutradara film Yowis Ben ini.

Saat punya rumah sendiri di BSD, Fajar baru berpikir untuk mengikuti hobi bapaknya. Tapi ia tak mau asal-asalan. Ia ingin miniaturnya sama persis dengan kereta yang dioperasikan di Indonesia. Demikian juga lingkungan di sekelilingnya.

Ia pun berburu miniatur kereta dari berbagai negara yang kemudian ia bongkar untuk diambil bagian yang dibutuhkan. Misalnya mesin ia ambil dari mainan Eropa dan gandengan kereta serta alat kontrolnya dari Amerika Serikat. Adapun badan kereta ia pesan dari temannya di Bandung. “Kalau skalanya enggak pas dengan kereta di Indonesia, rasanya ada yang ngganjel,” ucap Fajar.

Koleksi tersebut ia simpan di salah satu kamar di rumahnya. Ia biasa memainkan miniatur itu saat sedang bersantai atau membutuhkan ide menulis naskah film. “Sejam main kereta, dengerin suaranya, baru nulis.”



Pokok dan Tokoh 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.