Dunia Kiai Maimoen Zubair - Obituari - majalah.tempo.co

Obituari 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Dunia Kiai Maimoen Zubair


Dunia Kiai Maimoen adalah dunia pesantren. Dunia ini mengajarkan wawasan keislaman yang khas Indonesia tapi sekaligus tetap berpegang pada akidah dan tradisi keilmuan Islam tradisional.

Tempo

Edisi : 9 Agustus 2019
i Kiai Maimoen Zubair,  November 2015. Dok. TEMPO/Eko Siswono Toyudho
Kiai Maimoen Zubair, November 2015. Dok. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

SAYA ingin meletakkan Kiai Maimoen Zubair, yang wafat pada Selasa, 6 Agustus 2019, dalam dunianya, yaitu dunia pesantren dan tradisi keilmuan yang ada di sana. Walau pesantren sebagai institusi sudah dikenal publik, apa yang diketahui publik mengenai lembaga ini masihlah serba permukaan. Wafatnya Kiai Maimoen mungkin momen terbaik untuk memfasilitasi publik mengenal siapa sosok ini dan “dunia kultural” apa yang ada di baliknya.

Ada tiga jenis kajian Islam yang dikerjakan di Indonesia saat ini. Yang pertama, kajian Islam seperti yang kita saksikan di institut agama Islam negeri/universitas Islam negeri saat ini dengan ciri utama mengawinkan antara “Islamic studies” dan metode-metode baru dalam ilmu-ilmu sosial modern. Jenis kedua adalah kajian Islam dalam kerangka “religious studies”, seperti kita lihat di universitas umum. Ciri khas yang terakhir ini adalah pendekatannya yang murni melihat agama sebagai fakta sosial yang bisa diamati, dianalisis.

Ketiga adalah jenis kajian keislaman seperti kita lihat di pesantren dengan ciri khas utama kajian dengan berbasis kitab kuning. Kitab kuning adalah karya-karya di bidang ilmu-ilmu keislaman yang ditulis para ulama klasik menggunakan bahasa Arab klasik.

Ketiga jenis kajian Islam ini, bagi saya, sangatlah penting. Ketiganya memiliki peran dan sumbangan masing-masing. Tapi harus diakui, dari ketiga jenis kajian Islam ini, jenis ketigalah yang paling banyak bersentuhan dengan kehidupan umat Islam sehari-hari, yang paling “down to earth”. Pola pandang umat di perdesaan Jawa sebagian besar dibentuk oleh kajian Islam model pesantren.

Di jenis kajian keislaman model ketiga ini sosok Kiai Maimoen berada. Inilah dunia yang ia geluti selama bertahun-tahun melalui Pesantren Al-Anwar di Sarang, Rembang, Jawa Tengah. Di sana tumbuh suatu kelas sosial yang kita kenal dengan “santri” beserta pandangan dunianya yang khas. Inilah dunia yang melahirkan corak pemahaman “Islam tradisional”, pemahaman yang mencirikan pola pandang umumnya warga nahdliyin.

Istilah Islam tradisional bisa menimbulkan gambaran yang keliru. Tradisional seolah-olah identik dengan stagnasi pemikir-an atau ketidakmampuan beradaptasi dengan lingkungan yang berubah. Gambaran ini jelas keliru.

Di antara corak gerakan Islam yang muncul saat ini, tampak sekali kontras berikut ini. Di satu sisi kita melihat gejala “Islam kota” yang cenderung konservatif dan resistan terhadap dunia modern, ditandai antara lain oleh wacana hijrah—pindah-menjauh dari kehidupan modern yang dianggap tidak sesuai dengan Islam menuju kehidupan yang lebih islami. Islam kota juga menampakkan kecenderungan kurang nyaman dengan bentuk negara nasional dan menghendaki, misalnya, NKRI yang lebih “bersyariah”.

Di sisi lain, kehendak serupa semacam ini justru tidak muncul dari dunia sosial tempat Kiai Maimoen berada, dunia kaum santri perdesaan. Ini tentu menimbulkan pertanyaan: kenapa yang di kota ingin yang serba islami, sementara yang di desa sama sekali tidak menunjukkan gejala itu? Malah “Islam perdesaan”, dalam tiga-empat tahun terakhir, justru tampil dengan keinginan kuat untuk memperlihatkan Islam yang rahmatan lil alamin, menaungi semua kelompok, toleran terhadap perbedaan keyakinan.

Ini semua hanya bisa dijawab jika kita mengenal dengan baik dunia Kiai Maimoen: dunia pesantren yang sejak ber-abad-abad lampau merawat tradisi keilmu-an keislaman berbasis kitab kuning.

Sejak usia muda hingga sepuh, Kiai Maimoen merawat tradisi kajian Islam semacam ini di pesantren, mengasuh ribuan santri, mengajarkan kepada mereka cara memahami Islam yang khas Indonesia tapi sekaligus tetap “committed” terhadap akidah Islam.

Ciri khas keislaman yang ditumbuhkan oleh tradisi ini adalah tidak terlalu ingin mengejar dunia modern dengan “memperbarui” Islam (seperti pretensi para pembaru muslim selama ini), tapi juga tidak ingin sok-sokan mau serba islami dalam permainan yang dikenal sebagai “holier than thou politics”. Pemahaman Islam semacam ini juga melihat negara nasional dan ideologi negara (baca: Pancasila) sebagai dua hal yang tak harus dipertentangkan dengan agama.

Itulah dunia Kiai Maimoen, dunia yang tak sering ditampilkan di layar televisi tapi justru memberikan landasan teologis kokoh bagi cita-cita untuk merawat Indonesia yang -beragam ini.

ULIL ABSHAR ABDALLA, PENGAJAR DI UNIVERSITAS NAHDLATUL ULAMA, JAKARTA


Obituari 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.