Dari Tubuh Garam hingga Universitas Kaspar - Teater - majalah.tempo.co

Teater 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Dari Tubuh Garam hingga Universitas Kaspar


Festival Teater Tubuh menyuguhkan penampilan sejumlah kelompok yang meresapkan naskah ke dalam gerak tubuh.

Tempo

Edisi : 9 Agustus 2019
i Pementasan Universitas Kaspar oleh Teater Payung Hitam dalam Festival Teater Tubuh Payung Hitam  di Selasar Sunaryo Art Space, Bandung, 28 Juli 2019.
Pementasan Universitas Kaspar oleh Teater Payung Hitam dalam Festival Teater Tubuh Payung Hitam di Selasar Sunaryo Art Space, Bandung, 28 Juli 2019.

BERPAKAIAN toga dan me--nen-teng tas koper merah gemuk, Tony Broer berjalan menuruni tembok berundak. Lantunan Gaudeamus Igitur, himne mahasiswa internasional yang biasa dinyanyikan saat acara wisuda, meng-iringi langkahnya. Sampai di ujung terbawah tembok, ia berbalik. Tubuh-nya membungkuk, berancang-ancang se-per-ti atlet loncat indah yang hendak ter-jun. Tangannya berayun. Ujung sep-atu belakangnya sudah tergantung. Ketegang-an yang terbangun mencair ketika ia me-nu-runkan kakinya pelan-pelan ke lantai panggung pertunjukan.

Terganggu oleh alunan himne yang ke-luar dari pelantang suara berwarna merah itu, Tony mengancam hendak melempar sumber suara tersebut dengan buku tebal. Lagu berhenti sebentar, lalu mengalun lagi. Tony mencopot paksa pelantang suara dari tembok dan membantingnya ke lantai. Alat itu rupanya kebal, meski sempat juga dihantam dengan bangku berduri tiga kali. Lagu baru berhenti setelah Tony menyu-ruh-nya diam lewat kode telunjuk di depan mu-lut. Saat suasana hening, ia mengecup pelantang itu.

Adegan dalam pertunjukan teater ber-ju-dul Universitas Kaspar tersebut tampil sebagai pentas pamungkas Festival Teater Tubuh 2019 di Selasar Sunaryo Art Space, Bandung. Berlangsung pada 23-28 Juli lalu, festival yang digelar sebagai acara ulang tahun ke-37 kelompok Teater Payung Hitam itu diikuti sembilan grup penampil dan seorang pemain yang menanggapi instalasi pelukis Rosid berupa artefak alat pertanian kayu tradisional koleksinya. Se-lain Teater Payung Hitam, dari Bandung ada kelompok Lab Teater Tubuh. Ada pula Teater Api Indonesia dari Surabaya, Re-frain (Sikka), Komunitas Seni Hitam Pu-tih (Padang Panjang), Yayasan Lanjong Indo-ne-sia (Kutai Kartanegara), dan kelompok teater Madura.

Penampilan Tony dalam Universitas Kas-par tergolong yang terkuat dan memi--kat pada festival itu. Sesuai dengan judulnya, masih ada benang-benang gerakan dan properti seperti dalam pementasan Kas-par sejak 1994 hasil adaptasi sutradara Rachman Sabur dari karya Peter Handke. Di-sesuaikan dengan area pementasan yang sempit, Tony ditemani dua pemain fi--guran di kursi penonton, kursi berduri, se-pasang pagar kawat besi berduri, rak besi hitam, dan buku-buku. Tony memperluas area dengan menjelajahi bangku penonton sambil berinteraksi. Mengalir nonverbal, tubuhnya menceritakan lakon tentang per-masalahan di perguruan tinggi, khususnya yang terkait dengan pendidikan seni. “Sis-tem, aturan, dan kurikulumnya kacau,” kata penulis naskah sekaligus sutradara Rach-man Sabur. Kisah itu berangkat dari kampusnya dan kesamaan kasus di institu-si pendidikan seni lain.

Kelompok Refrain dengan pemain para siswa Sekolah Menengah Atas Katolik St. John Paul II, Maumere, Sikka, Nusa Teng-gara Timur, membuka festival lewat pe-mentasan Sako Jung. Pertunjukan ini me-nyajikan teater tradisi yang berfokus pada budaya masyarakat Desa Wairkoja, Sikka. Gerakan pemain, tarian, bebunyian, dan syair lagu dalam pentas menceritakan budaya leluhur ketika berladang. Secara ber-kelompok mereka membangun nilai-nilai kebersamaan, gotong-royong, dan kerja keras. Sepasang tokoh utamanya, Moan Loi dan Moan Lela, menjadi pelopor bu-daya itu di masyarakat.

Secara kebahasaan, sako dimaknai se-bagai kegiatan mencangkul, sementara jung berarti bersama-sama. “Sako Jung meng-ingatkan kita bahwa tubuh manusia adalah untuk membangun kekuatan ber-sa-ma sebagai modal untuk bertahan hidup,” tutur sutradara dan penulis naskah, Maria Ludvina Koli. Penggarapan teater itu ber-tu-juan menghadirkan kembali kerja keras leluhur dengan mengelola tubuh yang tak kenal lelah dan tahan banting. Ber-kon-sep sejarah, lakon itu menyelipkan kere-sahan tentang lahan yang tandus dan ma-salah sengketa tanah. Sebuah ritual kecil ber-pe-ran memulihkan keadaan. Aksi jagal ayam mencengangkan penonton men-je-lang akhir pertunjukan.

Penampil kedua, Lab Teater Tubuh, meng-angkat pertunjukan berjudul Kuda Lumping Urban, yang memadukan seni tradisi dan teater modern. Adonan serupa ter-lihat dalam pertunjukan Teater Api In-donesia, Max, yang mengisahkan orang yang dibungkam rezim dengan status gila dari novel berjudul One Flew Over the Cuckoo’s Nest karya Ken Kessey. Naskah dramanya karya Dale Wasserman.

Lakon Bangku Kayu dan Kamu yang Tum-buh di Situ #2 garapan sutradara Yusril Katil dari Komunitas Seni Hitam Putih bertema masalah pendidikan. Sistem pendidikan yang membuat siswa tidak kritis dan cara bela-jar yang diseragamkan melahirkan kaum terdidik yang antirealitas. Melibat-kan empat pemain lelaki berkostum pu-tih, gerakan silat tetap menjadi ciri khas ke-lompok seni asal Sumatera Barat ini. Ada-pun lokalitas cerita sangat kental pada Tubuh Garam besutan Mohamad Wail Irsyad yang berkisah tentang identitas orang Madura di perantauan dan tanah asalnya.

Pementasan Universitas Kaspar oleh Teater Payung Hitam dalam Festival Teater Tubuh Payung Hitam di Selasar Sunaryo Art Space, Bandung, 28 Juli 2019.

Pengamat teater, Afrizal Malna, da-lam sarasehan tentang teater tubuh menga-ta-kan kelompok teater di Indonesia hidup dalam ekosistem yang beragam, seperti eko-sistem tradisi, modern, dan agama. Eko-sistem itu sampai sekarang masih ber-tarung dalam kehidupan sehari-hari. “Se-macam perebutan kekuasaan, juga pasar,” ucapnya dalam diskusi di Bale Handap Selasar Sunaryo, Ahad, 28 Juli lalu.

Dalam Pekan Teater Nasional 2018, sem-pat dipetakan ekosistem teater masa kini. Menurut Afrizal, ada tiga temuan jenis teater yang praktiknya berbeda. Ada tea-ter komunitas yang hidup di lingkungan tinggalnya. Ada juga teater kampus yang pijakannya edukasi atau estetika. Satu lagi, teater kota, hidup dan mencari makan sendiri di perkotaan.

Adapun definisi teater tubuh di Indo-ne-sia, menurut Afrizal, belum jelas. Jika di-artikan dengan hanya melihat tubuh sebagai fisik dan tubuh aktor, pada akhir-nya teater tubuh hanya tertuju pada gerak. Padahal ada kecenderungan lain dari prak-tik teater tubuh yang berkembang saat ini, yaitu peralatan atau properti turut menjadi satu tubuh ketika dipakai aktor. “Praktik masa kini mengubah pandangan seperti itu. Terjadi semacam kesetaraan semua ele-men dalam satu medan pertunjukan,” ujarnya.

Pengamat teater lain, Halim HD, dari Surakarta, Jawa Tengah, tidak terlalu me-mentingkan soal definisi teater tubuh. Batas antara teater dan tari dalam pen-de-katan tubuh panggung sangat tipis. “Apa-kah itu tari atau teater? Itu yang menarik keti-ka konsep teater tari mempertemukan pendekatan teater tubuh dalam pemen-tasan,” tuturnya.

Orang bisa melihat suatu pertunjukan sebagai teater tubuh, tari, atau performance art. Menurut Halim, sebuah pertunjukan menjadi menarik ketika tubuh aktor di panggung menjadi berbagai kemungkinan. “Ini yang menjadi tantangan mereka untuk mencari apa yang mereka anggap sebagai teater tubuh itu,” katanya.

Gagasan teater tubuh di Indonesia, Ha-lim menerangkan, berawal dari Rachman Sabur. Proses pencariannya bermula pada 1990-an. “Dia merasa bahwa ada keter-ba-tasan pada teks-teks. Tubuh bisa lebih ber-bicara,” ucapnya. Sebelum itu, Halim me-ni-lai, Rachman terpengaruh pula oleh teater garapan Putu Wijaya dan Budi S. Otong pada 1980-an. Mereka melakukan pen-de-kat-an artistik teater yang berbeda baik se-cara visual maupun tubuh aktor yang dominan.

Faktor lain yang mewarnai konsep teater tubuh Rachman, Halim melanjutkan, ter-kait dengan situasi sosial-politik pada masa rezim Soeharto. Rachman Sabur alias Ba-beh mengatakan penggarapan lakon Kaspar, misalnya, merupakan perlawanan ter-ha-dap pemberangusan majalah Tempo dan Editor serta tabloid Detik pada 1994. “Ketika seluruh bahasa dikuasai rezim, jalan satu-satunya dengan meng-counter tanpa bahasa,” ujar Halim. Dalam hitungannya, ada setidaknya delapan judul karya Teater Payung Hitam yang boleh menjadi gambaran teater tubuh. Namun, dia menambahkan, teater tubuh tidak anti terhadap teks. Pendekatannya adalah meresapkan teks, lalu menyatakannya lewat gerak tubuh.

ANWAR SISWADI


Teater 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.