Mengadu Lidah Mertua dan Trembesi - Lingkungan - majalah.tempo.co

Lingkungan 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Mengadu Lidah Mertua dan Trembesi


Tanaman lidah mertua diklaim paling efektif mengikat zat pencemar udara. Dosen Institut Pertanian Bogor menemukan, dari 43 pohon penghijauan, trembesi yang paling tinggi menyerap karbon dioksida.

Dody Hidayat

Edisi : 9 Agustus 2019
i Pohon trembesi di Rembang, Jawa Tengah,September 2018./TEMPO/Rully Kesuma
Pohon trembesi di Rembang, Jawa Tengah,September 2018./TEMPO/Rully Kesuma

MENJADI tergugat kelima dalam gugatan pencemaran udara di Jakarta yang diajukan Gerakan Inisiatif Bersihkan Udara Koalisi Semesta ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, 4 Juli lalu, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan membela diri. Anies mengatakan penyumbang terbesar polusi udara di Jakarta adalah polutan dari kendaraan bermotor yang digunakan masyarakat. “(Penurunan) kualitas udara ini bukan disebabkan satu-dua profesi, tapi kita semua, termasuk yang melakukan tuntutan hukum,” kata Anies di Balai Kota, -Jumat, 5 Juli lalu. Sidang perdana gugatan hukum warga negara itu digelar pada Kamis, 1 Agustus lalu.

Gubernur Anies tidak merinci polutan apa saja yang terkandung dalam asap kendaraan bermotor. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), asap kendaraan bermotor antara lain mengandung karbon dioksida, ozon, karbon monoksida, nitrogen oksida, sulfur oksida, dan hidrokarbon. Karbon dioksida (CO2) paling disorot dunia karena merupakan gas rumah kaca terbesar yang memerangkap panas di dalam atmosfer sehingga membuat suhu bumi bertambah panas.

Seperti kata Anies, pencemaran udara di Jakarta tidak disebabkan oleh satu-dua profesi. Namun penelitian Mustofa Bisri, mahasiswa Institut Pertanian Bogor, Jawa Barat, untuk skripsi sarjananya di Departemen Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan dapat mengidentifikasi profesi yang menyumbang karbon dioksida terbesar di Jakarta. Dari penelitian pada 2017 itu, Mustofa menemukan emisi karbon dioksida tertinggi dihasilkan pengusaha, yakni 6,6 ton per kapita per tahun, diikuti pegawai negeri sipil (4,4 ton), profesional (4,0 ton), karyawan atau buruh (3,5 ton), mahasiswa (2,9 ton), dan yang paling rendah ibu rumah tangga (2,2 ton).

Menurut Mustofa, yang kini menjadi pegawai magang di Biro Perencanaan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, seorang pengusaha atau wirausaha tiap tahun memproduksi 6,6 ton emisi setara dengan karbon dioksida. “Seorang pedagang gorengan, misalnya, memakai elpiji untuk memasak, juga menggunakan kendaraan bermotor untuk mengangkut barang dagangannya dan lalu lintasnya,” ujar Mustofa, menjelaskan penelitiannya.

Untuk menghitung emisi karbon dioksida per kapita warga Jakarta itu, Mustofa menyurvei sekitar 100 responden. Ia menanyakan berapa besar penggunaan daya listrik mereka setiap bulan, berapa tabung elpiji yang dihabiskan untuk memasak sehari-hari, apa kendaraan bermotor yang digunakan, juga jenis bensin dan jumlah bahan bakar yang dibeli per pekan serta berapa kilogram sampah dalam sehari yang dihasilkan per orang. Dia juga memasukkan pernapasan sebagai faktor emisi.

Dalam penelitian bertajuk “Emisi Karbondioksida Ekuivalen Perkapita dan Mitigasi Berbasis Hutan di Provinsi DKI Jakarta” itu, Mustofa menawarkan solusi pengurangan emisi dengan penanaman pohon atau hutan di provinsi lain. Dia menawarkan mitigasi ini karena lebih mudah ketimbang membangun ruang terbuka hijau di Jakarta, yang terhambat masalah pengadaan lahan. Dibutuhkan 300 ribu hektare hutan karet atau trembesi untuk menyerap 1 ton CO2 per kapita per tahun. “Tapi solusi itu tidak berdampak langsung pada penurunan emisi karbon dioksida di Jakarta karena ditanam di luar Jakarta,” tutur Mustofa, mengakui kelemahan solusi yang ditawarkannya.

Setelah isu pencemaran udara ini bergulir, Gubernur Anies mengungkapkan strategi jangka panjang untuk menekan polusi udara. Di antaranya mewajibkan semua kendaraan bermotor lulus uji emisi, menambah stasiun pemantau kualitas udara, mengharuskan pembangkit listrik tenaga uap memasang alat pantau emisi, meremajakan bus Transjakarta dan mengoperasikan bus listrik, serta memperluas sistem pelat nomor ganjil-genap. Strategi Anies yang mengundang kontroversi adalah penanaman lidah mertua (Sansevieria trifasciata).

Menurut Anies, penanaman lidah mertua bukan satu-satunya upaya pemerintah Jakarta untuk menekan polusi udara. “Ini bagian dari upaya kita,” katanya. Dia menjelaskan, rencana penanaman lidah mertua adalah salah satu rekomendasi Dinas Kehutanan mengenai tanaman yang bisa menekan pencemaran udara.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian DKI Jakarta Darjamuni mengatakan pengadaan lidah mertua sudah sampai tahap lelang. “Saat ini sedang masuk masa sanggah,” ucapnya pada -Jumat, 19 Juli lalu. Darjamuni menerangkan, untuk tahap pertama, lidah mertua akan ditanam di atap kantor dinas yang dipimpinnya sebagai percontohan. Selanjutnya, penanaman diperluas ke kantor-kantor suku dinas dan wali kota di Jakarta.

Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian Suharini Eliawati menyebutkan lidah mertua menghasilkan O2 dan menangkap CO2. Dari beberapa riset, kata dia, 15-18 pot tanaman ini mampu secara signifikan mengurangi polusi. “Tanaman lidah mertua mampu menyerap 107 polutan udara,” ujarnya.

Dosen hutan kota dan jasa lingkungan IPB, Endes N. Dahlan, tidak ragu akan kemampuan lidah mertua sebagai tanaman penyerap polusi udara. Namun penelitian untuk disertasi doktoral Endes pada 2010 tentang 43 jenis tanaman penghijauan menyimpulkan bahwa trembesi (Samanea saman) paling tinggi menyerap karbon dioksida. Penelitian selama dua tahun itu menemukan trembesi mampu menyerap karbon 40 kali lipat kemampuan kenanga (Canangium odoratum). Jika satu pohon kenanga menyerap 0,757 ton CO2, satu pohon trembesi bisa menyerap 28,49 ton CO2. Adapun Acacia sp. dapat menyerap 5,30 ton CO2 .

Selain trembesi dan kenanga, dalam daftar Endes itu ada beringin (Ficus benjamina), mahoni (Swietenia mahagoni), pingku (Dysoxylum excelsum), serta akasia (Acacia auriculiformis) dan Acacia mangium. “Konon, lidah mertua itu paling tinggi dalam menyerap polusi, tapi harus dilihat berapa luas daun-daunnya?” kata Endes saat ditemui di rumahnya di Kompleks IPB Sindang Barang 2, Bogor, Kamis, 8 Agustus lalu.

Menurut Endes, pada dasarnya semua jenis tanaman dapat menyerap polusi udara. Namun daya serap pohon terhadap karbon dioksida ditentukan oleh luas keseluruhan daun, umur pohon, dan fase pertumbuhan tanaman. “Satu tanaman lidah mertua tingginya tidak sampai 1 meter dan lebar daunnya sekitar 3 sentimeter. Jadi luas daunnya sekitar 3 meter persegi. Bandingkan dengan beringin, yang luas total daunnya kalau dijejerkan bisa mencapai 500 meter persegi, atau trembesi yang bisa 800-900 meter persegi,” tutur Endes, yang diminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan pembekalan mengenai penanaman trembesi di Istana Negara pada Januari 2010.

Daun tanaman, kata Endes, memiliki kemampuan menyerap polutan dari kendaraan bermotor dan partikulat debu yang berukuran kurang dari 10 mikron (mikrometer). “Stomata daun itu berukuran 10 mikron, jadi bisa menyerap partikel berukuran yang lebih halus dari 10 mikron.” Itu sebabnya, Endes melanjutkan, di kiri-kanan jalan harus ditanami pohon yang jumlah daunnya banyak. “Agar polutan dari kendaraan bermotor langsung dapat diserap sehingga tidak menyebar ke mana-mana.”

Endes tidak menyangkal informasi bahwa trembesi memiliki akar yang ekspansif. “Saya kira trembesi dan beringin itu sama. Makanya ditanam tidak dekat dengan jalanan, setidaknya lebih dari 2 meter dari pinggir jalan,” ucap Endes.

Selain itu, Endes menambahkan, akar dan dahan yang mengarah ke jalan perlu dipotong. Dia menyarankan penanaman dengan jarak antarpohon 4-5 meter. “Idealnya jarak antarpohon itu 7-8 meter atau tergantung jenis pohonnya. Kalau trembesi, bentang tajuknya bisa 15 meter, jadi mesti dipangkas.”

DODY HIDAYAT, M. JULNIS FIRMANSYAH, TAUFIQ SIDDIQ


Lingkungan 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.