Serikat Buruh dan Pelindungan Pekerja Migran - Buku - majalah.tempo.co

Buku 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Serikat Buruh dan Pelindungan Pekerja Migran


Buku ini mengkritik relasi serikat buruh dengan agenda perlindungan pekerja migran di negara-negara Asia. Tertinggal dari serikat buruh di Eropa.

Tempo

Edisi : 9 Agustus 2019
i Serikat Buruh dan Pelindungan Pekerja Migran/Tempo
Serikat Buruh dan Pelindungan Pekerja Migran/Tempo

SUDAH banyak kajian me-nge-nai pekerja migran Indonesia, baik yang ditulis orang In-do-nesia maupun orang asing (indo-nesianis). Di antaranya tentang analisis klasik demografis, faktor pendorong dan penarik, dinamika kultural dari pola migrasi, dimensi kesejarahan, ser-ta tentu saja kontribusi dan pengaruhnya pada dinamika ekonomi kawasan. Dari perspektif hubungan internasional, ada kajian yang melihat relasi kuasa negara pengirim dan negara penerima serta kua-litas diplomasi pelindungan pekerja migran.

Kalangan feminin pun menyumbang ka-jian tentang migrasi pekerja migran Indo-nesia, yang mayoritas perempuan. Mereka memperlihatkan keterkaitan antara feno-me-na kemiskinan yang menyebabkan pe-rempuan kian terpuruk dan proses migrasi yang didominasi perempuan pekerja, ter-utama di sektor pekerjaan rumah tangga.

Michele Ford, guru besar studi Indonesia di University of Sidney, Australia, salah satu indonesianis yang menekuni perkem-bangan terbaru perburuhan Indonesia, termasuk isu pekerja migran. Tak seperti indonesianis lain yang selalu menuliskan alur utama studi perburuhan, misalnya soal dinamika gerakan buruh dan politik ketenagakerjaan, Ford tidak melupakan di-namika gerakan advokasi pekerja migran yang selama ini tidak dipandang sebagai elemen progresif gerakan buruh.

Sebelumnya, Ford dalam “Contested Borders, Contested Boundaries: The Poli-tics of Labour Migration in Southeast Asia” (2012) melakukan studi tentang aspek-aspek migrasi pekerja migran di kawasan Asia Tenggara, dari pola, kebijakan, aktor, hingga respons kelembagaan. Studi ini sa-ngat berguna untuk melihat kelambanan ASEAN dalam membangun mekanisme pe-lindungan yang efektif bagi pekerja migran.

Ford ingin mengkritik relasi serikat-serikat buruh (afiliasi internasional atau-pun federasi/konfederasi) dengan agenda pelindungan pekerja migran di kawasan Asia. Pertanyaan kritis buku ini: apakah agenda pelindungan pekerja migran di kalangan serikat buruh dalam satu dekade terakhir merupakan agenda sejati atau se-kadar respons temporer atas munculnya isu pekerja migran yang diangkat oleh agenda pembangunan MDGs, SDGs, atau tema-tema migrasi yang diusung Organisasi Buruh Sedunia dan Perserikatan Bangsa-Bangsa?

Buku ini diawali dengan deskripsi ber-kembangnya proses migrasi pekerja migran di Asia pada 1970-an dan 1980-an. Pada masa itu, serikat buruh absen dan sama sekali tidak mempunyai agenda tentang pelindungan pekerja migran. Agenda dan kerja pelindungan buruh migran dimiliki kalangan lembaga swadaya masyarakat. Jejak inisiatif ini masih terlihat hingga kini.

Dengan membandingkan dinamika mi--grasi pekerja yang berlangsung di Ero-pa dan Asia, Ford memperlihatkan kom-pleksitas yang ia temukan ketika mengukur kualitas hubungan serikat buruh dan pe-kerja migran. Di Eropa, terutama pada zaman keemasan Uni Eropa, ada rekognisi permanen terhadap kaum pekerja migran dalam hubungan industrial. Sebaliknya, di Asia, pekerja migran memiliki kerentan-an berlipat: didiskriminasi karena kewar-ganegaraannya dan tak diakui dalam hu-bungan industrial.

Dalam perspektif sejarah, revolusi indus-tri di Eropa mendorong pertumbuhan ideo-logi politik buruh. Hingga kini, gagasan politik buruh—yang diartikulasi melalui partai buruh—masih menjadi salah satu elemen politik penentu Eropa. Di Asia, ga-gasan serikat buruh baru dikenal seiring de-ngan sejarah perlawanan terhadap kolonialisme dan gagasan tersebut belum sampai pada pelembagaan ideologi politik buruh. Ketika sapuan fobia komunisme meng-hampiri Asia Tenggara dan Asia Timur pada 1960-an hingga 1970-an, gerak-an politik buruh hampir tak mendapat tempat.

Dengan kondisi itulah dinamika serikat buruh di Asia tertinggal dari Eropa dalam memperjuangkan agenda pelindungan pekerja migran. Kondisi ini diperkuat de-ngan dikotomi posisi negara pengirim dan negara penerima sehingga serikat buruh di negara penerima pun sulit menerima kehadiran pekerja asing sebagai anggota serikat buruh.

Secara internal, pekerja migran di Asia mengalami kesulitan bergabung dalam serikat buruh karena kerjanya ber-sifat kontrak. Apalagi pekerja rumah tang-ga yang hingga kini belum mendapat peng-aku-an sebagai buruh formal.

Dalam dua bab terakhir, tergambar ke-sulitan-kesulitan yang dihadapi seri-kat buruh lokal di negara penerima da-lam mendorong keberadaan agenda pelindungan pekerja migran. Ketiadaan agen-da sejati mengenai pelindungan pekerja migran pada serikat-serikat buruh di Asia ini yang menjadi penyebab lambannya pengarusutamaan pelindungan pekerja migran seperti yang dikehendaki afiliasi internasional serikat pekerja.

WAHYU SUSILO, DIREKTUR EKSEKUTIF MIGRANT CARE


Buku 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.