Bertengkar Dalam Gelap - majalah.tempo.co

Arsip 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Bertengkar Dalam Gelap


PASOKAN setrum Jawa-Bali yang anjlok pekan lalu mem-buat gundah banyak orang.

Tempo

Edisi : 9 Agustus 2019
i Tempo Doeloe
Tempo Doeloe

Kondisi serupa pernah ter-jadi pada 1972 ketika mesin pem-bangkit yang memasok listrik wilayah Jawa Barat-Jakarta mengalami turun daya. Para pemangku kepentingan saling me-nyalahkan. Majalah Tempo mengulas keja-dian itu lewat artikel berjudul “Mengapa Gelap? PLN Bertengkar dalam Gelap”.

Gelap di seantero Jawa Barat dan Jakarta yang terjadi pada September tahun itu punya dampak luas. Di jalan-jalan raya yang padat di dalam kota, kemacetan tak terelakkan akibat lampu lalu lintas tak menyala. Di kantor-kantor, para pegawai mondar-mandir tak bisa bekerja karena gerah dan gelap. Pabrik-pabrik dan berbagai perusahaan yang menggantungkan pada tenaga listrik PLN, termasuk tempat-tempat mandi uap judi jackpot ataupun kasino, mulai sibuk menghitung-hitung keru-gian.

Tidak mengherankan jika minggu lalu terdengar selentingan, beberapa perusa-haan yang merasa dirugikan mengajukan klaim kepada PLN. Benar atau tidak selentingan itu, tapi seorang pengusaha mengingatkan kepada Tempo: “Kesalahan PLN adalah bahwa ia terburu-buru me-nambah langganan padahal belum siap.” Ir Abdul Kadir, Direktur Utama PLN Pusat, tidak membantah hal itu. Seperti di--katakannya kepada Tempo, “Hal itu tidak lepas dari belum seimbangnya antara ke-butuhan dan persediaan tenaga listrik kita.”

Dewasa ini, dari 210 megawatt (MW) ke-butuhan tenaga listrik pada beban puncak di Jawa Barat dan Jakarta, sekitar 200 MW justru dihasilkan berbagai pembangkit listrik tenaga air yang terdapat di sejumlah tempat di Jawa Barat. Dari jumlah itu, 125 MW dihasilkan oleh kelima mesin PLTA Jatiluhur. Selebihnya, sekitar 75 MW, ber-asal dari berbagai PLTA kecil atau lazim disebut pembangkit listrik tenaga microhydro, seperti Cikalong, Ubrug, dan Parakan Kondang.

Khusus untuk Jakarta, tambahan di-dapat dari dua unit Pembangkit Listrik Tenaga Uap I dan II di Tanjung Priok sebesar 2 x 25 MW plus Pembangkit Listrik Tenaga Diesel Senayan dan beberapa PLTD kecil yang semuanya berjumlah sekitar 20 MW. Tapi kemarau tahun ini dengan cepat memelorotkan air di waduk-waduk PLTA. Air di waduk Jatiluhur, yang normalnya setinggi 100 meter dari dasar, minggu lalu tinggal sekitar 80 meter sehingga tidak mampu lagi menggoyang kincir-kincir PLTA untuk menghasilkan tenaga listrik di atas 50 MW.

Usul agar dilakukan penambahan pem-bangkit di Jakarta oleh PLN Eksploitasi XII tampaknya memang bukan tanpa dasar. Dengan meningkatnya pembangunan in-dustri dan penanaman modal di daerah Jakarta, kebutuhan listrik tahun-tahun ter-akhir ini memang amat meningkat. Lagi pula, dari segi penghasilan, PLN Eksploitasi XII merupakan daerah pengisi kas PLN terbesar dibandingkan dengan daerah lain. Bahkan, seperti diakui Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik Sutami sendiri, dari sekitar Rp 12 miliar omzet PLN se-ta-hun, 50 persen didapat dari Jakarta.

Tapi, sejak dibekukannya Direktorat Jenderal Ketenaga-lis-trikan dan PLN lang-sung ditempatkan di bawah Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik, keuangan PLN daerah lang-sung dipegang dan diten-tu-kan oleh PLN pusat. Dalam praktiknya, memang apa yang disetorkan ke pusat oleh daerah Eksploitasi XII me-mang tak sebanding lagi dengan jumlah yang dikembalikan pusat kepa-danya. Maka masalah yang timbul di sini pada hakikatnya tidak beda dengan pola konflik yang memang masih belum selesai sampai kini: pusat melawan daerah dalam soal keuangan.

PLN, seperti dikatakan Sutami, masih me-nyalahkan apa yang disebut dengan government function. Maka, sekalipun harus bekerja membuat prinsip-prinsip per-usahaan, “Ia juga harus memasukkan unsur keadilan sosial di dalamnya,” kata Sutami. “Kalau PLN ini PT, usaha per-listrikan di daerah-daerah di luar Jawa harus dihentikan karena di sana rugi. Tapi itu menyalahi prinsip. Karena itu, kerugian di sana kita tutup dengan keuntungan dan daerah seperti Jakarta,” Sutami me-nambahkan.

Kepala PLN Eksploitasi XII Ir Bambang Sarah mengingatkan bahwa krisis listrik sekarang bisa ditolong jika PLTU unit III dan IV selesai seperti yang direncanakan semula. Bukan hanya Bambang yang ber-pendapat demikian. Ir Chusraini, sela-ku kepala urusan teknik proyek itu, turut menambah versi cerita yang sudah ada kepada pers: “Hal yang sama-sama tidak kita inginkan ini sebenarnya dapat di--hin-dari apabila PLTU unit III dan IV dapat selesai pada waktunya sebagaimana diren-canakan semula.”



Arsip 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.