Air - majalah.tempo.co

Catatan Pinggir 1/1

Sebelumnya
text

Air


“Jadilah air!”

GM

Edisi : 2 Agustus 2019
i Catatan Pinggir - MBM
Catatan Pinggir - MBM

ANAK-ANAK muda, beratus ribu jumlahnya, berbaris dengan mengenakan helmet kuning dan memakai masker, seperti wajah-wajah bertopeng seragam dalam film V for Vendetta. Mereka menyanggah kekuasaan yang tak mereka kehendaki.

Tapi ini bukan di sebuah London imajiner. Ini Distrik Sha Tin di Hong Kong. Ini Jalan Tsuen Wan, bagian dari Route 5, dan di mana saja, di hampir tiap sudut kota makmur yang berbukit dan berpantai itu—wilayah Tiongkok yang tak nyaman jadi wilayah Tiongkok. Ini hari-hari ketika hampir semua penduduk kota membayangkan diri, dalam poster-poster mereka, seperti Cowboy Bebop dalam film animasi Shinichiro Watanabe, para pelawan ketidakadilan.

Di hadapan mereka RRT: tembok, atau benteng, atau struktur, atau tank—kekuasaan sebuah republik yang sejak didirikan di tahun 1949 mengklaim mewakili rakyat yang tertindas dan pada saat yang sama menghalalkan diri jadi kediktatoran.

Akan menangkah para pembangkang? Sudah berminggu-minggu mereka di jalanan. Sebuah kalimat menyemangati mereka, dan politik menjadi puisi: protes itu membuat alegori. Tertulis dalam sebuah meme yang muncul jadi viral di Twitter: “Jadilah air!”

Air menyejukkan ketika hari terik. Air membuat kembang segar dan ladang tak gersang. Air membebaskan rongkong dari haus. Air dapat mengelak dari impitan yang paling keras menyelinap di celah paling sulit. Jadilah air—karena air energi, menjadikan kincir berputar dan listrik hidup. Jadilah air, saudaraku, dan berangsur-angsur kaubuat lekuk pada batu.

Tapi air dapat dibendung! Sebuah kalimat membantah. Ya, tapi air tak berhenti mengalir selama ada bagian dari Tiongkok yang direndahkan.

Ada yang universal di dalam pekik pertempuran itu. Mereka mahasiswa, karyawan bank, pegawai negeri, guru sekolah swasta, manajer hotel, borjuis dan bukan borjuis. Dari mendung yang berbeda-beda mereka jadi hujan deras yang satu, dari unsur-unsur yang berbeda-beda mereka jadi sebuah mata rantai kesetaraan dalam menghadapi Sang Lawan. Sebuah komunitas muncul, tanpa dasar kebersamaan dari masa lalu yang amat jauh dan siapa tahu akan mencair lagi tahun depan. Bahkan mereka tak punya label. “Nama komunitas yang dilukai yang menyatakan hak-haknya selalu anonim,” kata Ranciere. Semua jadi Subyek (dengan “S”) yang lahir dari mereka yang semula tak masuk hitungan. Semua jadi Subyek yang berkehendak dan bertindak untuk mengubah keadaan.

Dari kehendak dan tindakan itu terungkap sesuatu yang selama ini nyaris dilupakan: kekuasaan yang ada di Beijing itu hanya punya legitimasi yang lahir dari kekuasaan, dan dengan kekuasaan itu mereka membangun legitimasi—semacam lingkaran dalih. Tak ada dasar legitimasi yang rasional, yang dibangun dari pikiran dan pertimbangan. Seperti kekuasaan politik di mana pun sebenarnya, prosesnya melewati pertarungan, sering dengan gelora hati saja, atau dengan insting untuk hidup.

Tapi hanya itukah yang tercapai: pengungkapan tentang itu semua? Kita diam-diam bimbang dan berasumsi, akhirnya komunitas yang anonim itu tak akan menang. RRT teramat kuat. Para demonstran itu—tanpa organisasi revolusi, tanpa teori revolusi, tanpa pimpinan, tanpa senjata, tanpa dukungan internasional yang sistematis dan efektif, dan hanya dengan kekerasan yang terbatas dan sementara—mungkin akhirnya akan dibungkam. Seperti di tahun-tahun sebelumnya. Orang sangat bisa ragu, adakah perjuangan politik seperti yang tengah berlangsung di Hong Kong punya alasan dasar yang awet, mungkin kekal, yang akan menggerakkan aksi kembali tiap kali dihentikan.

Dari jauh dan dengan pengalaman yang berbeda, kita bisa melihat para pejuang prodemokrasi di Hong Kong itu tengah menerobos masuk ke masa depan untuk keadilan dan kemerdekaan, seperti manusia lain dalam sejarah dunia. Tapi apa jadinya jika ternyata “keadilan dan kemerdekaan dan kesetaraan” itu cuma bergema dalam Revolusi Prancis di abad ke-18—sesuatu yang “kuasi-universal”? Apa jadinya jika juga pendirian konstitusi Indonesia bahwa “kemerdekaan adalah hak semua bangsa” adalah keyakinan yang tak punya dasar ontologi?

Jawabnya bukan datang dari teori filsafat, saya kira, melainkan dari laku, tekad, dan sejenis ilusi yang menggetarkan. Tiap perjuangan seperti yang kita ikuti di Hong Kong tak ingin dicatat hanya sebagai (untuk menirukan sinisme Macbeth dalam lakon Shakespeare) “kisah yang diceritakan seorang dungu, penuh gaduh dan amarah menggebu, tapi tak punya arti apa-apa”, told by an idiot, full of sound and fury, signifying nothing. Katakanlah, perjuangan demokrasi adalah peristiwa kemenangan dan kekalahan yang seperti pertandingan bola di atas sebuah lapangan tanpa dasar. Mungkin kesadaran akan keadilan dan kemerdekaan bukan dasar yang ditakdirkan, bisa ada bisa tidak. Tapi untuk hidup dan bergerak, sejarah manusia membutuhkannya. Seperti tubuh membutuhkan air.

GOENAWAN MOHAMAD


Catatan Pinggir 1/1

Sebelumnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.