Aparat Menyelidiki Demonstrasi Anti-pemerintah - majalah.tempo.co

Internasional 4/5

Sebelumnya Selanjutnya
text

Aparat Menyelidiki Demonstrasi Anti-pemerintah


RUSIA

Tempo

Edisi : 2 Agustus 2019
i RUSIA/REUTERS/Maxim Shemetov
RUSIA/REUTERS/Maxim Shemetov

 

Komite Investigasi Rusia menyelidiki dugaan tindakan pidana dalam unjuk rasa antipemerintah di Moskow pada Sabtu, 27 Juli lalu. Polisi menahan hampir 1.400 orang dalam demonstrasi tak berizin tersebut. Ini penangkapan terbesar terhadap kelompok oposisi dalam beberapa tahun terakhir.

Komite mengusut tiga perkara kriminal, termasuk pengerahan massa dan partisipasi dalam unjuk rasa. Ancaman hukuman bagi para pelanggarnya mencapai 15 tahun penjara. “Pengatur dan peserta demonstrasi ilegal harus ditindak tegas,” ucap Jaksa Alexander Buksman, Wakil Jaksa Penuntut Umum Rusia Pertama, seperti dilansir RIA Novosti.

Ribuan orang turun ke jalan untuk memprotes pejabat Moskow yang mencoret 57 kandidat oposisi dan independen dalam kertas suara pemilihan anggota badan legislatif di ibu kota Rusia itu. Sebanyak 45 kursi anggota parlemen bakal diperebutkan pada 8 September mendatang.

Polisi sebelumnya memenjarakan pemimpin oposisi, Alexei Navalny. Aparat juga menciduk sederet politikus independen yang lantang memperjuangkan nama mereka agar masuk kertas suara, seperti Ilya Yashin dan Ivan Zhdanov, Direktur Yayasan Antikorupsi milik Navalny.

Rupert Colville, juru bicara Badan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa, mengkritik tindakan keras polisi terhadap demonstran. Tapi Wali Kota Moskow Sergei Sobyanin menyatakan para pengunjuk rasa bertindak di luar kendali sehingga polisi terpaksa mengambil tindakan tegas.

 


 

ARAB SAUDI

Ancaman Mati Ulama Al-Sahwa Ditunda

PENGADILAN Kriminal Khusus di Riyadh, Arab Saudi, menunda persidangan lanjutan dengan terdakwa Salman al-Awdah hingga Desember mendatang. Ulama 62 tahun itu mendekam di dalam penjara sejak polisi menahannya pada September 2017.

Jaksa Agung menuntut Al-Awdah dengan hukuman mati dalam persidangan tertutup pada Mei lalu. Dia adalah anggota Al-Sahwa al-Islamiyyah, gerakan pembaruan Islam di Saudi yang diilhami Al-Ikhwan al-Muslimun di Mesir. Ulama yang punya jutaan pengikut di media sosial itu menghadapi dakwaan serius, termasuk menebar hasutan terhadap penguasa dan terkait dengan organisasi terlarang.

“Jaksa Agung Saudi meminta hukuman mati terhadap ayah saya karena aktivismenya,” ujar putra Salman al-Awdah, Abdullah al-Awdah, yang berada di Amerika Serikat, kepada Reuters, Ahad, 28 Juli lalu.

Al-Awdah adalah satu dari puluhan ulama, aktivis, dan akademikus yang ditangkap sejak Pangeran Muhammad bin Salman menjadi putra mahkota pada 2017. Menurut Amnesty International, Al-Awdah ditahan beberapa jam setelah membuat cuitan tentang kemungkinan rekonsiliasi antara Arab Saudi dan Qatar. Saat itu Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Mesir memutus semua hubungan diplomatik dan ekonomi dengan Qatar karena negara tersebut tidak mengikuti arahan kebijakan regional mereka.

 


 

CINA

Vonis untuk Pembangkang Siber

AKTIVIS veteran Huang Qi bakal mendekam lebih lama di bui setelah pengadilan Kota Mianyang, Provinsi Sichuan, Cina, memvonisnya 12 tahun penjara, Senin, 29 Juli lalu. Pengadilan menyatakan pria 56 tahun itu “sengaja membocorkan rahasia negara” dan “secara ilegal membagikan rahasia negara ke luar negeri”.

Pegiat hak asasi manusia yang mendirikan situs 64 Tianwang itu ditahan sejak November 2016. Penuntutan terhadapnya dilakukan secara tertutup dan vonis dijatuhkan tanpa pemberitahuan kepada keluarganya.

Sophie Richardson, Direktur Cina di Human Rights Watch, menganggap kasus Huang hanyalah rekayasa yang menunjukkan permusuhan akut pemerintah Cina terhadap aktivisme damai. “Ini tindakan kejam terhadap Huang dan ibunya yang sakit parah yang terus dilecehkan pihak berwenang,” ujarnya dalam pernyataan di situs lembaga pemantau hak-hak asasi manusia itu.

Human Rights Watch melaporkan bahwa ibu Huang, Pu Wenqing, tak diberi tahu ihwal vonis putranya. Perempuan 86 tahun itu bahkan kerap diintimidasi polisi Sichuan agar tak berbicara kepada publik mengenai kondisi Huang. “Mereka menempatkannya dalam tahanan rumah selama berhari-hari dan mengirim agen pemerintah tinggal di rumahnya,” kata Richardson.

Situs 64 Tianwang memang kritis terhadap Beijing. Situs yang namanya terinspirasi dari tragedi Tiananmen 1989 itu melaporkan topik sensitif seperti korupsi, kebrutalan polisi, dan sengketa perburuhan. Situs web itu mendapat penghargaan dari organisasi Wartawan Tanpa Batas pada 2016, tapi kemudian Huang justru ditahan di Chengdu.



Internasional 4/5

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.