Kelana Slompret Madra - majalah.tempo.co

Seni 2/2

Sebelumnya Selanjutnya
text

Kelana Slompret Madra


Madra Primana, mahasiswa pascasarjana Institut Kesenian Jakarta, menyajikan komposisi bertolak dari instrumen slompret di area hutan Ngantru, Trenggalek.

Tempo

Edisi : 2 Agustus 2019
i Pentas alat musik slompret di Hutan Ngantru, Trenggalek, Jawa Timur. Wahyu Widodo
Pentas alat musik slompret di Hutan Ngantru, Trenggalek, Jawa Timur. Wahyu Widodo

LENGKINGAN slompret melesat ke langit di area hutan Ngantru, pinggiran Kota Trenggalek, Jawa Timur. Nada-nadanya tinggi dan sember. Hampir sepanjang 5 menit slompret itu sendirian berbunyi, membuat penduduk tercekat olehnya. Sedari dulu, para penduduk tahu bahwa slompret hanya berbunyi ketika turonggo yakso--kesenian rakyat yang populer di Trenggalek--dipertunjukkan. Tapi pada Sabtu malam, 20 Juli lalu, selain berbunyi sendirian, slompret meneror telinga dengan suara-suara yang cukup aneh dan tak lazim.

Belum rampung penduduk terkesima, suara kendang Sunda mengentak dari sudut lain. Kendang pun dimainkan dengan pola atau sekaran-sekaran yang bebas. Terkadang muncul pola kendang sisingaan Sunda, lalu muncul pola ayak-ayakan yang biasa ditemukan dalam permainan kendang ciblon Jawa. Teror bunyi solo slompret dan kendang dirangkai lebih dari seperempat jam pertunjukan. Pada bagian berikutnya, pertunjukan yang berdurasi hampir 1 jam itu dihiasi formula musik padu-padan piano, kendang Sunda, dan slompret serta suara pesinden Jawa.

Slompret merupakan instrumen musik yang banyak ditemui dalam seni prosesi dan pertunjukan rakyat Nusantara, seperti reog, saronen, turonggo yakso, dan jathilan. Jenis, ukuran, juga pengistilahannya bermacam-macam. Ada yang menyebut thet-thet, pui-pui, sarompet, tretet, dan nama-nama lain. Tapi peran musikalnya hampir sama, yaitu sebagai melodi yang mengiringi hampir sepanjang lagu dalam seni pertunjukan rakyat. Namun, dalam domain musikologi, perannya menjadi kabur lantaran sulit dibedakan sebagai instrumen melodis atau perkusif. Dalam pola permainan musik saronen di Madura, misalnya, thet-thet dimainkan sangat perkusif.

Madra Primana, mahasiswa pascasarjana minat penciptaan musik dari Institut Kesenian Jakarta, ingin membebaskan slompret yang telanjur lengket dalam kesenian-kesenian rakyat tersebut. Melalui karya berjudul Pro Sederek, Madra mengaku terinspirasi dari lagu Tindak Trenggalek karya seniman lokal Agus Mukarwanto. Dia ingin slompret eksis dan dikenal luas di luar budayanya sendiri. Ini alasan klasik bagi para pemusik modern yang menggabungkan musik tradisi. Karena itu, poin pentingnya tentu bukan di situ, melainkan sejauh mana eksperimentasi dan eksplorasi yang dilakukan Madra mampu melampaui diktum eksistensialis yang parsial tersebut.

Untuk melampaui itu, Madra menyebutkan, ia mula-mula harus membuka cara berpikir para pemusik yang diajaknya. Berlatar belakang tradisi musik Barat yang superketat (dan jazz), Madra--yang sejak menempuh S-1 belajar musik klasik Barat--cukup berkeringat merangkul Muhammad Bagus Triono (pemain slompret), Ardi Pambudi (slompret), Ahmad Eka Saputra (kendang), serta dua pesinden, Retno Kusumaningtiyas dan Wilujeng Tri Patutsari. Mereka adalah pemain musik turonggo yakso yang tak kalah ketat terbungkus oleh tradisinya pula. Di Trenggalek, turonggo yakso adalah maskot yang dimiliki hampir di setiap kelurahan. Ia begitu dominan!

Madra lebih dulu melakukan riset organologis terhadap slompret. Ia membongkar bodi resonator utama slompret demi menghasilkan karakter dan teknik permainan yang lebih bervariasi. Juga nada, karakter, dan warna bunyi yang kaya: melampaui bunyi dalam tradisinya. Hanya, kekayaan tersebut belum tereksplorasi optimal dalam hal kompositoris. Terutama pada bagian groove, yang menghadirkan komposisi semua alat.

Madra terjebak dalam kecenderungan permainan standar musik jazz yang memberikan ruang terbuka bagi pemusik untuk berimprovisasi. Padahal improvisasi tidak akan “berbunyi” ketika para pemusik tak mampu menghadirkan pengalaman reflektif atas kekayaan referensi musikal yang telah diperolehnya.

Belum lagi permainan solo kendang, vokal, ataupun slompret di awal pertunjukan yang terkesan berdiri sendiri-sendiri, tidak dalam konstruksi yang sebangun dalam keseluruhan komposisi musik. Andai saja Madra bisa mengajak slompret hadir lebih integral di dalam keseluruhan struktur kompositorik, ia akan bertamasya ke ruang musik baru yang bukan semata silang budaya.

JOKO S. GOMBLOH, PEMERHATI MUSIK


Seni 2/2

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.