Kami Sudah Mengingatkan Bakal Terjadi Kerusuhan - Laporan Utama - majalah.tempo.co

Laporan Utama 7/7

Sebelumnya Selanjutnya

Kami Sudah Mengingatkan Bakal Terjadi Kerusuhan


Kepala Biro Penerangan Masyarakat Kepolisian RI Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo:

Tempo

Edisi : 6 Juli 2019
i Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo. TEMPO/Jati Mahatmaji
Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo. TEMPO/Jati Mahatmaji

LEBIH dari satu bulan berlalu, polisi belum bisa mengungkap penembak delapan korban tewas dalam peristiwa kerusuhan 21-22 Mei 2019. Menurut Kepala Biro Penerangan Masyarakat Kepolisian RI Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo, mencari penembak tersebut lebih rumit ketimbang menetapkan 447 tersangka perusuh. “Ini makin sulit karena kami melakukan pembuktian secara digital,” ujar Dedi di kantornya, Kamis, 4 Juli lalu. Kepada wartawan Tempo, Hussein Abri Dongoran, Raymundus Rikang, dan Devy Ernis, Dedi menceritakan proses pencarian pelaku penembakan hingga menjawab tudingan pegiat hak asasi manusia bahwa Polri melanggar hak asasi manusia dalam penanganan kerusuhan.

 

Kenapa polisi belum bisa menemukan pelaku penembakan?

Ini makin sulit dibandingkan dengan menetapkan 447 tersangka yang proses pembuktiannya konvensional, yang barang bukti dan saksinya melekat dalam peristiwa perusakan. Dalam pengembangan, kami melakukan pembuktian secara digital, seperti memeriksa lebih dari 700 CCTV dan 400 foto serta video dan menganalisis letupan senjata api. Penyidik juga sudah melakukan uji balistik.

Apa hasilnya?

Berdasarkan hasil uji balistik terhadap peluru yang bersarang di dua korban, ada tiga jenis senjata yang bisa menggunakan peluru tersebut, yakni kaliber 5,56 milimeter untuk senjata jenis AK atau AR-15 serta 9 milimeter untuk senjata Glock 42. Sedangkan dari CCTV dan video, kami mencurigai seseorang berambut gondrong yang menembak Harun Al Rasyid dari jarak di bawah 10 meter.

Polisi menggunakan jenis senjata yang teridentifikasi?

Kami gunakan jenis AK dan AR-15 dan itu dimiliki Brimob. Kami sudah memeriksa 147 pucuk senjata dan hasilnya non-identik dengan peluru yang bersarang. Glock 42 tidak kami gunakan.

Siapa yang biasa menggunakan Glock 42?

Itu senjata pribadi untuk bela diri. Bisa dimiliki siapa saja, bukan hanya TNI-Polri.

Bagaimana dengan jenis senjata pada tujuh korban tewas lain?

Itu juga dilakukan dengan peluru tajam. Tapi, untuk kaliber peluru dan jenis senjatanya, kami belum bisa memastikan karena tidak dilakukan bedah mayat.

Polisi menyebut sepuluh orang yang tewas di seluruh Indonesia ini sebagai perusuh. Padahal beberapa di antaranya masih remaja dan pelajar….

Patut diduga perusuh karena sebagian besar mayat ditemukan di lokasi itu.

Kalau disebut perusuh, kenapa polisi memberikan uang kepada keluarga? Dan juga meminta salah satu keluarga meneken surat agar tidak menuntut kematian anaknya?

Saya belum dengar. Tapi, kalau untuk memberikan uang, itu hal yang lazim sebagai bentuk belasungkawa dan meringankan beban keluarga. Sedangkan untuk meneken surat, itu tidak lazim dilakukan.

Sejumlah lembaga masyarakat sipil menyebutkan polisi melakukan pelanggaran hak asasi manusia dalam penanganan peristiwa 21-22 Mei. Tanggapan Anda?

Jauh sebelum kejadian, kami sudah mengingatkan masyarakat bakal terjadi kerusuhan, martir, dan korban. Aparat hukum juga melakukan langkah mitigasi supaya tidak terjadi peristiwa seperti tahun 1998, karena ada desain seperti itu. Kalau kami tidak melakukannya kepada perusuh, kerusuhan bisa meluas dan tidak hanya terjadi di Petamburan. Silakan Komnas HAM yang menilai jika ada pelanggaran hak asasi manusia.

Kami menemukan saksi mata yang tidak terlibat dibawa petugas. Salah tangkap?

Secara visual, yang terlihat langsung oleh petugas di kerumunan massa itu dibawa dan diperiksa. Itu spontan, sifatnya sporadis, dan dijaring saja oleh petugas lapangan. Lalu penyidik pilah-pilah. Kalau enggak cukup bukti, dikeluarkan. Kalau terlibat, diamankan. Salah tangkap itu mungkin.

Temuan kami, salah satu saksi yang tak terlibat kerusuhan ditangkap karena badannya bertato. Tato sebagai salah satu alat identifikasi pelaku kerusuhan?

Iya. Itu secara spontan, visual petugas, dan dia berada di tempat yang mencurigakan.

Kami menemukan ada saksi yang mengalami kekerasan karena dipaksa petugas mengaku sebagai perusuh….

Kalau penyidikan yang dilakukan oleh sekian ratus orang, itu kecil kemungkinan. Kalau global, tidak tertutup kemungkinan. Seperti penindakan sepuluh anggota Brimob kepada Marcus dan Andri Bibir. Peran kedua orang itu memasok batu dan minuman kepada perusuh.

Anggota Brimob yang melakukan kekerasan dijatuhi sanksi?

Sudah terbukti melakukan kekerasan dan diberi hukuman disiplin: kurungan 21 hari dan ditunda kenaikan pangkatnya.



Laporan Utama 7/7

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.