Kado Pahit KPK untuk Jaksa - Hukum - majalah.tempo.co

Hukum 1/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Kado Pahit KPK untuk Jaksa


Tim Komisi Pemberantasan Korupsi menangkap jaksa Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta yang diduga menerima suap pengaturan tuntutan perkara penipuan investasi. Ada upaya merintangi penyidikan. Anak Jaksa Agung terseret.

Linda Novi Trianita

Edisi : 6 Juli 2019
i Agus Winoto setelah menjalani pemerik­sa­an di gedung KPK, Jakarta, 29 Juni lalu./ ANTARA/Dhemas Reviyanto
Agus Winoto setelah menjalani pemerik­sa­an di gedung KPK, Jakarta, 29 Juni lalu./ ANTARA/Dhemas Reviyanto

 

Empat anggota tim penindak-an Komisi Pemberantasan Korupsi bertandang ke kantor Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta di Jalan HR. Rasuna Said, Ku-ningan, Jakarta Selatan, seusai salat Jumat, 28 Juni lalu. Disambut salah satu anggota staf jaksa, tim itu menyampaikan ingin bertemu dengan Kepala Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta Warih Sadono. “Yang menemui asisten saya dulu. Tapi, katanya, ingin ketemu saya langsung karena ada satu hal yang ingin disampaikan,” ujar Warih kepa-da Tempo, Jumat, 5 Juli lalu.

Di ruang tamu lantai satu, empat orang itu diterima Warih dan menyampaikan ada jaksa yang diduga telah menerima suap. Pegawai KPK juga menunjukkan foto jaksa yang dimaksud. Namun mereka belum menyebutkan perbuatan pidananya. “Oke, serahkan kepada saya. Akan saya tangani. Kalian boleh awasi saya,” ujar Warih kepada tim KPK tersebut.

Warih langsung menelepon Wakil Ketua KPK Alexander Marwata minta menangani kasus anak buahnya. “Pak Alex sudah setuju ditangani kami,” kata mantan -Deputi Penindakan KPK itu. Warih tak lupa menyampaikan kabar itu kepada atasannya, Jaksa Agung Muhammad Prasetyo.

Prasetyo geram mendapat laporan itu. Ia tak terima atas penangkapan tersebut. Sejumlah orang dekatnya mengatakan politikus Partai NasDem itu marah, antara lain, karena penangkapan KPK mencoreng -korps jaksa, yang akan merayakan hari jadinya pada 22 Juli nanti. Dimintai konfirmasi soal ini, Prasetyo irit berkomentar. “Tanya Warih saja,” ujarnya.

Setelah melapor ke Jaksa Agung, -Warih berkomunikasi dengan pelaksana tugas De-puti Penindakan KPK, R.Z. Panca Putra Simanjuntak, dan Direktur Penuntutan KPK Fitroh Rohcahyanto. Ia membujuk mereka agar kejaksaan saja yang menangani kasus itu. “Saya bilang pimpinan sudah setuju dan dia akan meluncur ke sini. Oke, saya tunggu,” ucapnya.

Saat Panca Putra dan Fitroh ditunggu, anggota KPK lainnya membawa Kepala Subseksi Penuntutan Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta Yadi Herdianto ke ruang tamu itu. Yadi sebelumnya ditangkap KPK tepat di depan kantor Kejaksaan Tinggi. KPK juga mengamankan duit Sin$ 8.100 dari Yadi. “Orang itu yang ada di foto, tapi -namanya bukan yang disebutkan di awal, beda jauh,” kata Warih.

Di tengah ketegangan setelah penangkap-an Yadi, tiba-tiba rombongan KPK yang sudah di ruang tamu tersebut berlari ke lantai 3 gedung sebelah. Mereka menuju ruangan Asisten Bidang Tindak Pidana Umum Agus Winoto. Merasa dilangkahi dan gusar, Wa-rih bersama stafnya langsung mengejar rombongan tim penindakan itu. “Menurut saya, itu tidak sopan,” ujar Warih.

Ketika para pegawai KPK berada di dalam kantor Asisten Bidang Tindak Pidana Umum, Warih sengaja duduk di tengah-tengah pintu, yang menghalangi ruang gerak. Agus tak ada di ruangannya. Rombong-an Panca kemudian tiba di sana.

Tim KPK menguntit Yadi sejak di Mall of Indonesia, Kelapa Gading, Jakarta Utara, pukul 12.00. Di pusat belanja itu, Yadi menerima duit pecahan seratus ribu sejumlah Rp 200 juta dari Sendy Perico dan pengacaranya, Alvin Suherman. Uang yang diantar adik Alvin, Ruskian Suherman, itu dibungkus kantong kresek hitam. Di sana juga ada Sukiman Sugita, pengacara Hary Suwanda, yang membawa surat kesepakatan damai.

Sendy adalah korban kasus penipuan investasi valuta asing Rp 11 miliar. Dia melaporkan para penipunya, Hary Suwanda dan Raymond Rawung, ke Direktorat Kriminal Umum Kepolisian Daerah Metro Jaya. Setelah penyidikan rampung, berkas perkara Hary dan Raymond dilimpahkan ke Kejaksaan Tinggi Jakarta.

Karena tindak pidana ini terjadi di Jakarta Barat, Kejaksaan Tinggi melakukan registrasi perkara ini ke Kejaksaan Negeri Jakarta Barat. Koordinator jaksa penuntut umumnya ditunjuk dari Kejaksaan Tinggi, yakni Arih Wira Suranta, dibantu jaksa Kejaksaan Negeri Jakarta Barat. Sidang digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Barat sejak akhir Maret lalu. Hary dan Raymond didakwa pasal penipuan, penggelapan, dan pencucian uang. Ancaman hukumannya 20 tahun penjara.

Menurut seorang penegak hukum, pasal pencucian uang dipesan pelapor kasus ini, Sendy Perico, kepada jaksa Arih Wira Suranta. Tujuannya adalah mengancam Hary dan Raymond, yang tak kunjung mengembalikan uang Sendy Rp 11 miliar. “Sendy diduga memberikan uang kepada Arih seki-tar Rp 250 juta,” ujar penegak hukum tersebut.

Menurut penegak hukum itu, Arih harus mendapat persetujuan Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Barat Bayu Adhinugroho Arianto untuk memasukkan pasal pencucian uang. Begitu juga, kata dia, ketika pasal itu dihilangkan dari tuntutan dengan dalil dianggap tak terbukti. “Setelah disetujui Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Barat, naik ke petinggi Kejati,” katanya.

Di tengah persidangan, Hary dan Raymond sepakat berdamai dengan Sendy pada 22 Mei lalu. Terdakwa membuat surat perjanjian akan melunasi duit Rp 11 miliar. Untuk tahap pertama, terdakwa sudah memberikan Rp 5 miliar. Sebagai kompensasinya, Sendy bakal meringankan tuntutan untuk Hary dan Raymond.

Penentuan rencana penuntutan ini berjenjang. Awalnya, besaran tuntutan diusulkan jaksa yang menangani perkara, kemudian disetujui Bayu Adhinugroho. Karena perkara asalnya di Kejaksaan Tinggi DKI, diteruskan lagi ke kepala kejaksaan tinggi tersebut melalui Asisten Tindak Pidana Umum Agus Winoto. Namun ternyata Arih mendapat promosi sebagai Kepala Subbagian Pembinaan Kejaksaan Negeri Gianyar per 18 Mei lalu.

Barang bukti operasi tangkap tangan jaksa Kejaksaan Tinggi DKI berupa uang Rp 200 juta, Sin$ 20.874, dan US$ 700, di gedung KPK, Jakarta, Juni 2019.

Karena itu, Sendy dan Alvin meminta bantuan Tjhun Tje Ming, orang yang dianggap mempunyai akses ke pejabat Kejaksaan Tinggi DKI. Melalui Tjhun, Sendy dihubungkan ke Kepala Seksi Keamanan Negara dan Ketertiban Umum Tindak Pidana Umum Lain Kejaksaan Tinggi DKI Yuniar Sinar Pamungkas. Berdasarkan info dari Yuniar, Sendy tahu bahwa Kejaksaan Negeri Jakarta Barat akan menuntut Hary dan Raymond dua tahun penjara. Pasal pencucian uangnya dihilangkan alias dianggap tidak terbukti.

Lewat Tjhun lagi, Sendy dan Alvin meminta tolong Yuniar menyampaikan ke Agus Winoto agar tuntutan Hary dan Raymond menjadi satu tahun penjara saja. “Agus yang meminta Rp 200 juta,” kata penegak hukum itu.

Yuniar kemudian menyuruh jaksa Yadi menemui Sendy, Alvin, dan pengacara Sukiman Sugita, di Mall of Indonesia, Kelapa Gading, Jakarta Utara, untuk mengambil uang tadi. Yadi memberikan duit itu ke Yuniar, yang selanjutnya diserahkan ke Aspidum Agus Winoto.

Berdasarkan info dari Yadi, tim KPK mengejar Yuniar, yang sudah berada di Bandar Udara Halim Perdanakusuma se-telah menyerahkan duit itu kepada Agus. Ketika sedang menunggu -penerbangannya ke Yogyakarta, Yuniar diciduk tim penindakan KPK. Mereka sempat bersitegang karena Yuniar enggan menyerahkan tas yang dibawanya.

Belakangan, diketahui tas itu berisi duit Sin$ 20.874 dan US$ 700. Pada saat yang bersamaan, tim intel Kejaksaan Tinggi DKI juga berada di bandara dan meminta KPK membawa Yuniar ke kejaksaan. Secara paralel, tim KPK lainnya menangkap Sukiman, Ruskian, dan Alvin di dua lokasi. Ketiganya diperiksa di gedung komisi antikorupsi.

Adapun Agus dibawa Jaksa Agung Muda Intelijen Kejaksaan Agung Jan S. Maringka ke kantornya. Panca pun lantas menuju markas Kejaksaan Agung pada Jumat malam. Mereka bernegosiasi agar Agus diserahkan ke KPK.

Warih mengatakan Agus akhirnya diantar Jan ke KPK pada pukul 1 dinihari, Sabtu, 29 Juni lalu. Setelah Agus menyerahkan diri, tim KPK membawanya ke kantor Kejaksaan Tinggi DKI untuk mengambil uang Rp 200 juta itu. Agus menunjukkan uang yang disimpan di mobilnya itu, tapi hanya tersisa Rp 150 juta. Agus pun menyuruh tim KPK mengambil uang sisanya, Rp 50 juta dalam pecahan 50 ribu, di salah satu ruang khusus yang menjadi satu dengan ruangannya di lantai 3. “Dia sempat mengaku uang Rp 50 juta bagian dari Rp 200 juta dikasihkan ke pihak lain,” ujar seorang penegak hukum.

Adapun Warih yang sedari Jumat sore di KPK mengantar Yadi dan Yuniar masih berupaya melobi pemimpin KPK agar bisa menangani kasus ini. Bahkan Warih juga membawa tim penyidik, laptop, printer, serta mobil tahanan. Upaya Warih ini pun disampaikan para jaksa yang bertugas di KPK kepada pimpinan lembaga antirasuah itu saat gelar perkara pada Sabtu siang.

Dua dari tiga pemimpin KPK yang hadir sempat menyetujui kasus ini ditangani kejaksaan. Namun satu pe--mimpin lain membe-ri-kan pertimbangan bah-wa kasus ini tetap dita-ngani lembaganya agar tak menimbulkan kecurigaan publik. Dalam forum ekspose itu, akhirnya KPK sepakat menetapkan tiga tersangka, yakni Sendy dan Alvin sebagai pemberi suap serta Agus sebagai penerima suap. Adapun Yuniar dan Yadi dikembalikan ke kejaksaan lantaran hanya disuruh dan tak berperan dalam perkara ini. “Mereka kami proses di pengawasan, dan terindikasi menyalahi kode etik,” kata Jan Marinka.

Demi Tuntutan Ringan

Ihwal duit Sin$ 20 ribu yang ditemukan pada Yuniar dan Sin$ 800 dari Yadi tak ada hubungannya dengan perkara Sendy Perico. Menurut Yuniar kepada penyidik, duit itu sogokan dari perkara judi yang sedang dia tangani. Sedangkan duit pecahan dolar Amerika Serikat dia terima dari Agus setelah penyerahan Rp 200 juta itu.

Pelaksana tugas Deputi Penindakan KPK, R.Z. Panca Putra Simanjuntak, enggan berkomentar soal kesepakatan kasus ini yang awalnya diserahkan ke Kejaksaan Agung. “Terkait hal tersebut sebaiknya bisa dikonfirmasi ke juru bicara KPK,” ujar Panca.

Juru bicara KPK, Febri Diansyah, mengatakan keputusan soal kasus tersebut diambil pada forum gelar perkara yang dilakukan pada Sabtu siang itu. “Dari gelar perkara tersebut, diputuskan kasusnya naik ke penyidikan dan ditangani KPK,” tuturnya. Mengenai status Arih, Febri belum bisa blakblakan.

Tempo mendatangi kantor Kejaksaan Negeri Gianyar untuk meminta konfirmasi kepada jaksa Arih. Menurut Kepala Seksi Intel Kejaksaan Negeri Gianyar Felly Kasdi, Arih sedang tidak berada di kantor. “Kasusnya sedang didalami Kejaksaan Agung,” kata Felly.

Dua kali Tempo mencoba meminta konfirmasi seputar proses penuntutan perkara yang dipimpin Arih ini kepada Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Barat Bayu Adhi-nugroho dengan mendatangi kantornya sepanjang pekan lalu, tapi sejumlah anggota stafnya menyebutkan ia tak berada di kantor. Warih mengatakan Bayu tidak ada kaitannya dengan kasus tersebut karena itu merupakan perkara Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta. Prasetyo juga menyebutkan anaknya tak ada urusan dengan kasus bos forex tersebut. “Itu kasus yang pegang Kejati,” ujar Prasetyo.

LINDA TRIANITA, ANTON SEPTIAN, MADE ARGAWA (BALI)


Hukum 1/4

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.