Sustyo Iriyono, Direktur Pencegahan dan Pengamanan Hutan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan: Penyelundup Memakai Pelabuhan Tikus - Investigasi - majalah.tempo.co

Investigasi 5/5

Sebelumnya Selanjutnya

Sustyo Iriyono, Direktur Pencegahan dan Pengamanan Hutan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan: Penyelundup Memakai Pelabuhan Tikus


MESKI hukuman penjara lima tahun menanti siapa pun yang memburu dan menjualbelikan tenggiling- (Manis javanica), masih banyak orang yang nekat melanggarnya.

Tempo

Edisi : 6 Juli 2019
i Penyelundup Memakai Pelabuhan Tikus/Tempo
Penyelundup Memakai Pelabuhan Tikus/Tempo

Sepanjang 2015-2019, Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menggagalkan 13 transaksi perdagangan tenggiling dengan barang bukti 67 kilogram sisik, 1.840 individu mati, dan 17 ekor yang masih hidup.

Terakhir, pada Juni lalu, tim Kementerian bersama polisi menciduk Kabul, pengepul sisik tenggiling sebanyak 28 kilogram di Semarang. Sisik itu hendak diselundupkan ke Cina melalui perbatasan Kalimantan-Malaysia. Di Negeri Tiongkok, sisik tenggiling menjadi bahan dasar obat tradisional. “Banyak juga untuk bahan dasar obat psikotropika,” kata Direktur Pencegah-an dan Pengamanan Hutan Sustyo Iriyono kepada Tempo pada 13 Juni lalu.

 


 

Permintaan paling banyak datang dari luar negeri, seperti Cina, Hong Kong, dan Vietnam. Di Hong Kong dan Vietnam terkadang hanya transit. Barang itu mereka lempar lagi ke Cina. Negara seperti Indonesia itu hanya sumber bahan baku.

 


Mengapa perburuan tenggiling dilarang?

Hewan itu masuk daftar CITES (Convention on International Trade in En-dangered Species of Wild Fauna and Flora) Appendix 1. Konvensi internasional ini melarang tenggiling diperdagangkan. Di Indonesia, tenggiling termasuk hewan yang dilindungi negara karena penyeimbang ekosistem.

Kenapa banyak diburu?

Banyaknya permintaan. Sebagian dimanfaatkan untuk bahan pangan. Di Cina, masyarakatnya meyakini daging tenggi-ling berguna untuk kesehatan. Ada juga yang mengolahnya sebagai bahan campuran obat tradisional dan psikotropika. Sisik tenggiling mengandung tramadol HCl, senyawa pengikat amfemetamin. Karena itu, harganya mahal.

Berapa harga di tiap level?

Daging tenggiling di level tengkulak seharga US$ 1.200 per kilogram, sisiknya US$ 3.000 per kilogram. Tapi, sekarang, beberapa negara pengimpor, seperti Hong Kong, mulai mengkampanyekan budaya tidak memakan daging hewan-hewan yang dilindungi. Strategi kampanye itu lumayan efektif. Rumah makan yang biasa menjual makanan jenis itu banyak merugi karena menurunnya permintaan.

Siapa saja pemburu hewan ini?

Sindikat yang beroperasi di Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Perburuan mereka makin masif saat peralihan musim hujan ke panas. Ini adalah fase ketika banyak daun meranggas, yang mengundang populasi semut. Saat itulah tenggiling ke luar sarang. Tapi komoditas asal Indonesia tidak terlalu kompetitif di pasar internasional. Pembeli lebih suka tenggiling asal Afrika karena ukurannya lebih besar.

Pembelinya dari mana?

Permintaan paling banyak datang dari luar negeri, seperti Cina, Hong Kong, dan Vietnam. Di Hong Kong dan Vietnam terkadang hanya transit. Barang itu mereka lempar lagi ke Cina. Negara seperti Indonesia itu hanya sumber bahan baku.

Bagaimana sindikat itu beroperasi?

Modus operasi mereka sangat rapi. Kami menyebutnya dengan istilah sistem MM, memburu dan menampung. Para pemburu biasanya melibatkan penduduk desa. Hasil tangkapan mereka dijual kepada penampung di kota kecil, lalu berpindah tangan kepada penampung di kota besar. Pintu keluar terpantau ada di pelabuhan-pelabuhan ekspor besar, seperti Jakarta, Surabaya, Semarang, dan Medan.

Mengapa tenggiling mudah lolos?

Dulu para penyelundup memakai layan-an kargo pesawat. Setelah banyak terbongkar, mereka mengubah modus pengiriman dengan memanipulasi manifes kontainer kapal. Tenggiling diselundupkan di antara susunan komoditas barang ekspor, seperti cumi kering dan ikan. Ada juga yang lolos pantauan karena keluar dari pelabuhan-pelabuhan tikus yang melibatkan kapal-kapal nelayan.



Investigasi 5/5

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.