Giliran Kampanye Binatang - Arsip - majalah.tempo.co

Arsip 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Giliran Kampanye Binatang


PERBURUAN hewan langka dan dilindungi kian masif di Indonesia kendati kampanye melindunginya dilakukan sejak 1970-an.

Tempo

Edisi : 6 Juli 2019
i Tempo Doeloe
Tempo Doeloe

Di antaranya perburuan tenggiling, seperti direkam artikel Tempo pada 11 Juni 1977. Direktorat Perlindungan dan Pengawetan Alam (PPA), bekerja sama dengan World Wildlife Fund (WWF), berkampanye agar kelestarian alam bisa terus dilindungi di Jakarta dan kota lain.

Jauh sebelum Ancol menjadi Binaria seperti sekarang, pelancong yang bersepeda ke Cilincing selalu bertemu dengan beberapa monyet yang berlarian dari pohon asam ke pohon lain. Kini monyet-monyet itu hilang. Kepala Seksi PPA DKI Jakarta Agus Tobrani juga bercerita, Jakarta sebelum 1940 memiliki banyak jenis burung. Kota ini bahkan menjadi terminal burung yang dari musim ke musim terbang dari utara ke selatan atau sebaliknya. Sekarang, jangankan burung, kupu-kupu saja sulit didapat.

Ibu Kota telah begitu padat dengan hiruk-pikuk, sampai seekor unggas pun enggan bermukim di sini. Hutan, badak, gajah, bahkan burung bisa-bisa nantinya cuma ada dalam buku. Sejajar dengan dinosaurus, atau singa, atau kancil. Kalau hal itu tidak dipikirkan dari sekarang, bisa-bisa pada tahun 2000 nanti anak-cucu Anda akan terheran-heran—seperti penduduk New York—melihat kodok, jangkrik, dan unggas.

Punahnya suatu jenis satwa ataupun tumbuhan akan menyebabkan terganggunya keseimbangan lingkungan hidup umat manusia. Contohnya, punahnya jenis ular pemakan tikus dapat berakibat meledaknya gangguan tikus terhadap tanaman pangan, juga lenyapnya burung pemakan serangga. Seperti juga gunung dan bukit yang diperkosa hutannya mengakibatkan banjir dan tanah longsor. “Karena semua itu, kami bersama PPA akan memulai kampanye betapa pentingnya kelestarian alam,” kata Regina Prey, wanita Swiss yang bekerja untuk WWF.

PPA dan WWF akan menggalakkan program pendidikan kelestarian. Mereka melakukan ini di Medan lewat pertunjukan film, perlombaan melukis binatang, dan penerangan. Di Jakarta, kampanye diawali dengan pelepasan 450 burung—lambang umur DKI yang 450 tahun—pada Pekan Raya (Jakarta Fair) 1977, Juni. PPA dan WWF punya paviliun yang akan dipenuhi foto hutan dan binatang yang dilindungi.

Ada pula perlombaan menggambar salah satu binatang yang disebut dalam cerita yang telah mereka siapkan. Karena perusahaan sepatu Bata turut pula dalam acara ini, mereka yang telah melukis satu binatang (berapa ekor pun boleh) bisa mengirimkan lukisannya ke salah satu toko perusahaan tersebut. Semua orang boleh ikut, asalkan umurnya 7-70 tahun.

Sampai kini telah tercatat 77 macam binatang yang harus dilindungi secara mutlak. Di Sumatera, ada beberapa daerah yang sudah ditetapkan menjadi hutan atau daerah lindungan. Di antaranya sekitar Gunung Leuser, Berbak (Sumatera tengah), yang akan dikhususkan sebagai hutan untuk harimau. Ujung Kulon, Blauran, dan Meru Betiri (dua yang terakhir di Jawa Timur) sejak dulu dijadikan cagar alam untuk binatang seperti badak bercula satu, menjangan, dan unggas. Di Kalimantan, ada cagar alam untuk orang utan.

Bukan pekerjaan yang mudah. Bagaimana hutan yang luas itu bisa dijaga (dengan biaya cukup, padahal badan seperti ini biasanya kering) kalau penduduk atau pejabat tidak punya kesadaran. Regina Prey, di Medan dan Aceh, selalu kecewa melihat pejabat tinggi punya binatang piaraan bukan kucing, ayam, atau anjing, melainkan salah satu jenis satwa yang hampir punah. “Binatang bukan dibunuh karena tidak ada lagi makanan,” ujar Regina Prey. “Tapi ditangkap hanya sebagai pelampiasan hobi dan mencari untung.”

Di kota-kota besar, rumah pejabat tinggi kebanyakan dilengkapi binatang yang dikeringkan taksidermis, seperti macan, biawak, atau kera. Biasanya mereka memperolehnya sebagai hadiah bawahan atau oleh-oleh unik dari daerah yang dikunjungi. Binatang lindungan ini jadilah binatang hobi. Gengsi kalau dipajang di ruang tamu. Kerja PPA dan WWF sudah tentu sulit.

Fosil-fosil yang ditemukan membuktikan umur hutan tersebut lebih dari 60 juta tahun. Diduga ada 11 ribu jenis pohon dan semak yang tumbuh berebut sinar matahari. Hutan daerah tropis terkenal padat dan rapat. Konon, ada 1.000 jenis anggrek di sini. Jenis kumbang baru diketahui sebanyak 2.000 jenis. Lalu ada 200 jenis binatang menyusui, 600 jenis burung, dan 10.000 jenis hewan yang tidak bertulang belakang. Hutan hujan tropis tidak mengenal musim. Secara teratur, kehangatan dan kelembapan memberi tanda agar tanaman berkembang dan berbuah beberapa kali dalam setahun.

 


 

Artikel lengkap terdapat dalam Tempo edisi  27 Maret 1993. Dapatkan arsip digitalnya di:

https://majalah.tempo.co/edisi/1342/1993-03-27



Arsip 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.