Pilihan Pahit demi Memulihkan Pertumbuhan - Ekonomi dan Bisnis - majalah.tempo.co

Ekonomi dan Bisnis 3/3

Sebelumnya Selanjutnya
text

Pilihan Pahit demi Memulihkan Pertumbuhan


Rapor ekonomi Indonesia kuartal I 2019 sudah terbit. Sayangnya, banyak ponten buruk di sana.

Tempo

Edisi : 18 Mei 2019
i Mitsubishi melakukan ekspor perdana mobil Mitsubishi Xpander ke negara Filipina dari fasilitas perakitan di Bekasi, Jawa Barat, Rabu, 25 April 2018.
Mitsubishi melakukan ekspor perdana mobil Mitsubishi Xpander ke negara Filipina dari fasilitas perakitan di Bekasi, Jawa Barat, Rabu, 25 April 2018.

 

Dan, pada saat yang sama, pasar finansial global justru bergejolak. Perang dagang Amerika Serikat-Cina berkecamuk dan konflik Amerika-Iran memanas ke arah perang terbuka.

Secara tahunan, pada akhir kuartal I 2019 (April 2018-Maret 2019) ekonomi memang masih tumbuh 5,07 persen, naik tipis dibanding 5,06 persen pada periode yang sama tahun lalu. Tapi ada siklus negatif yang muncul. Ekonomi kita selama kuartal pertama (Januari-Maret) malah mengerut. Selama tiga bulan pertama 2019, produk domestik bruto Indonesia menyusut 0,52 persen, lebih buruk ketimbang periode yang sama pada 2018 yang merosot 0,41 persen. Siklus pertumbuhan negatif selama kuartal pertama sudah berlangsung sejak 2015 pada periode pertama pemerintah Presiden Joko Widodo.

Lesunya ekonomi pada kuartal I 2019 tak lepas dari merosotnya ekspor. Berdasarkan catatan Bank Indonesia, penerimaan ekspor kuartal I 2019 sebesar US$ 40,5 miliar, merosot 8,8 persen dibanding penerimaan kuartal I 2018. Walhasil, beban defisit neraca transaksi berjalan Indonesia selama kuartal I 2019 juga makin berat, US$ 6,97 miliar, jauh lebih besar ketimbang defisit selama kuartal I 2018 yang sebesar US$ 5,2 miliar.

Beban defisit ini, yang berarti penerimaan dolar Indonesia dari semua transaksi barang dan jasa lebih kecil ketimbang pengeluarannya, naga-naganya akan terus membesar. Gelagat itu sudah teraba pada neraca dagang, belum termasuk jasa, selama April 2019. Ada defisit US$ 2,5 miliar. Ini rekor defisit bulanan terbesar sepanjang sejarah sejak Indonesia mulai mengompilasi data ekspor pada akhir 1950-an.

Dalam kondisi yang cukup berat inilah Indonesia harus menghadapi lingkungan global yang kian tidak ramah. Yang langsung terkena pukulan cukup berat adalah bursa saham. Indeks harga saham gabungan langsung merosot 6,16 persen hanya dalam sepekan terakhir hingga Jumat, 17 Mei lalu. Dana asing yang tadinya masih mengalir deras kendati ada penolakan hasil pemilihan umum oleh kubu Prabowo Subianto berbalik arah mengalir keluar senilai Rp 3,63 triliun pada waktu yang sama.

Nilai tukar rupiah pun ikut tertekan. Tepat sebulan sejak pemilu, per Jumat, 17 Mei, nilai rupiah mencoba bertahan di kisaran 14.480 per dolar Amerika Serikat. Jika dihitung sejak pemilu, nilai rupiah terhadap dolar Amerika sudah merosot 2,9 persen. Mengingat situasi pasar global yang begitu rentan, tekanan pada rupiah belum akan mereda.

Kurs

Tekanan pada ekonomi Indonesia juga tampak dari kenaikan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah RI yang menjadi acuan pasar. Sehari setelah pemilu, yield masih 7,58 persen. Per Jumat, 17 Mei, tepat sebulan kemudian, investor sudah menuntut imbal hasil 8,01 persen. Kenaikan dalam tempo singkat ini menandakan kian pesimistisnya persepsi investor terhadap Indonesia.

Dalam keadaan begini, otoritas ekonomi harus lebih realistis mengambil pilihan: berusaha mempertahankan rupiah atau mengupayakan pertumbuhan. Misalnya bagaimana BI menetapkan tingkat bunga rujukannya. Jika BI menaikkan bunga, ada kemungkinan tekanan pada rupiah dapat tertahan. Konsekuensinya, perputaran roda ekonomi tertahan oleh tingginya bunga.

Maka keputusan Dewan Gubernur BI menahan BI 7-Day Reverse Repo Rate tetap 6 persen merupakan sinyal jelas. Menaikkan bunga bakal sia-sia karena tak mampu menolong rupiah. Apalagi akibatnya malah mengorbankan pertumbuhan. Tapi kebijakan moneter semata tak akan mampu memulihkan kebugaran pertumbuhan ekonomi. Di tengah gejolak politik, pemerintah seharusnya tetap berani mengambil kebijakan yang drastis sekali pun agar ekonomi RI mampu menghadapi gejolak global yang kian mencemaskan.

 


 

Peringkat Kredit Indonesia

​Standard & Poor's

Rating ​BBB-      Outlook​ Stable

Fitch Ratings

​Rating BBB     Outlook Stable

Moody's Investor Service ​

Rating Baa2     Outlook ​Stable

Japan Credit Rating Agency

Rating ​BBB     Outlook ​​Stable



Ekonomi dan Bisnis 3/3

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.