Gen Pembawa Harapan - Laporan Khusus - majalah.tempo.co

Laporan Khusus 8/13

Sebelumnya Selanjutnya
text

Gen Pembawa Harapan


Terseok-seok pada tahun pertama kuliah doktoral, Korri Elvanita El Khobar menemukan terobosan penting dalam dunia medis. Sempat dihinggapi frustrasi.

Tempo

Edisi : 18 Mei 2019
i Korri Elvanita El Khobar/TEMPO/M Taufan Rengganis
Korri Elvanita El Khobar/TEMPO/M Taufan Rengganis

 

Korri Elvanita El Khobar, penemu deteksi dini kanker hati melalui metode gen

 

Jika saja memutuskan menyerah karena proposal penelitiannya terus ditolak, Korri Elvanita El Khobar tak akan menemukan metode deteksi kanker hati yang efektif. Pada tahun pertama kuliah doktoralnya di University of Sydney, Australia, ia mengganti usul penelitiannya hingga tiga kali. “Pada tahun pertama, saya hampir tidak pergi ke laboratorium sama sekali,” kata Korri, Senin, 29 April lalu.

Ketika mulai kuliah pada 2014, Korri datang membawa usul penelitian kaitan lemak di hati penderita hepatitis C dengan penyakit tersebut. Ia menyangka infeksi penyakit tersebut bisa menimbulkan kumulasi lemak di hati. Penelitian tersebut mandek karena reagen yang dibutuhkan tak diperoleh.

Peneliti dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman itu sempat dihinggapi frustrasi. Tapi ia teringat bahwa beasiswa kedokteran dari University of Sydney International Scholarship yang diperolehnya bisa dicabut jika kuliahnya melewati batas waktu. Korri tinggal punya sekitar tiga setengah tahun lagi untuk menyelesaikan studi.

Maka ia pun membaca lebih banyak buku. Ia juga menjadi lebih kerap berdiskusi dengan profesornya dan meminta wejangan. Dari hasil diskusi tersebut, akhirnya Korri menemukan ide penelitian baru. Ia ingin melihat bagaimana suatu gen atau protein mengalami perubahan pada seseorang yang terinfeksi virus hepatitis C. “Jadi proposal penelitian saya ingin melihat bukan hanya ekspresi genetiknya, tapi juga ekspresi epigenetiknya,” ujar perempuan 34 tahun ini.


Sebelumnya, untuk mengetahui seseorang mengidap kanker hati, diperlukan tes laboratorium dengan memeriksa protein dalam darah, yaitu alpha-fetoprotein. “Setidaknya harus rutin cek darah minimal enam bulan sekali,” ujar Korri. Metode lain adalah biopsi atau ultrasound. Hanya, sejumlah pasien enggan mencoba metode itu.


Selama beberapa bulan Korri meneliti protein pada sel yang terinfeksi virus hepatitis C dan yang tidak. Dia kemudian menemukan sebuah gen, yakni polo-like kinase 1 (PLK1), yang mengalami lebih banyak perubahan pada pasien yang terkena kanker hati. Setelah diteliti lebih jauh, rupanya PLK1 tak hanya terkait dengan virus hepatitis C, tapi juga dengan hepatitis B. “Saya jadi punya ide, mungkin kita bisa menggunakan gen ini untuk mendeteksi dini kanker hati, bukan  hanya untuk penderita hepatitis C, tapi juga hepatitis B,” katanya.

Selama ini kanker hati sulit dideteksi dini. Ketua Umum Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia Irsan Hasan mengatakan kesulitan itu terjadi karena penyakit tersebut tak memiliki gejala khusus. Biasanya pasien baru tahu mengidap kanker hati ketika sudah muncul gejala klinis seperti mual, muntah, dan sakit kuning. “Mereka biasanya datang ke dokter setelah mengalami infeksi kronis,” ucap Irsan.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan Wiendra Waworuntu menyebutkan, jika tak diobati sejak awal, penderita hepatitis B dan C berpotensi menjadi pengidap kanker hati. Tingkat kemungkinannya 50-70 persen. “Jika tak tanggap, nyawa taruhannya,” ujarnya.

Berdasarkan data Badan Kesehatan Dunia (WHO), pada 2018 terdapat 18,1 juta kasus kanker baru dan 9,6 juta kematian akibat kanker. Kanker hati menempati posisi keempat kanker paling mematikan. Sebanyak 782 ribu orang meninggal akibat kanker hati. Di urutan pertama, kanker paru-paru merenggut 1,76 juta nyawa, diikuti kanker usus (862 ribu kematian) dan kanker perut (783 ribu kematian).

Agar bisa diimplementasikan, hasil penelitian Korri mesti dikembangkan lagi. Sekalipun temuan tersebut masih dalam tahap awal, Deputi Direktur Bidang Riset Translasional Lembaga Biologi Molekuler Eijkman David Handojo Muljono mengatakan penelitian Korri memberikan harapan baru untuk dunia medis, khususnya bagi penderita hepatitis.

Korri Elvanita El Khobar di gedung Lembaga Eijkman, Jakarta, 29 April 2019./TEMPO/M Taufan Rengganis

David berharap temuan Korri disambut dengan penelitian lebih lanjut supaya bisa segera diterapkan. “Harapan itu dibawa seorang ahli dari Indonesia sehingga pengobatan dapat dilakukan dini,” tuturnya. Setelah ditemukannya metode pemeriksaan melalui gen ini, deteksi dini diharapkan lebih efektif dan efisien dengan cara mengecek darah dan melihat perubahan gen PLK1.

Sebelumnya, untuk mengetahui seseorang mengidap kanker hati, diperlukan tes laboratorium dengan memeriksa protein dalam darah, yaitu alpha-fetoprotein. “Setidaknya harus rutin cek darah minimal enam bulan sekali,” ujar Korri. Metode lain adalah biopsi atau ultrasound. Hanya, sejumlah pasien enggan mencoba metode itu.

Di balik penemuannya, Korri ternyata tak pernah bercita-cita menjadi peneliti. Sebelum mulai kuliah di jurusan biologi Universitas Indonesia pada 2006, ia ingin menjadi dokter. Nasib kemudian membawanya ke Eijkman selepas lulus dari UI. Ia menjadi asisten peneliti di unit laboratorium hepatitis. Tiga tahun kemudian, ia melanjutkan studi di University of Melbourne, Australia. Tesisnya tentang mekanisme patogenesis dan fibrogenesis pada infeksi virus hepatitis C.

Penelitian tentang hepatitis berlanjut. Pada 2012, Korri mendapat beasiswa riset kanker hati akibat virus hepatitis B di Liver Research Centre, Trieste, Italia, selama enam bulan. Lima tahun berselang, hasil risetnya mengenai gen PLK1 dipaparkan dalam Westmead Hospital Week di Australia. Meski terseok-seok pada tahun pertama, Korri menyelesaikan studi doktoralnya dalam tiga setengah tahun.

Menurut Korri, keberhasilannya tak lepas dari dukungan orang tua. “Meski dulu ibu saya ingin saya menjadi pegawai negeri, beliau mendukung karier saya sekarang,” katanya. Sang ibu, Wartaty Djamin, pensiunan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, bahkan sempat mempertanyakan rencana studi S-3 anaknya. Ia khawatir Korri bakal telat menikah jika bersekolah terlalu tinggi. “Namanya seorang ibu kan ingin yang terbaik buat anaknya,” tutur Wartaty.

Tapi Korri meyakinkan sang ibu tentang pilihan hidupnya. Saat bersekolah S-3 di Australia, Korri pun bertemu dengan pria yang kemudian menjadi suaminya. Kini Wartaty bangga atas jalan yang dipilih anaknya. “Tak pernah terpikir anak saya menjadi peneliti dan menghasilkan temuan penting,” ucap perempuan 67 tahun ini.

 


 

Korri Elvanita El Khobar

Tempat dan tanggal lahir:

Jakarta, 19 September 1984

Pendidikan:

S-3 University of Sydney, Australia (2018); S-2 University of Melbourne, Australia (2012); S-1 Universitas Indonesia, Jakarta (2006)

Pekerjaan:

Peneliti di Lembaga Biologi Molekuler Eijkman

Penghargaan:

Juara pertama presentasi dalam acara pertemuan Persatuan Peneliti Hati Indonesia di Jakarta, 2019; Pemenang L’Oréal-UNESCO for Women in Science, 2018; Presentasi terbaik dalam konferensi internasional Eijkman ke-5, 2011



Laporan Khusus 8/13

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.