Gelanggang Enam Pejuang - majalah.tempo.co

Laporan Khusus 1/13

Selanjutnya
text

Gelanggang Enam Pejuang


Di tengah pesimisme publik terhadap politik dan pemilu, mereka maju sebagai calon legislator. Rekam jejak mereka memperjuangkan kepentingan publik sudah terbukti. Mereka enam calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang layak dipilih. Dari aktivis buruh, pegiat lingkungan, hingga difabel pejuang hak-hak kelompok terpinggirkan.

Tempo

Edisi : 9 Maret 2019
i Liputan Khusus Calon Legislator Pilihan
Liputan Khusus Calon Legislator Pilihan

HAMPIR 8.000 calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat berlaga dalam Pemilihan Umum 2019. Berasal dari 20 partai dan tersebar di 80 daerah pemilihan, mereka berkompetisi memperebutkan 575 kursi parlemen. Jumlahnya menjadi berlipat-lipat manakala ditambah dengan calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan Dewan Perwakilan Daerah.

Dalam rupa stiker, spanduk, atau baliho, mereka hadir di sudut jalan, pagar, tembok, tiang listrik, hingga kaca-kaca angkutan umum. Mengenakan jas partai atau kostum yang menarik perhatian, semua tampil dengan senyum terbaik, berharap nama dan nomor urut mereka membekas dalam memori pemilih. Seperti lima tahun lalu, para calon legislator pun mencantumkan janji yang kerap mirip satu sama lain. Biasanya dilengkapi slogan setipe, seperti “bersama rakyat” atau “untuk rakyat”.

Di tengah kemungkinan meningkatnya golongan putih alias golput, para calon legislator harus menerima fakta bahwa kepercayaan publik terhadap lembaga legislatif merosot. Hasil survei Transparency International Indonesia pada 2017 menunjukkan 54 persen dari seribu responden menilai DPR sebagai lembaga terkorup, diikuti lembaga birokrasi (50 persen) dan DPRD (47 persen). Ini didukung data anggota DPR yang terjerat kasus korupsi. Berdasarkan catatan Komisi Pemberantasan Korupsi, sudah 18 anggota DPR periode 2014-2019 yang ditahan karena terlibat korupsi.

Kabar baik sempat berembus ketika Komisi Pemilihan Umum membuat terobosan dengan melarang bekas narapidana korupsi masuk daftar calon legislator. Sayangnya, Mahkamah Agung pada September 2018 membatalkan aturan progresif tersebut. Hingga akhir Februari lalu, tercatat 81 kandidat pernah menjadi koruptor.

Pembaca, di tengah pesimisme publik terhadap kondisi politik dan lembaga politik, kami menghadirkan kembali edisi khusus calon anggota DPR pilihan. Pada 2014, kami juga membuat edisi khusus dan menampilkan sebelas kandidat anggota Dewan. Dua di antaranya melenggang ke Senayan, yakni Maman Imanul Haq dari Partai Kebangkitan Bangsa dan Sofyan Tan dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Satu calon lain, I Gusti Agung Putri Astrid Kartika, gagal lolos langsung. Mei tahun lalu, ia dilantik menjadi anggota DPR pergantian antarwaktu.

 


 

Kami meyakini, di antara 8.000 calon, masih ada kandidat berkualitas yang layak menjadi wakil rakyat. Mereka yang betul-betul peduli terhadap berbagai persoalan publik. Mereka yang memiliki tekad kokoh memperbaiki kondisi negeri. Suara mereka sangat mungkin teredam riuh pemilihan presiden yang penuh suara saling hujat.

 


 

Kami meyakini, di antara 8.000 calon, masih ada kandidat berkualitas yang layak menjadi wakil rakyat. Mereka yang betul-betul peduli terhadap berbagai persoalan publik. Mereka yang memiliki tekad kokoh memperbaiki kondisi negeri. Suara mereka sangat mungkin teredam riuh pemilihan presiden yang penuh suara saling hujat.

Maka kami memulai pencarian pada awal Februari. Sebelumnya, kami menetapkan sejumlah kriteria untuk calon yang akan diverifikasi. Pertama, mereka belum pernah menjabat anggota DPR. Kriteria ini penting karena kami ingin memunculkan calon baru yang “belum tercemar” oleh praktik lancung di parlemen. Kedua, mereka memiliki rekam jejak yang nyata, konsisten, dan berarti untuk publik. Rekam jejak ini terkait dengan berbagai isu aktual, seperti toleransi, serta menyangkut kelompok rentan, misalnya perempuan dan difabel. Terakhir, mereka harus bebas dari kasus korupsi.

Kami berdiskusi dengan sejumlah perwakilan lembaga untuk menjaring calon legislator potensial. Mereka adalah Koordinator Penelitian dan Pengembangan Jariungu Teuku Radja Sjahnan, Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi Titi Anggraini, Koordinator Divisi Korupsi Politik Indonesia Corruption Watch Donal Fariz, Direktur Eksekutif Migrant Care Wahyu Susilo, serta Sekretaris Jenderal Koalisi Perempuan Indonesia Dian Kartikasari. Kami juga berkomunikasi dengan sejumlah pegiat lingkungan untuk mencari kandidat yang memenuhi kriteria.

Melalui jejaring Tempo di berbagai daerah, kami melacak keberadaan calon potensial. Mereka kami anggap lebih mengenal calon-calon yang berlaga di daerah pemilihannya. Terakhir, kami juga menemui para petinggi partai politik. Merekalah yang menyusun daftar calon anggota DPR dengan mempertimbangkan kapasitas kandidat yang didaftarkan ke KPU. Ini juga menjadi kesempatan bagi partai untuk menunjukkan kandidat-kandidat terbaik yang mereka ajukan kepada publik.

Dari mereka semua, kami mendapatkan lebih dari 20 nama, baik dari koalisi pendukung Joko Widodo-Amin Ma’ruf maupun Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Kami kemudian menelusuri jejak digital semua calon untuk melihat rekam jejak masing-masing. Nama-nama itu kami bahas dalam rapat internal, yang sering diwarnai perdebatan. Pada tahap ini, sejumlah kandidat gugur. Misalnya ada calon yang kami anggap tidak memenuhi syarat bersih dari isu korupsi karena sangat dekat dengan mantan ketua umum partai yang kini mendekam di penjara Sukamiskin, Jawa Barat.

Setelah melalui pembahasan dan penelusuran sementara, didapatkan sembilan nama potensial. Kami memverifikasi rekam jejak para kandidat itu dengan mewawancarai sejumlah narasumber, menguji berbagai klaim prestasi, dan mengecek langsung ke daerah pemilihan mereka. Pada tahap ini, tiga nama tereliminasi. Satu di antaranya kami coret karena terindikasi tidak bersih.

Pada tahap akhir, kami mendapatkan enam nama yang kami anggap layak menjadi calon legislator pilihan. Kami kemudian mewawancarai mereka untuk memeriksa kembali berbagai kebenaran informasi. Kepada Surya Tjandra dari Partai Solidaritas Indonesia, misalnya, kami menanyakan informasi bahwa dia menerima dana kampanye dari sejumlah pengusaha. Surya membenarkan. Transparansi ini menjadi salah satu faktor penentu masuknya Surya dalam daftar calon.

Melalui situs Jariungu, yang menyimpan basis data rekam jejak para calon, kami mengecek kesediaan mereka mempublikasikan profil. Ini tentu juga terkait dengan persoalan transparansi. Bagaimana seorang anggota DPR bisa transparan jika pada tahap pencalonan saja sudah menyembunyikan berbagai informasi tentang dirinya. Hasil pengecekan di Jariungu menunjukkan dua kandidat tidak membuka profilnya. Bukan karena mereka menolak, tapi entah kenapa profil itu tidak terpublikasi. Mereka kemudian menunjukkan keterbukaan profil melalui media sosial.

Pembaca, kami menganggap enam orang yang kami himpun ini sebagai contoh calon legislator yang layak dipilih pada 17 April nanti. Rekam jejak dan konsistensi mereka dalam memperjuangkan isu hak asasi hingga lingkungan telah berbicara dengan sendirinya.

Walau begitu, tak tertutup kemungkinan mereka memiliki jejak kelam yang luput dari pantauan kami. Dengan waktu yang terbatas, penelusuran kami bisa jadi bercela. Tidak ada jaminan pula bahwa mereka—jika terpilih—akan selalu mendahulukan kepentingan publik di atas perintah partai, dan tak akan terjerumus kasus korupsi.

Kami pun tak menihilkan adanya calon legislator lain yang juga sadik tapi tak terpantau radar. Terhadap calon demikian, kami berharap mereka melaju ke parlemen agar Senayan dipenuhi orang baik.

 


 

Tim Edisi Khusus Calon Legislator Pilihan Tempo 2019

Penanggung Jawab: Anton Septian

Kepala Proyek: Stefanus Pramono

Penulis: Devy Ernis, Erwan Hermawan, Hussein Abri Yusuf, Mahardika Satria Hadi, Raymundus Rikang, Shinta Maharani, Stefanus Pramono | Penyumbang Bahan: Aseanty Pahlevi (Pontianak), Eko Widianto (Malang), Mustafa Silalahi (Jakarta), Shinta Maharani (Yogyakarta), Yohanes Seo (Kupang)

Penyunting: Anton Septian, Bagja Hidayat, Kurniawan, Stefanus Pramono

Periset Foto: Ratih Purnama (Koordinator), Ijar Karim, Jati Mahatmaji

Bahasa: Uu Suhardi, Iyan Bastian, Hardian Putra Pratama

Desain: Djunaedi, Eko Punto Pambudi



Laporan Khusus 1/13

Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.