Saat Yin-Yang Tersambung - Gaya Hidup - majalah.tempo.co

Gaya Hidup 1/2

Sebelumnya Selanjutnya
text

Saat Yin-Yang Tersambung


Teknik self-healing atau swaterapi makin diminati dalam beberapa tahun terakhir. Menyembuhkan bermacam penyakit dengan kecerdasan tubuh.

Nur Alfiyah BT Tarkhadi

Edisi : 2 Maret 2019
i Pengajar meditasi Cindy Gozali di The Golden Space, Jakarta, November 2018./TEMPO/Muhammad Hidayat
Pengajar meditasi Cindy Gozali di The Golden Space, Jakarta, November 2018./TEMPO/Muhammad Hidayat

Titiek Puspa menegakkan duduknya di atas sofa. Ia merapikan kakinya, menaruh tangan di atas paha, melipat lidah ke belakang, mengunci mulut, lalu menutup mata. Ia menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya perlahan.

Biduanita senior itu bersemadi. Ia rutin menjalani ritual itu delapan tahun belakangan. Lewat meditasi tersebut, ia mengobati kanker yang menjalar di rahimnya. “Dulu saya meditasi 13 hari, kanker saya bersih,” kata Titiek, 81 tahun, saat ditemui di kediamannya di Jakarta Selatan, Rabu dua pekan lalu.

Dokter memvonis Titiek menderita kanker stadium awal, delapan tahun lalu. Pelantun tembang Kupu-kupu Malam dan Bimbi itu langsung terbang ke Singapura begitu tahu penyakit ganas tersebut tumbuh di tubuhnya. Namun bukannya menyusut, kanker itu malah menggendut. Nyeri yang awalnya berdenyut di area rahim dan genitalianya menjalar ke sekujur badan.

Setelah Titiek menjalani terapi selama dua setengah bulan, dokter mengatakan kankernya hampir masuk stadium III. “Saya pikir dengan tinggal di sana bisa sembuh. Ini malah tambah sakit, tambah sakit, tambah sakit, sampai akhirnya saya enggak kuat,” ujar penerima penghargaan Lifetime Achievement dalam Indonesian Choice Awards 2018 ini.

Penyanyi senior Titiek Puspa menunjukkan gerakan meditasi pengobatan nonmedis di kediamannya di Jakarta, Februari 2019./TEMPO/Nurdiansah

Titiek akhirnya kabur. Ia pulang ke Jakarta. Di tengah keputusasaan, putrinya, Petty Tunjung Sari, memberinya referensi meditasi. Petty bercerita tentang kawannya yang sembuh dari stroke setelah 13 hari bersemadi. Titiek memutuskan menjajal terapi itu.

Gurunya menyuruh Titiek bermeditasi selama satu jam lima kali sehari. Meditasi itu, kata Titiek, membuat yin dan yang dalam tubuhnya tersambung sehingga menghasilkan energi alias chi. Energi ini akan mencari titik-titik yang bermasalah dalam tubuh, lalu membereskannya.

Selama ia bersemadi, sekujur badannya terasa dicubit, digigit, atau ditarik-tarik. Inilah tanda bahwa energi tersebut bekerja. Puncaknya terjadi pada hari terakhir. Rahim dan area genitalianya terasa seperti diserbu jutaan semut. “Haduh, rasanya itu cetot-cetot. Sakiiit,” ucapnya.

Titiek menyebutkan rasa sakit itu perlahan lenyap, berganti dengan rasa damai. Ketika semadi berakhir, sang guru menyatakan Titiek telah pulih dari penyakitnya. Namun ia tak langsung percaya. “Masak iya, sembuh,” ujarnya.

Hasil pemeriksaan tim dokter di Singapura, yang sebelumnya merawatnya, kemudian mengesahkan kesembuhan itu. Kanker yang dulu membesar telah enyah. Baik Titiek maupun para dokter dibuat melongo oleh hasil tersebut. “Mereka tanya apa yang terjadi,” tuturnya. Untuk memastikan, mereka meminta Titiek rutin mengecek kesehatan selama dua tahun. Hasilnya: ia tetap bersih dari kanker.

Lain Titiek, lain Andien Aisyah. Hampir setiap kali menjelang tidur, penyanyi jazz ini punya ritual membiarkan tubuhnya berguncang. Ia membaringkan tubuhnya di matras, menekuk kakinya, lalu membebaskan organ-organ tubuhnya bergetar sendiri tanpa diperintah. “Getar-annya sudah kayak orang kena ayan, ha-ha-ha...,” katanya.

Andien melakoni Tension and Trauma Releasing Exercises dua tahun terakhir. Cara ini mujarab menyembuhkan trauma psikisnya, mengusir pegal-pegal di badan, membuat tidur lebih lelap, serta melumerkan emosi negatifnya. Ketika rasa mangkel mendera, Andien meluruhkannya dengan menggetarkan badan. “Hati lebih plong. Bangun tidur lebih segar,” kata ibu satu anak ini.

Ia pun banyak belajar tentang teknik swaterapi lain, juga metode pengobatan alami, selama tiga tahun terakhir. Andien antara lain mempelajari Tapas Acupressure- Technique untuk mengelola emosi, chi kung, meditasi, yoga, dan homeopati guna mengobati masalah fisik.

Selain merasa lebih bugar dan lebih bisa mengontrol emosi, ia jadi jarang sakit meski jadwal manggung, mengurus keluarga, dan kegiatannya yang lain super-padat. “Dulu bisa kena tifus tujuh kali dalam setahun, belum lagi sinusitis yang kumat. Sekarang sudah enggak pernah ke dokter lagi. Paling sinus dikit, yang bisa ditangani sendiri,” ujarnya.

Banyak orang memilih teknik self-healing.- Motivasi mereka berbeda-beda. Ada yang mencari pengobatan alternatif seperti Titiek Puspa. Ada pula yang mencari penyembuhan dengan cara lebih alami seperti Andien.

Belakangan, mereka yang termotivasi mencari penyembuhan natural ini makin banyak. Kecenderungan kembali ke cara alami ini terpengaruh oleh tren serupa di seluruh dunia yang meningkat dalam enam tahun terakhir. Selain soal penyembuhan, sekarang lebih banyak orang tertarik mencari makanan dan cara relaksasi yang lebih natural. “Kita sudah merasakan betapa buruknya hidup jauh dari alam sehingga, secara global, ada kesadaran kembali ke yang lebih alami,” tutur praktisi kesehatan holistik, Reza Gunawan.

Reza, yang mengajarkan beberapa metode self-healing sejak 2004, merasakan peningkatan antusiasme ini. Kelas hati yang berisi Tapas Acupressure Technique dan kelas raga yang berbasis pada energy medicine, yang ia buka setiap bulan, hampir selalu penuh. Peminatnya kian melonjak sejak ia sering membagikan ilmu tentang teknik penyembuhan itu di aplikasi video Instagram (IGTV) pada Juni 2018. “Peminatnya melejit bisa tiga kali lipat,” ucap co-founder Jeda Wellnest tersebut.

Reza Gunawan memberikan materi seminar tentang metode Tapas Acupressure Technique di Jakarta Pusat, Desember 2018./TEMPO/Hilman Fathurrahman W

Pengajar lain, Gobind Vashdev, pun merasakan lonjakan minat masyarakat sejak media sosial makin bergairah. Media sosial dan Internet membuat orang dengan mudah mencari tahu serta memilih apa pun sesuai dengan kebutuhan atau ke-inginan mereka. “Dulu saya mengajar dua bulan sekali, sekitar 20 orang. Sekarang setiap minggu,” kata pelatih Tension and Trauma Releasing Exercises di Surabaya ini.

Teknik swaterapi sudah ada sejak ribuan tahun silam. Secara alami, self-healing ada di dalam diri setiap manusia. Tubuh memiliki kecerdasan untuk tetap sehat dan selaras. Misalnya tubuh punya pasukan sel darah putih untuk menggempur kuman yang masuk, hormon insulin dan glukagon yang bertugas mengatur keseimbangan gula darah, juga pasukan pelawan kanker yang alami. Semua siaga setiap saat dan bekerja tanpa kita sadari.- “Dalam ilmu kedokteran, kecerdasan tubuh ini disebut dengan homeostasis,” ujar dokter spesialis penyakit dalam konsultan kardiovaskular, Kasim Rasjidi.

Tubuh, kata Gobind, juga selalu mengekspresikan kembali apa yang ia terima, seperti makanan, minuman, dan perkataan. Misalnya, setelah seseorang mengkonsumsi sesuatu, badannya bisa lebih segar atau malah menjadi loyo. Namun, masalahnya, hal-hal seperti itu sering luput dari perhatian. Orang lebih banyak larut dalam pikiran di luar tubuhnya. “Tubuh selalu berkomunikasi, berbicara, tapi kita yang tidak sadar,” katanya.

Ketika komunikasi tubuh tak diperhatikan dan diselesaikan, lama-kelamaan masalah bertambah berat. Atau ketika diserang sesuatu yang terlalu kuat—misalnya kuman—dan beban pikiran terlalu banyak, tubuh kepayahan untuk menyeimbangkan diri. Teknik swaterapi yang diciptakan manusia bisa membantu mempercepat proses pemulihan.

Penyembuhan dengan teknik self-healing- tersebut tak dilihat dari fisik saja. Menurut Reza Gunawan, teknik swaterapi mesti holistik lahir dan batin. Sebab, masalah yang terjadi pada tubuh atau jiwa bisa jadi manifestasi yang berasal dari sumber lain.

 


Manusia terdiri atas tubuh, batin, dan energi. Ketiga elemen ini seharusnya senantiasa dalam keadaan harmonis. Ketika keseimbangan itu terganggu, bisa timbul keluhan pada kondisi fisik, mental, dan emosional.


 

Manusia, kata dia, terdiri atas tubuh, batin, dan energi. Ketiga elemen ini seharusnya senantiasa dalam keadaan harmonis. Ketika keseimbangan itu terganggu, bisa timbul keluhan pada kondisi fisik, mental, dan emosional.

Gobind memberikan contoh, ketika anak kecil dibentak, muncul perasaan takut. Energi ketakutan itu akan terus menempel dan menjadi trauma, lalu membajak diri si anak. Ia bisa tumbuh menjadi seorang penakut, pemarah, pencemas, atau pemurung. Lambat-laun energi ketakutan itu bisa bertransformasi ke dalam bentuk penyakit fisik.

Menurut pelatih swaterapi Cindy Gozali, energi tertentu dapat menimbulkan penyakit. Misalnya, ketika terus-menerus tak bisa menyampaikan maksudnya, seseorang biasanya akan terserang penyakit di sekitar mulut dan tenggorokan, seperti batuk dan sariawan. Kalau hubungan dengan orang tua atau pasangan bermasalah, rasa sakit akan lari ke area reproduksi. “Sedangkan jika menimbun kecemasan atau stres, problem akan muncul pada saluran pencernaan, misalnya mag dan peradangan lambung,” kata pelatih meditasi di The Golden Space Indonesia tersebut.

Faktor tubuh juga berpengaruh. Menurut Kasim Rasjidi, yang juga mempraktikkan teknik swaterapi, tiap tubuh orang unik dan memiliki sensitivitas berbeda. Bisa jadi penyakit yang sama ditimbulkan oleh masalah berbeda. Masalah saluran cerna, misalnya, tak melulu disebabkan oleh stres. “Saya menyuruh orang-orang yang sakit lambung berhenti makan mi instan saja banyak yang sembuh,” ujar pendiri Health and Life Reconnection- dan penggagas Indonesia Sehat Selaras tersebut.

Karena itu, Reza menambahkan, setiap orang mesti ditilik secara keseluruhan untuk mengatasi sumber problemnya. Harus dilihat kesehatan mental, emosi, energi, fisik, spiritual, dan emosionalnya. “Self-healing berusaha menyembuhkan dari akar masalahnya, bukan hanya gejalanya.”

Ada banyak teknik swaterapi yang sudah dikenal masyarakat. Di antaranya senam pernapasan chi kung alias qigong dari Tiongkok yang dipercaya bisa menjaga kesehatan tubuh, meditasi yang dapat memberikan ketenangan, keseimbangan jiwa, dan menyehatkan fisik. Juga seni kehidupan Ayurweda dari India yang diyakini dapat membantu seseorang mencapai umur panjang. “Dalam Ayurweda, kami diajari makan apa yang tumbuh sesuai dengan musimnya. Alam sudah menyediakan apa pun sesuai dengan kebutuhan,” tutur pelatih meditasi dan yoga dari The Art of Living, Niqqita Bharata.

Menurut Niqqita, tak ada penyakit yang tak bisa disembuhkan dengan teknik self-healing, dari masalah pencernaan, diabetes, autoimun, sampai kanker. Dokter Andreas Prasadja, yang juga pelatih meditasi Pranic Healing, pun mengatakan banyak muridnya yang sembuh dari penyakit seperti gangguan jantung, hipertensi, dan masalah psikologis. Prinsipnya, bila bisa melalui proses biologis berubah dari sehat menjadi sakit, tubuh seharusnya dapat beralih dari sakit kembali menjadi sehat. Teknik swaterapi juga digunakan untuk menjaga kesehatan.

Namun bukan berarti setiap orang yang menerapkan teknik swaterapi bakal sembuh dari semua penyakit. Sama seperti penyakit yang bisa disebabkan oleh banyak faktor, pemulihan pun memiliki banyak variabel, seperti seberapa kronis penyakitnya, seberapa tekun pasien berlatih, seberapa besar ia siap mengubah gaya hidup, juga faktor spiritualitas. Setiap proses penyembuhan sangat individual, bergantung pada pasien.

Jika tekun mempraktikkan teknik self-healing, kata Reza, paling tidak 60-70 persen penyakit, baik fisik maupun jiwa, bisa dibereskan. Kalau tubuh tak sanggup melakukannya sendirian, dianjurkan meminta bantuan profesional. Menurut dia, 30-40 persen penyakit disembuhkan berbarengan dengan pengobatan medis. “Karena ada kalanya ilmu pengobatan alami lebih tepat untuk kesehatan, ada kalanya pengobatan Barat yang lebih tepat,” katanya.

Dokter Andreas pun menekankan kepada muridnya perihal pentingnya pengobatan medis. “Setidaknya untuk validasi pemeriksaan,” ujarnya. Namun, dia menambahkan, banyak juga muridnya yang sembuh sebelum menjalani pengobatan medis.

Teknik swaterapi juga tak menjamin dapat menyembuhkan segala penyakit. Titiek Puspa, misalnya, hampir setahun lalu sering mengalami sesak napas tiba-tiba. Dokter mendiagnosisnya menderita penyakit jantung. Mei tahun lalu, Titiek dipasangi alat pacu jantung setelah meditasinya tak berhasil mengobati penyakitnya.

Sampai sekarang, Titiek tetap tekun bersemadi. Cara ini membantunya menja—ga kondisi tubuh dan mengisi kembali energinya. Pada usianya yang tak lagi muda, ia masih bisa bekerja dan aktif ke mana-mana. “Kemarin saya baru pulang, ada pekerjaan di Bali. Sebelumnya baru rekaman, dari sana-sini,” tutur Titiek, yang baru saja meluncurkan lagu Sampah Sayang.

NUR ALFIYAH, ANGELINA ANJAR SAWITRI


Gaya Hidup 1/2

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.