Laut Yang Misterius - Film - majalah.tempo.co

Film 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Laut Yang Misterius


Sebuah film drama fantasi hasil kolaborasi Jepang dan Indonesia. Terilhami tragedi tsunami Aceh pada 2004.

Isma Savitri

Edisi : 16 Februari 2019
i Dean Fujioka sebagai Laut (kiri) saat ditemukan warga dalam adegan film The Man from the Sea (Laut). jcinema2018.id
Dean Fujioka sebagai Laut (kiri) saat ditemukan warga dalam adegan film The Man from the Sea (Laut). jcinema2018.id

ORANG-orang memanggilnya Laut. Ini karena pada suatu hari pria itu terdampar di pantai Banda Aceh dalam kondisi tak sadar. Ia tak tahu asal-usulnya, termasuk namanya. Namun, karena wajah pria itu “sangat Jepang”, warga kemudian menitipkannya kepada Takako (diperankan Mayo Tsuruta). Dia perempuan asal Jepang yang bekerja di Aceh sebagai aktivis lembaga nirlaba bidang pe-nanggulangan bencana.

Takako-lah yang kemudian membantu Laut (Dean Fujioka) menyusuri jati diri. Takako dibantu anaknya, Takashi (Taiga); keponakannya, Sachiko (Junko Abe); juga dua karib sang putra, yakni Ilma (Sekar Sari, pemeran utama dalam film Siti) dan Kris (Adipati Dolken). Kendati sudah berhari-hari tinggal di rumah Takako, Laut masih banyak diam dan melamun. Begitu pula saat Takako mengajaknya bertemu dengan sejumlah orang untuk memancing ingatannya kembali. Laut memilih mengunci mulut.

Sosok Laut yang misterius ini membikin penasaran Ilma, yang ke mana-mana menenteng kamera video karena berhasrat menjadi wartawan. Apalagi Ilma-lah yang pada suatu waktu mendapati Laut menunjukkan keanehan, yang bagi sebagian orang adalah hal mustahil. Dia bisa menyembuhkan orang sakit, menghidupkan keran air panas di rumah Takako, membuat gelembung air di udara, dan berpindah tempat jauh dalam sekejapan mata. Berbagai keajaiban itu membuat orang—bukan hanya Ilma—akhirnya menaruh curiga: siapa sih sebenarnya Laut?

Laut adalah karakter sentral dalam film The Man from the Sea karya sutradara asal Jepang, Koji Fukada. Film ini merupakan kolaborasi Indonesia-Jepang yang merayakan 60 tahun persahabatan kedua negara. Tiga studio produksi keroyokan menggarapnya pada 2017, yakni Kaninga Pictures (Indonesia), Nikattsu (Jepang), dan Comme des Cinemas (Prancis). Kendati sudah wira-wiri dalam sejumlah festival film—di antaranya Busan International Film Festival dan Hong Kong Asian Film Festival—pada tahun lalu, The Man from the Sea baru tayang di bioskop Indonesia pada 14 Februari 2019. Itu pun terbatas di beberapa bioskop.

Adipati Dolken dalam The Man from the Sea. jcinema2018.id

Fukada mengaku memproduksi The Man from the Sea karena terilhami bencana tsunami mahadahsyat yang menerjang Aceh pada 2004. Namun, sepanjang film berdurasi 107 menit ini, narasi soal tsunami hanya secuil. Salah satunya lewat latar belakang Ilma yang kehilangan rumah dan ibunya gara-gara tsunami. Yang lebih banyak disuguhkan Fukada justru beberapa potong cerita soal alam, laut, dan bencana. Berbagai hal itu hadir lewat kisah para tokoh, yang terhubung oleh Laut sebagai benang merah.

Menurut Fukada, yang memenangi Un Certain Regard Jury Prize dalam Festival Film Cannes 2016 lewat filmnya, Harmonium, The Man from the Sea yang bergenre drama fantasi memang hendak bertutur soal laut. Bukan hanya soal keindahannya, tapi juga hal-hal mengerikan yang bisa dilakukan laut, seperti tsunami. Namun hal itu tak dijelaskan gamblang, melainkan lewat sejumlah visual yang secara simbolis merepresentasikan hubungan antara manusia dan alam.

Sebagai hasil kolaborasi, The Man from the Sea juga memotret gegar budaya antara Ilma dan Kris yang asli Aceh, Takashi yang orang Jepang tapi memilih jadi warga negara Indonesia, serta Sachiko. Tanpa ada kesan mengolok-olok, film ini menyuguhkan bagaimana Indonesia seakan-akan senang mengenang tragedi, sementara Jepang justru ingin segera melupakan tsunami yang pernah melanda negara mereka. Hal itu terlihat saat Sachiko heran melihat keberadaan kapal yang diempas tsunami hingga tengah Banda Aceh dan kini menjadi “monumen” PLTD Apung.

Sayangnya, kolaborasi dua negara juga membawa kelemahan dalam film. Kendati Taiga bermain meyakinkan sebagai Takashi—dalam salah satu adegan, dia makan dengan menaikkan satu kaki di kursi layaknya kebanyakan orang Indonesia—pemain Jepang lainnya justru membuat film ini kadang berjalan terlalu lambat. Ini karena mereka kadang berdialog dengan bahasa Indonesia “patah-patah”, sehingga membuat percakapan menjadi tak mulus.

Begitu pun Laut. Hingga akhir film, ia tetap menjadi sosok yang ambigu. Bukan hanya soal identitasnya, tapi juga keberadaannya dalam film ini. Laut pada akhirnya tenggelam dalam drama cinta remaja Takashi-Ilma dan Kris-Sachiko yang serba canggung.  

ISMA SAVITRI

 


 

jcinema2018.id

 

Sutradara : Koji Fukada

Skenario : Koji Fukada

Pemeran : Dean Fujioka, Mayo Tsuruta, Junko Abe, Taiga, Adipati Dolken, Sekar Sari

Produksi : Nikattsu (Jepang), Kaninga Pictures (Indonesia), dan Comme des Cinemas (Prancis)

 



Film 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.