Coreng Hitam di Kampus Biru - Opini - majalah.tempo.co

Opini 3/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Coreng Hitam di Kampus Biru


Mahasiswi korban perundungan seksual didorong berdamai dengan pelaku. Polisi harus mengusut kasusnya.

Tempo

Edisi : 8 Februari 2019
i Coreng Hitam di Kampus Biru
Coreng Hitam di Kampus Biru

Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta seyogianya tidak terpengaruh sikap Universitas Gadjah Mada yang menginginkan kasus perundungan seksual terhadap seorang mahasiswinya diselesaikan di luar jalur hukum. Tindakan itu mesti diusut tuntas.

Agni—sebut saja namanya begitu—dilecehkan oleh sesama mahasiswa UGM saat mengikuti program kuliah kerja nyata (KKN) di Pulau Seram, Maluku, pada Juni 2017. Kejadian tersebut langsung dia laporkan kepada pengawas di lapangan, tapi sikap UGM sejak awal aneh dan mencurigakan. Bukannya menyelidiki lalu menindak pelaku, mereka menuding Agni merusak nama baik kampus. Pulang ke Yogyakarta, Agni mendapat nilai C untuk mata kuliah KKN.

Kampus lalu menutup-nutupi kasus tersebut. Kalau tidak dibongkar oleh majalah mahasiswa UGM Balairung—yang menerbitkan kisah Agni pada November 2018 dengan judul “Nalar Pincang UGM atas Kasus Perkosaan”—peristiwa biadab tersebut mungkin akan selamanya terkubur.

Setelah diramaikan Balairung, polisi akhirnya turun tangan melakukan penyelidikan. Tapi UGM bergeming. Pada Januari lalu, merujuk pada komisi etik yang dibentuk khusus untuk menginvestigasi kasus tersebut, mereka kembali menyatakan tidak pernah ada perundungan seksual terhadap Agni. Pelecehan yang dilaporkan korban dinyatakan hanya merupakan perbuatan asusila biasa dan tidak tergolong pelanggaran berat. UGM bahkan mengklaim Agni sudah berdamai dengan pelaku. Kampus juga meminta polisi menghentikan penyelidikan.

Sangat disayangkan sebuah lembaga pendidikan tinggi yang seharusnya rasional dan peka terhadap hukum, kesetaraan gender, dan hak asasi manusia malah ikut terjebak dalam kultur impunitas yang sangat bias kekuasaan. Sikap UGM, yang juga dikenal dengan sebutan Kampus Biru, memperlihatkan betapa posisi wanita korban kekerasan seksual di negeri ini masih amat lemah.

Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan menyebutkan setiap tahun sekitar 50 persen kasus perundungan seksual berakhir dengan mediasi—kata lain untuk fakta bahwa para korban dipaksa berdamai. Yang mencoba melawan sering bernasib tragis, seperti yang menimpa Baiq Nuril. Mantan pegawai Sekolah Menengah Atas Negeri 7 Mataram, Nusa Tenggara Barat, itu divonis penjara 6 bulan dan denda Rp 500 ribu oleh pengadilan. Dia dituding mencemarkan nama atasan yang melecehkannya.

Dengan suburnya impunitas, ditambah penegakan hukum yang masih lemah, tak mengherankan jika jumlah perempuan korban perundungan seksual terus bertambah. Menurut data Komisi Nasional Perempuan, kasus perundungan seksual terhadap wanita pada 2017 mencapai lebih dari 335 ribu, melonjak dari sekitar 159 ribu kasus tahun sebelumnya. Kekerasan terjadi di semua lapisan masyarakat, dan hampir tidak ada ruang—baik publik maupun privat—yang aman bagi perempuan.

Kita berharap Kepolisian Yogyakarta tidak terpengaruh nalar pincang UGM. Rekonsiliasi antara Agni dan korban hendaknya tidak dijadikan tameng untuk melindungi pelaku kejahatan dari jerat hukum. Proses hukum harus terus berjalan walaupun korban sudah memaafkan tersangka.

Tentu saja, di sisi lain, kita meminta Agni berani bersuara lantang memperjuangkan keadilan atas kekerasan seksual yang menimpanya. Kebiadaban terhadap perempuan oleh siapa pun dan dalam bentuk apa pun mesti dihentikan, dan cara terbaik untuk melakukannya adalah dengan melawan.



Opini 3/4

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.