Gendut, Hitam, Pesek, Pendek - majalah.tempo.co

Bahasa 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Gendut, Hitam, Pesek, Pendek


André Möller*

Tempo

Edisi : 1 Februari 2019
i Gendut, Hitam, Pesek, Pendek
Gendut, Hitam, Pesek, Pendek

Pada akhir 2018, saya menyempatkan diri berlari di Jalan M.H. Thamrin dan Jalan Jenderal Sudirman dalam rangka Hari Bebas Kendaraan Bermotor (Car Free Day dalam BIB—Bahasa Indonesia Baru). Alangkah asyiknya berlari dengan bebas di pusat kota sampai Blok M dan kembali untuk berswafoto di Bundaran Hotel Indonesia sebelum sampai di Monumen Nasional lagi.

Tidak jauh dari Sarinah, lelarian saya tiba-tiba terhenti sebab saya melihat papan di pinggir jalan yang bertulisan: “Kamu gendut? Kami punya solusinya!” Saya terperanjat dan merasa terpaksa berhenti untuk memfoto tulisan canggung itu. Kalau tulisan itu tidak difoto, anak-anak saya tidak bakal percaya, gumam saya sendiri. Tempatnya sepi. Tak ada satu pun orang yang datang ke situ untuk mengaku gendut dan minta solusi yang lebih kilat daripada berlari atau berolahraga lain.

Konon, “orang Timur” (entah siapa saja sebenarnya) sopan santun, tahu diri, memiliki budi pekerti yang baik, serta bermoral dan beretika tinggi. Dalam berbahasa pun, katanya, orang Timur selalu menjaga lidah dan berusaha sekeras mungkin menghindari perkataan yang mengganggu perasaan orang lain: kesusilaan dan keadaban harus dirawat setiap saat. Ketentuan atau kebiasaan ini berlaku secara umum, juga diterapkan secara luas dan komprehensif. Namun tak ada peraturan tanpa perkecualian.

Ternyata, kesopanan berbahasa tidak diamalkan ketika ciri-ciri badan seseorang sedang dibicarakan. Salah satu contoh tertulis terlihat di atas: “Kamu gendut?” Selain terasa tidak sopan menanyakan apakah seseorang gendut, saya kira pemasaran produk yang hendak dijual mesti dikatakan gagal. Susah dibayangkan orang berbadan besar datang ke sana dan mengaku gendut kemudian minta solusinya. Kata gendut juga muncul dalam percakapan sehari-hari.

Belum lama ini, saya naik mobil di Jawa Tengah dengan beberapa orang (Indonesia) lain. Kami melewati sebuah sekolah menengah atas ketika seorang murid dengan badan yang lebih besar daripada teman-temannya keluar. “Wah, gendutnya!” seru salah satu penumpang di dalam mobil. Yang lain meng-iyakan. Untungnya, jendela mobil tertutup rapi. Untungnya juga, obesitas belum menjadi kata umum dalam perbincangan ringan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), obesitas berarti “penumpukan lemak yang berlebihan di dalam badan; kegemukan yang berlebih”, dan dugaan saya adalah kata ini akan makin kerap kelihatan dan kedengaran pada masa depan. Menjadi orang yang terlalu kurus pun tidak baik dan secara gamblang akan disebut cacingan, yaitu “menderita sakit karena banyak cacing di dalam perut”, menurut KBBI.

Masalah warna kulit adalah bidang lain di mana kesopanan berbahasa seolah-olah tidak berlaku lagi. Betapa seringnya kita mendengar (dan, barangkali, mengucapkan), “Dia tambah hitam, ya?” dengan nada tidak apresiatif. Anak saya yang perempuan berkulit terang, tapi kalau musim panas tiba dia gemar berjemur di bawah matahari untuk menggelapkan badan. Tindakan ini susah dipahami oleh orang Indonesia dan tidak jarang mereka merasa mesti mengomentarinya. Mengapa orang ingin jadi hitam? Istri saya, orang asli Jawa Tengah, sering juga mesti menghadapi pertanyaan seperti ini ketika kami mudik: “Wah, sudah puluhan tahun di Eropa sana, kok, masih hitam saja, ya?” Ada implikasi putih atau terang itu bagus, sedangkan hitam atau gelap itu jelek. Cukup ironis bagi masyarakat yang hidup di zamrud khatulistiwa ini, tempat matahari bersinar sepanjang tahun.

Ukuran badan secara umum dan ukuran hidung secara khusus tentu saja merupakan bidang lain, di mana kesopanan berbahasa tak berlaku lagi. Pesek dan pendek tidak sebaik mancung dan tinggi, tapi selalu tanpa alasan yang jelas. Kadang, komentar tak layak seperti ini kita dengar: “Dia pintar masak, sih. Tapi, ya, pesek.” Seolah-olah ada hubungannya atau pengaruhnya satu sama lain. “Nah, menantu saya putih sekali, tapi sayangnya pendek.” Jelas kurang sopan karena pendek itu dinilai tidak baik dan juga diucapkan dengan nada merendahkan. Lagi-lagi tanpa alasan yang jelas.

Jadi, supaya nanti tidak ada papan baru di sepanjang Jalan Thamrin yang bertulisan “Kamu pesek? Kami punya solusinya!” atau “Kamu hitam? Kami punya solusinya!”, saya berharap kesopanan dan ketimuran juga dapat mempengaruhi bahasa Indonesia ketika ciri-ciri badan sedang dibahas. Itu pun kalau ciri-ciri badan tersebut perlu dibahas. Sebenarnya sering tak perlu, saya kira.

Ngomong-ngomong, saya lumayan tinggi, cukup mancung, agak putih, dan tidak terlalu gendut.

Penyusun Kamus Swedia-Indonesia


Bahasa 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.