Rahman Tolleng dan Imajinasi Subversi - majalah.tempo.co

Obituari 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Rahman Tolleng dan Imajinasi Subversi


Hingga akhir hidupnya, Rahman Tolleng selalu berusaha mengambil jarak terhadap kekuasaan.

Tempo

Edisi : 1 Februari 2019
i Rahman Tolleng di kantor redaksi Tempo, Senen Raya, Jakarta, 1972. TEMPO/George Yunus Adicondro
Rahman Tolleng di kantor redaksi Tempo, Senen Raya, Jakarta, 1972. TEMPO/George Yunus Adicondro

RAHMAN Tolleng adalah subyek yang berada dalam ambang subversi dan ambiguitas. Kegairahan serta subyektivitas politiknya yang kuat sering kali ditahan dan dibatalkan oleh etika dan kritisisme diri yang muncul seketika. Pada satu masa, beberapa tahun lalu, ia pernah bilang bahwa pemerintah ini inkompeten dan tidak bisa diharapkan. Ketika ditanya: kalau begitu, kita jatuhkan saja, Bos, selagi masih lemah? Rahman menjawab: kalau dijatuhkan, siapa yang akan menggantikan? Presiden ini enggak mampu, tapi dia masih memiliki niat yang lebih baik untuk mengabdi kepada negara dibanding politikus yang ada sekarang.

Seketika kami berhenti melanjutkan percakapan. Begitulah Rahman. Dia memiliki kemampuan menaburkan godaan untuk melakukan subversi, tapi sering kali, pada saat kita mulai bersemangat, ia mendadak bisa mengambil sikap skeptis terhadap pikirannya sendiri. Akhirnya gairah subversi yang sempat bangun jadi melorot.

Setelah berjuang menjatuhkan Sukarno, ikut mendirikan Orde Baru, kemudian berjuang menjatuhkan Orde Baru, Rahman tidak berhenti berpolitik. Ia selalu punya kritik terhadap semua kekuasaan bahkan setelah Orde Baru, termasuk ketika Abdurrahman Wahid, kolega politiknya di Forum Demokrasi, memimpin Republik sebagai presiden. Dia bilang, terhadap kekuasaan, meski yang berkuasa teman kita sendiri, kita tetap harus mengkritik. Dari segi itu, jelas sekali, bahkan hingga akhir hidupnya, Rahman selalu berusaha mengambil jarak terhadap kekuasaan. Ia selalu mengambil pihak, tapi ia tidak pernah larut dalam keberpihakannya. Karena itu, subyektivitasnya selalu muncul, otonomi serta integritas pribadinya selalu terpelihara di dalam lingkungan politik di mana pun ia berada.

Politik, apalagi politik di Indonesia, adalah dunia yang secara moral tak pernah bisa steril. Kita tak pernah bisa menerapkan suatu etika keterlibatan yang murni secara moral. Persis karena kita juga mesti bersinggungan dengan orang-orang yang tidak baik yang sering kali ada di pihak kita. Di titik ini, terlibat dan berpolitik adalah suatu keharusan, tapi kehormatan dan integritas juga tak dapat ditawar. Dalam konteks itu, satu-satunya cara memelihara kehormatan diri dalam keterlibatan adalah dengan mengambil sikap skeptis terhadap diri sendiri. Ambiguitas Rahman Tolleng, bagi saya, adalah satu mekanisme produktif yang ia pakai untuk mengaktifkan pikiran dan menggerakkan energi subversifnya sambil menjaga dignitas.

Berpihak tapi tak larut, terlibat tapi tetap otonom. Ini tampak dalam sikap Rahman terhadap uang dan kekuasaan. Rahman menyadari sikap otonominya terhadap kekuasaan mesti dipertahankan dengan integritas pribadi. Itu sebabnya ia sama sekali tidak pernah mau terlibat dengan urusan mengejar uang, kekayaan, dan kekuasaan. Sikap ini dia pelihara sejak masa muda ketika ia memimpin koran Mahasiswa Indonesia. Rahman pernah bercerita, seorang pengusaha percetakan bermaksud menyuapnya dengan uang satu koper Echo-lac asalkan ia mau berhenti memberitakan persoalan perusahaan itu untuk beberapa bulan saja. Rahman bilang, ia gemetar melihat uang sebanyak itu. Tapi ia tolak. Otonomi diri ini juga secara unik ia praktikkan dalam kehidupan keluarganya. Pada masa tuanya, Rahman ngotot tetap mengembalikan uang yang dikeluarkan anak-anaknya ketika membiayai pengobatannya.

Skeptisisme Rahman barangkali juga terbentuk sebagai akibat dari pengalamannya pada masa Orde Baru, terutama saat ia duduk di Golkar dan mulai dimusuhi penguasa masa itu. Ia bercerita, tukang ketiknya adalah intel yang disusupkan di kantornya. Tukang ketik itu rupanya selalu menggandakan apa yang ia ketik di mesinnya dengan kertas karbon dan mengirimkan lembar kopi ketikannya ke tentara. Menjelang Rahman dipenjara, tukang ketik ini menemuinya, menangis dan mengakui pengkhianatannya. Pengalaman diintelin dari dalam ini yang membuat Rahman kemudian punya kepekaan kuat. Instingnya tajam dan ia punya kelebihan “mengenali sifat-sifat serta latar belakang orang”.

Kemahiran Rahman mengenal sifat dan karakter orang juga terbentuk dari pengalaman dan sejarah panjang keterlibatannya dalam politik. Ia mengenal dan mengingat secara baik orang-orang dari masa orde Sukarno, orde Soeharto, dan kiprah-kiprah mereka: rekam jejak kebaikan dan keburukannya. Berhubung Golkar adalah mesin politik terkuat dan terbesar Orde Baru, praktis Rahman juga mengenal semua politikus dan elite yang tumbuh dan besar pada masa kini yang berasal dari Golkar dan partai-partai lain. Ia juga punya hobi unik yang dilakukan hingga masa tuanya: mengumpulkan semua pamflet politik, baik pamflet subversif maupun pamflet resmi. Pengetahuan dan pengalaman ini merupakan harta karun berharga dalam memahami politik Indonesia. Ini pula yang membuat Rahman enggan menulis memoar atau otobiografi. Ia khawatir, kalau ditulis, biografinya akan menyinggung orang lain yang dikenalnya.

Subversi Rahman Tolleng adalah subversi intelektual. Kaum intelektual berbeda dengan kaum akademikus dan dosen. Akademikus dan dosen adalah profesi dan jabatan yang sifatnya teknikal di seputar kehidupan universitas. Sedangkan kaum intelektual adalah sejenis subyektivitas yang dicirikan oleh gairah untuk terlibat mengubah nasib zaman dan masyarakatnya dengan basis pengetahuan. Ambiguitasnya bersifat inheren karena, pada saat yang sama, ia juga dituntut oleh ilmunya untuk mengambil jarak, memelihara obyektivitas dan otonomi. Intelektual memelihara dialektika antara gairah politik bersama dan pengetahuan teoretis. Politiknya dituntun oleh konsep dan konsep diperkaya oleh pengalaman dan praktik. Di titik inilah sulit untuk menemukan lawan debat yang cukup untuk menandingi Rahman Tolleng dalam bidang politik, bahkan dari kalangan akademikus terbaik di Indonesia.

Saat di dalam Golkar, Rahman-lah yang pertama kali mengusulkan konsep partai modern untuk Indonesia. Ia pula yang berjasa besar membawa kembali pemikiran kewargaan sosial dan politik menjelang berakhirnya Orde Baru dalam khazanah ilmu dan praktik kepolitikan kita sekarang. Beberapa tahun menjelang wafatnya, ia tengah mendalami sistem semi-presidensia-lisme, yang dimaksudkan untuk mengatasi “kombinasi yang serba canggung antara presidensialisme dan multi-partisme” dalam desain institusional ketatanegaraan Indonesia masa kini. Yang paling besar, tentu saja, adalah jasanya dalam meletakkan ideal demokrasi dalam Forum Demokrasi sebagai diskursus politik alternatif melawan kepolitikan otoriter Orde Baru.

Rahman seorang demokrat dengan pandangan politik yang dipengaruhi oleh liberalisme dan sosialisme. Belakangan, ia mulai terpengaruh gagasan republikanisme yang dipicu oleh buku tipis karya Norberto Bobbio berjudul The Idea of the Republic. Pengaruh republikanisme itu tecermin dalam tulisan pendeknya berjudul “Negeri Ini Milik Kita”. Di sana, ia membandingkan nasionalisme dengan patriotisme republikan, “Patriotisme menuntut kebebasan warga negara… sedangkan nasionalisme memuja kebesaran bangsa dan kepribadian nasional. Musuh patriotisme adalah segala jenis tirani, ketidakadilan sosial dan korupsi, sementara bagi nasionalisme yang dimusuhi adalah pencemaran budaya, ketidakutuhan, serta segala sesuatu yang berbau asing.” Dengan itu, ia ingin mengklarifikasi kesalahan fatal yang berakar dalam tradisi politik Indonesia, yang memandang nasionalisme dan militerisme sebagai identik dengan patriotisme. Dalam sejarah Indonesia, hasrat keutuhan, glorifikasi kebesaran negara, dan kebencian akan yang asing sering berujung pada represi terhadap hak asasi manusia, sebagaimana pernah terjadi dalam kekerasan berdarah di Aceh, Timor Leste dulu, dan Papua hingga kini. Dalam ideal republikan, patriotisme tidak berakar dalam nasionalisme. Sebaliknya, ia justru tumbuh dalam keberanian mempertahankan kebebasan dan keutamaan publik.

Rahman Tolleng menempuh hidup dengan menyubversi dua orde dan dua ego terbesar dalam sejarah politik Indonesia, Sukarno dan Soeharto. Pesona dan daya tahan subversi ini yang memikat banyak kaum muda hidup dan belajar di sekitarnya. Rumahnya disebut sebagai Unsrat, kependekan dari Universitas Rahman Tolleng, universitas yang menghasilkan lebih banyak aktivis dropout ketimbang jadi sarjana. Mereka ini yang sekarang banyak bekerja di pelbagai partai politik, media massa, dan organisasi non-pemerintah.

Seusai subversi Orde Baru, Rahman mencoba menopang demokrasi yang ia rintis dengan mendidik anak-anak muda di Perhimpunan Pendidikan Demokrasi. Ia juga sempat mendirikan Partai SRI dengan maksud menghasilkan kepemimpinan politik yang lebih bebas dari cengkeraman oligarki. Partai SRI gagal lolos mengikuti Pemilihan Umum 2014. Kegagalan Partai SRI menghasilkan semacam kemurungan dalam dirinya. Ia tidak melihat jalan keluar yang mungkin untuk menjalankan ideal-ideal republikannya dalam upaya mengatasi masalah besar dalam demokrasi di Indonesia.

Kemurungan ini pula yang pada akhirnya membawa Rahman berhadapan dengan pilihan sulit yang dilahirkan oleh politik demokrasi masa kini. Politik masa kini menawarkan pilihan sangat terbatas antara konservativisme nasionalis dan konservativisme agamis-nasionalis. Dua opsi konservatif ini sungguh sangat terbelakang dibandingkan dengan ideal politik republikannya. Saya yakin, sekiranya fisiknya masih sekuat dulu, sudah pasti imajinasi subversifnya akan keluar memimpin lagi dan menggoda anak-anak muda di sekitarnya.

ROBERTUS ROBET, PENELITI DI PERHIMPUNAN PENDIDIKAN DEMOKRASI


Obituari 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.