Skandal Pemerkosaan oleh Pejabat - majalah.tempo.co

Arsip 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Skandal Pemerkosaan oleh Pejabat


30 April 1983

Tempo

Edisi : 5 Januari 2019
i Arsip
Arsip

CERITA Rizky Amelia yang mengaku mendapat kekerasan seksual oleh atasannya di Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan seperti mengu-lang cerita 35 tahun silam. Waktu itu, orang yang dituduh memerkosa adalah pejabat di Departemen Dalam Negeri. Tempo mengulas perkara itu dalam edisi 30 April 1983.

Kisahnya bermula dari surat pengaduan Iskandar. Judul surat itu tak ubahnya petikan sebuah novel picisan: “Ada seorang pejabat memperkosa familinya sendiri sampai tiga kali”. Sebelumnya, si korban diam-diam diberi obat perangsang. Tapi cerita menjadi serius karena yang diadukan tak lain Frans Mugama, 55 tahun, Direktur Pembinaan Program Departemen Dalam Negeri.

Surat pengaduan tersebut ditujukan kepada Presiden RI, Menteri Dalam Negeri dan Inspektur Jenderal, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara, serta Menteri Negara Urusan Peranan Wanita. Tembusan dikirim kepada Menteri Kehakiman, Jaksa Agung, Ketua Dharma Wanita, direktur di Departemen Dalam Negeri, dan para ketua badan pembangunan daerah di ibu kota provinsi. “Kalau tidak begitu, mana ada tanggapan? Frans kan orang besar,” kata Iskandar, suami perempuan yang mengaku diperkosa Frans itu.

Menurut Iskandar, pada Oktober tahun itu, lewat istrinya yang masih saudara satu nenek dengan Frans dan sama-sama berasal dari Sangir Talaud, Sulawesi Utara, dia minta tolong dicarikan pekerjaan. Kebetulan ketika itu Frans baru saja diangkat menjadi direktur.

Sebagai veteran Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, dan mengaku bekas anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Iskandar belum mempunyai pekerjaan yang mantap. Menjabat Ketua PB Kesatuan Mahasiswa Islam dan pernah ditahan tiga bulan karena urusan politik, ia lantas mengajar di Universitas Mutaqien, yang kurang dikenal. Istrinya, 42 tahun, yang bekerja di sebuah bank, tampaknya lebih berperan dalam menyelenggarakan rumah tangga dengan enam anak itu.

Frans, menurut surat pengaduan, menyuruh Iskandar segera membuat surat lamaran. Kebetulan kenalannya di Badan Pembangunan Daerah Padang sanggup menempatkan Iskandar. Maka, pada 17 Oktober 1982, hari Minggu, Nyonya Iskandar mengantarkan surat lamaran ke restoran Jayakarta di Kebayoran Baru, Jakarta. “Saya sedang rapat sama orang Bappe-nas,” begitu konon jawaban Frans ketika Nyonya Iskandar bertanya mengapa surat mesti diantar-kan ke restoran.

Setelah makanan terhidang, menurut Nyonya Iskandar, ia disuruh merapikan rambut dan mencuci muka ke kamar kecil. Selesai makan, “Badan saya terasa panas, melayang, dan kepala pusing sekali.” Frans membimbingnya ke mobil. Di dalam mobil, ia merasakan ada dorongan seks yang kuat sekali dan membuatnya lupa diri. Dan tahu-tahu mobil memasuki halaman Motel Pondok Sawangan.

“Kita senang-senang sebentar. Saya sudah lama menguber dan mencintaimu,” begitu jawaban Frans ketika Nyonya Iskandar sempat memprotes. Lalu apa yang terjadi bisa diduga.... Kejadian serupa terjadi lagi sekitar sebulan kemudian, di Motel Sawangan itu juga. Nyonya Iskandar mulai curiga: Frans telah merangsang berahinya dengan suatu obat. Namun ibu itu tak berani melaporkan kejadian tersebut kepada suaminya.

Baru setelah “pemerkosaan” ketiga, pada 10 Januari di Hotel Cempaka, ia tak tahan lagi. “Semalaman saya tak bisa tidur, lalu sembahyang tahajud,” katanya. Setelah itu, ia seperti melihat ibunya, yang sudah almarhumah, dan dinasihati agar berterus terang kepada suami. Subuh keesokan harinya, sambil menangis dan mencium kaki sang suami, ia menceritakan semua yang dialaminya. “Sungguh, ini cobaan yang amat berat,” ucap Iskandar.

Ia pernah hampir mengusir istrinya dan meminta “pertanggungjawaban” Frans. Betulkah semua cerita di atas? “Itu fitnah,” kata Frans tanpa emosi. Ia juga membantah punya hubungan keluarga dengan Nyonya Iskandar. “Hanya sama-sama berasal dari satu pulau,” ujarnya. Ia menduga segalanya telah ada yang mengatur sejak awal. “Maklum, Iskandar sudah 12 tahun menganggur,” dia menambahkan.

Dan Frans ternyata tidak pernah ditahan sehubungan dengan kasus itu. Ia tetap masuk kantor di lantai 8 Departemen Dalam Negeri.

 


 

Artikel lengkap terdapat dalam Tempo edisi  30 April 1983. Dapatkan arsip digitalnya di:

https://store.tempo.co/majalah/detail/MC201212180069/jurus-baru-melawan-korupsi-korupsi



Arsip 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.