Daya Ungkit Satu Setrip - majalah.tempo.co

Laporan Utama 1/4

Selanjutnya
text

Daya Ungkit Satu Setrip


Empat bulan menjadi calon wakil presiden, Ma’ruf Amin dianggap tak mendongkrak tingkat keterpilihan Joko Widodo.

hussein abri

Edisi : 15 Desember 2018
i Joko Widodo dan Ma’ruf Amin setelah  menjalani tes kesehatan di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto, Jakarta, 12 Agustus 2018. ANTARA
Joko Widodo dan Ma’ruf Amin setelah menjalani tes kesehatan di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto, Jakarta, 12 Agustus 2018. ANTARA

IRSYAD Djuwaeli kerap mendapat pertanyaan yang sama ketika berkeliling Banten untuk mengkampanyekan pasangan calon presiden dan wakil presiden, Joko Widodo dan Ma’ruf Amin. Yang terakhir terjadi pada Rabu dua pekan lalu, ketika Ketua Bravo-5 Wilayah Banten itu berkunjung ke Cimanggu di Pandeglang. “Mereka bertanya, siapa dan dari mana Ma’ruf Amin: ‘Kok, kami belum dengar?’ Kalau Jokowi, banyak yang tahu,” ujar Irsyad kepada Tempo pada Kamis pekan lalu.

Membawa misi dari Bravo-5 pusat—kelompok pendukung Jokowi yang dibentuk Jenderal Purnawirawan Luhut Binsar -Pandjaitan—untuk merebut Banten, Irsyad menjawab pertanyaan tersebut dengan telaten. Ma’ruf, kata Irsyad, adalah keturunan ulama Nusantara yang pernah menjadi Imam Besar Masjid al-Haram di Mekah, Muhammad Nawawi al-Bantani. Menurut Irsyad, warga Banten familiar dengan Syekh Nawawi, yang karya-karyanya dalam bidang fikih dan tafsir, misalnya, masih dikaji di pesantren sampai sekarang.

Jawaban itu dianggap lebih tepat ketimbang menyebut Ma’ruf sebagai ulama Banten. Menurut Irsyad, meski Ma’ruf kelahiran Banten dan pendiri Pesantren An-Nawawi Tanara di Serang, ia kurang mengakar. Sebab, sehari-hari Ma’ruf beraktivitas di luar Banten.

Saat menimba ilmu agama, Ma’ruf -mondok di Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Ketika masuk dunia politik, Ma’ruf menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah DKI Jakarta, bukan Banten. Sebelum dipilih menjadi calon wakil presiden oleh Jokowi, pria 75 tahun ini memang menduduki posisi Rais Am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia. “Tapi hanya elite dan ulama struktural yang tahu siapa Ma’ruf,” ujar Irsyad. “Masyarakat awam enggak banyak yang tahu.”

Kejadian serupa dialami organisasi Relawan Sahabat Juang Jokowi. Koordinator wilayah Banten kelompok itu, Sholeh Marzuki, mengatakan mereka harus gigih memperkenalkan Ma’ruf kepada warga Banten. “Kami harus menjelaskan siapa Kiai Ma’ruf dan kenapa berpasangan dengan Jokowi,” ujar Sholeh. Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Banten Bunyamin menyampaikan hal yang sama. “Kami harus tekun menjelaskan, terutama kepada warga NU nonstruktural,” katanya.

Popularitas Ma’ruf yang rendah di Banten berakibat pada hasil survei pasangan Jokowi-Ma’ruf. Direktur Relawan Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf, Maman Imanulhaq, menuturkan, hasil sigi internal menunjukkan pasangan nomor urut satu hanya meraup 39 persen suara responden. Sedangkan lawannya, Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno, mendapat 58,7 persen. Sisanya tak menjawab.

Banten memang basis pemilih Prabowo. Pada pemilihan presiden 2014, Prabowo, yang saat itu berpasangan dengan Hatta Rajasa, mengantongi 57,1 persen suara. Adapun Jokowi-Jusuf Kalla dipilih oleh 42,9 persen warga. Dalam pemilihan presiden tahun depan, jumlah pemilihnya 8,1 juta, naik 200 ribu dibanding pemilihan 2014.

Beratnya medan di Banten dibahas khusus dalam Rapat Kerja Nasional Bravo-5 di Hotel Golden Boutique, Jakarta, pada 8-10 Desember lalu. Menurut Ketua Bravo-5 Wilayah Banten Irsyad Djuwaeli, dalam pertemuan itu, Ketua Dewan Pengarah Bravo-5 Luhut Binsar Pandjaitan -memaparkan daerah-daerah yang masih rawan, seperti Banten, Jakarta, dan Jawa Barat.

Meskipun di Banten kalah, di Jakarta dan Jawa Barat sebenarnya Jokowi-Ma’ruf unggul. Tapi selisihnya tipis. Berdasarkan hasil survei Bravo-5, Jokowi-Ma’ruf menang dengan 54,4 persen suara di Jakarta. Adapun di Jawa Barat, provinsi dengan pemilih terbanyak, yakni 32 juta, elektabilitasnya hanya 48,3 persen. Bandingkan dengan di Jawa Tengah dan Yogyakarta serta di Jawa Timur. Menurut survei yang sama, di Jawa Tengah dan Yogyakarta, suara Jokowi-Ma’ruf di atas 75 persen, sedangkan di Jawa Timur mencapai 61,8 persen.

Menurut Irsyad, saat memaparkan data tersebut, Luhut bahkan menyebut namanya secara khusus. “Ustad Irsyad, ini Banten mau kalah. Kita harus bekerja keras. Nanti saya ajarkan cara khusus untuk di Banten,” ujar Irsyad, menirukan Menteri Koordinator Kemaritiman itu. Ketua -Bravo-5 Fachrul Razi menambahkan, Luhut juga berpesan agar tim Bravo-5 menjual keberhasilan pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla saat bertemu dengan masyarakat.

Sehari setelah pemaparan Luhut, giliran mantan Sekretaris Kabinet, Andi Widjajanto, memberikan pengarahan. Isinya, menurut Irsyad Djuwaeli, menekankan agar Bravo-5 bekerja lebih keras melakukan serangan darat di tiga provinsi tersebut. Andi adalah Ketua Cakra 19, yang juga dibentuk Luhut bersama sejumlah purnawirawan untuk memenangkan Jokowi dalam pemilihan presiden.

Sekretaris Jenderal Cakra 19 Eko Wiratmoko mengatakan dia juga memberikan saran kepada Luhut agar meminta Ma’ruf berfokus di Banten. “Ma’ruf tidak berdampak signifikan. Kalaupun naik, paling cuma satu strip,” ujarnya.

Luhut dan Andi belum bisa dimintai tanggapan. Staf Khusus Menteri Koordinator Kemaritiman Atmadji Sumarkidjo membenarkan kabar bahwa bosnya hadir dalam rapat kerja Bravo-5. Tapi dia tidak tahu persis isi pembicaraannya. “Diundang dan rapatnya bersifat tertutup,” kata Atmadji.

Ma’ruf Amin masih percaya diri meskipun medan di Banten gawat. Menurut Ma’ruf, di Banten dia akan mendekati ulama dan jawara. Dalam waktu dekat, ia akan mengumpulkan kiai dan pengurus cabang Nahdlatul Ulama di pesantren miliknya, An-Nawawi Tanara, di Serang. “Apalagi saya lahir di Banten,” ujarnya kepada Tempo pada Jumat dua pekan lalu.

 

MINIMNYA efek Ma’ruf Amin juga dibahas dalam rapat Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf di lantai lima gedung High End, Jakarta Pusat, pada Rabu malam dua pekan lalu. Sekretaris Tim Kampanye -Nasional Hasto Kristiyanto menyebutkan pertemuan itu diadakan untuk -mengevaluasi elektabilitas kandidat di tiap wilayah.

Pertemuan tersebut dihadiri Luhut Binsar Pandjaitan, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, yang juga menjabat Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional, dan sejumlah lembaga survei. Direktur Relawan Tim Kampanye Nasional Maman Imanulhaq menuturkan, salah satu hal yang disorot dalam pertemuan itu adalah peran Ma’ruf Amin selama masa kampanye, yang dimulai pada September lalu. “Kami mempertanyakan kenapa Kiai Ma’ruf tidak mendongkrak elektabilitas. Bukan hanya di Banten, tapi nasional. Padahal, kalau Jokowi sendirian, elektabilitasnya tinggi,” ujar Maman.

Berdasarkan hasil analisis tim, kata Maman, Ma’ruf kurang dikenal karena tak banyak tampil di media. Tema pidato Ma’ruf jika berkunjung ke daerah juga tak bervariasi. Misalnya, saat ke Banyuwangi pada Oktober lalu, Ma’ruf mengatakan khilafah harus ditolak karena bisa meruntuhkan Indonesia. Pernyataan serupa dilontarkan Ma’ruf saat berkunjung ke Pontianak, sebulan sebelumnya.

Ketika memberikan pembekalan bagi calon anggota legislatif Partai NasDem dan Partai Solidaritas Indonesia, ia pun menyampaikan hal yang sama. Hasto Kristiyanto menyebutkan seragamnya topik pidato itu lantaran Ma’ruf ingin dikenal konsisten dalam berbicara.

Maman menuturkan, kunjungan Ma’ruf ke daerah kadang tidak tepat sasaran. Misalnya kampanye di Papua pada November lalu. Menurut survei, daerah itu sudah dikuasai Jokowi-Ma’ruf sehingga tidak terlalu mendesak untuk didatangi. Ma’ruf pun kurang berhitung. Contohnya saat ia berkunjung ke Lampung pada 26-27 September lalu. Padahal, dua hari sebelumnya, Jokowi baru saja mengunjungi daerah itu.

Ma’ruf Amin saat bertemu dengan warga Banten, beberapa waktu lalu. ANTARA/Puspa Perwitasari

Tiga politikus di Tim Kampanye Nasional menyebutkan acaknya jadwal Ma’ruf ke daerah disebabkan oleh komunikasi yang tak mulus antara tim inti Ma’ruf dan Tim Kampanye Nasional. Ada tiga tim yang melekat pada Ma’ruf, yang masing-masing bertugas mengatur kunjungan ke daerah, merancang strategi, dan menyiapkan isu yang disampaikan kepada publik. Tim itu digawangi keluarga, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, dan Menteri Pertanian Amran Sulaiman, yang berduet dengan pengusaha asal Kalimantan Selatan, Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam, Wakil Bendahara Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf.

Ma’ruf mengatakan mengenal Amran dan Haji Isam. Menurut Ma’ruf, Amran adalah salah seorang yang memperkenalkannya kepada Haji Isam. Pengusaha batu bara itu bahkan pernah menawari Ma’ruf pergi umrah pada Agustus lalu -menumpang jet pribadinya. “Awalnya diajak, tapi akhirnya saya naik -Emirates. Haji Isam naik pesawat sendiri,” ujar Ma’ruf.

Amran enggan memberikan komentar ihwal kedekatannya dengan Ma’ruf dan keberadaannya di tim inti sang Kiai. Adapun Haji Isam belum bisa dimintai tanggapan. Nomor telepon yang sebelumnya dipakai saat berkomunikasi dengan Tempo tidak aktif.

Putri sulung Ma’ruf Amin, Siti Ma’rifah, mengatakan memang ada tim yang melekat pada ayahnya. Tapi saat ini regu tersebut sudah melebur ke dalam Tim Kampanye Nasional. Perihal komunikasi dengan Tim Kampanye Nasional selama ini, Siti menyebutkan, “Selalu dikoordinasi.”

Ihwal elektabilitasnya yang tak kunjung melesat, Ma’ruf mengatakan naik-turun hasil survei merupakan hal yang wajar. Ma’ruf menampik menjadi penyebab turunnya elektabilitas dia dan Jokowi. “Turun sedikit ketika dolar naik.”

 

MANDEKNYA elektabilitas Jokowi-Ma’ruf terlihat, antara lain, dalam sigi Lingkaran Survei Indonesia. Dua pekan lalu, Lingkaran merilis tingkat keterpilihan pasangan nomor urut satu itu 53,2 persen, sedangkan Prabowo-Sandiaga 31,2 persen. Angka Jokowi-Ma’ruf itu sama persis dengan hasil survei Lingkaran pada September lalu.

PARA Syndicate, penerus Soegeng Sarjadi Syndicate, lembaga kajian kebijakan dan survei, menemukan tren yang sama. PARA menganalisis 12 hasil survei elektabilitas kedua kandidat dari sejumlah lembaga survei pada periode Agustus-November lalu. Hasilnya, tingkat keterpilihan Jokowi-Ma’ruf 52-53 persen. Sedangkan Prabowo-Sandiaga justru merangkak naik meski tipis.

Peneliti Lingkaran Survei Indonesia, Adjie Alfaraby, menilai elektabilitas Jokowi-Ma’ruf macet karena belum ada -segmen pemilih baru yang digaet. Jokowi justru kehilangan dukungan dari kelas menengah dan kaum terpelajar yang menganggap Ma’ruf konservatif, seperti tecermin dalam survei LSI pada Agustus lalu. “Tapi menang di kalangan Islam,” ujar Adjie.

Namun tak semua kalangan Islam menerima Ma’ruf. Latar belakangnya sebagai pengurus Nahdlatul Ulama membuatnya tertatih-tatih mendekati Muhammadiyah, yang juga memiliki massa yang besar. “Belum sepenuhnya diterima,” kata Hajriyanto Thohari, salah seorang Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Ini tergambar dari sejumlah survei yang menunjukkan sebagian besar warga Muhammadiyah condong ke Prabowo.

Ma’ruf bukannya tak berupaya mendekati berbagai kalangan, terutama kelompok Islam. Tugas yang diberikan Jokowi pun, menurut Ma’ruf, adalah mendekati pemilih muslim. Ketika bertemu dengan kelompok-kelompok itu, Ma’ruf menjelaskan bahwa Jokowi tak anti-Islam seperti yang diembuskan sebagian -penentangnya.

Jokowi, kata Ma’ruf, sudah menetapkan Hari Santri Nasional, membentuk bank wakaf, mendirikan Komite Nasional Keuangan Syariah, dan—tentu saja—menggandeng dia sebagai calon wakil presiden. “Itu tanda beliau cinta Islam,” ujarnya.

HUSSEIN ABRI DONGORAN, AHMAD FAIZ, FIKRI ARIGI, DEWI NURITA



Laporan Utama 1/4

Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.