Dengung Slang Pemadam Dusta - majalah.tempo.co

Laporan Utama 3/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Dengung Slang Pemadam Dusta


KEMENANGAN Donald Trump di Amerika Serikat dan Jair Messias Bolsonaro di Brasil

hussein abri

Edisi : 1 Desember 2018
i Donald Trump saat kampanye pemilihan presiden di Birmingham, Alabama, Amerika Serikat, November 2015. -REUTERS/Marvin Gentry
Donald Trump saat kampanye pemilihan presiden di Birmingham, Alabama, Amerika Serikat, November 2015. -REUTERS/Marvin Gentry

KEMENANGAN Donald Trump di Amerika Serikat dan Jair Messias Bolsonaro di Brasil menjadi topik yang dibahas panjang-lebar oleh pakar neurosains Roslan Yusni Hasan saat bertemu dengan Erick Thohir dan Meu-tya Viada Hafid pada Senin dua pekan lalu. Kepada Erick dan Meutya, yang berada di kubu pendukung Joko Widodo-Ma’ruf Amin, Roslan menjelaskan peran ilmu saraf otak dalam kampanye Trump dan Bolsonaro.

“Kampanye mereka menggunakan jasa ilmuwan neurologi untuk memetakan otak masyarakat agar mereka memilih kandidat. Apa pun caranya untuk menang,” ujar dokter saraf otak yang kerap disapa Ryu Hasan ini pada Jumat pekan lalu. Meutya Hafid membenarkan ada pertemuan antara dia, Erick, dan Roslan di kawasan Rasuna Epicentrum, Kuningan, Jakarta, Senin dua pekan lalu itu. “Kami sharing informasi.”

Dalam kampanye pemilihan Presiden Amerika 2016, Donald Trump kerap melontarkan pernyataan yang membakar masyarakat. Misalnya, ia mengatakan warga Amerika sulit mencari lapangan kerja karena negeri itu dibanjiri imigran. Trump pun bertekad mendeportasi jutaan imigran ilegal, yang dia sebut sebagai sumber kriminalitas, dan membangun tembok di perbatasan Meksiko untuk menangkal arus pendatang dari selatan Amerika.

Trump juga menuduh Presiden Amerika sebelumnya, Barack Obama, bukan putra asli Amerika, melainkan kelahiran Mombasa, Kenya. Pesaing Trump dalam pemilihan Presiden Amerika ketika itu, Hillary Clinton, menyebutkan Trump keterlaluan karena telah berbohong. “Ia berutang maaf kepada Obama dan warga Amerika Serikat,” ujarnya.

Di Brasil, Bolsonaro juga sering memekikkan jargon populis dalam kampanyenya. Ia terang-terangan mendukung hukuman mati, penyiksaan, dan penembakan terhadap musuh politik. Ia juga menjunjung kediktatoran militer Brasil pada 1964-1985, yang kerap menyiksa aktivis sayap kiri. “Saya mendukung penyiksaan, Anda tahu itu, dan saya yakin rakyat Brasil juga mendukung,” tutur Bolsonaro suatu waktu.

Pensiunan tentara ini dijuluki sebagai “Trump dari Negeri Tropis” karena mereplikasi gaya kampanye Trump. Ia membuat slogan “Brasil di depan semuanya dan Tuhan di atas segalanya” seperti Trump dengan jargonnya “Amerika-lah yang Pertama”. Krisis politik dan ekonomi sejak 2014 menggerus kepercayaan rakyat kepada pemerintah. Ditambah skandal korupsi yang membelit pemerintahan sebelumnya, sebagian besar rakyat Brasil pun berpaling ke Bolsonaro.

Ahmad Mukhlis Firdaus, kandidat doktor di University of Oxford, Inggris, yang pernah mengkaji gejala ini, menyebutkan Trump dan Bolsonaro menggunakan metode “slang pemadam kebohongan” alias “firehose of falsehood” untuk mengail suara pemilih. “Semuanya dirancang untuk membangun ketidakpercayaan terhadap informasi,” ujarnya.

Ia merujuk pada laporan RAND Corporation, lembaga riset nonprofit di Amerika Serikat, yang menyebutkan metode tersebut awalnya digunakan di Rusia pada 2008. Dalam laporan itu, dijelaskan bahwa “slang pemadam kebohongan” merupakan metode yang runtut: menjangkau banyak orang, dilakukan terus-menerus, tak jadi masalah jika mudah terbongkar, dan tak jadi masalah pula jika tak konsisten—bahkan makin baik. Kebohongan tersebut disebarkan ke berbagai saluran komunikasi, dari Internet, media sosial, sampai media massa.

Dokter Roslan Yusni Hasan menuturkan, metode “slang pemadam kebohongan” memanipulasi kerja otak dengan ancaman dan kengerian. Otak manusia, kata dia, cenderung tertarik pada teori konspirasi. Ketika dicekoki informasi palsu dan mengancam, otak akan penasaran terhadap kabar tersebut. “Informasi palsu itu seperti lalat yang ingin menghancurkan toko, tapi hanya bisa berdengung,” ujar Roslan.

Dengungan itu mempengaruhi bagian otak yang bernama amigdala dan insula. Ukuran amigdala dan insula tiap orang bisa berbeda. Pada kaum konservatif, amigdalanya lebih tebal ketimbang insulanya. Sebaliknya, orang moderat dan liberal, yang mengutamakan kebahagiaan dan hak-hak individu, memiliki insula yang lebih besar. “Kalau ketakutan bangkit, amigdala menebal. Sifat progresif bisa menjadi konservatif,” ucap Roslan.

Banjir informasi juga menyebabkan otak kelelahan untuk menganalisis. Akhirnya, otak menerima begitu saja informasi tanpa melakukan verifikasi lagi. “Slang pemadam kebohongan” efektif bekerja pada kondisi demikian.

Dalam pemilihan presiden di Indonesia, gejala itu mulai tampak. Kandidat yang berlaga, Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, beberapa kali melontarkan pernyataan yang provokatif.

Prabowo, misalnya, sempat melontarkan slogan “Make Indonesia Great Again” karena menilai pemerintah gagal menyejahterakan rakyat. Ia juga mengkritik situasi ekonomi saat ini dengan nada keras. “Ini lebih parah dari neoliberalisme. Yang terjadi ekonomi kebodohan, the economics of stupidity,” katanya.

Jokowi beberapa kali mengeluarkan ungkapan yang ditujukan kepada lawan politiknya, seperti “politikus sontoloyo” dan “politik genderuwo”. Wakil Direktur Komunikasi Politik Tim Kampanye Joko Widodo-Ma’ruf Amin, Meutya Hafid, menuturkan cara itu dilakukan untuk mengimbangi pernyataan miring yang dilontarkan kubu Prabowo-Sandi. “Mereka menjual ketakutan, kami harus membalasnya,” ucapnya.

Juru bicara Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandiaga, Andre Rosiade, mengatakan kubunya tak meniru gaya kampanye Trump dan Bolsonaro. “Kalau ada diksi dan slogan yang bagus, kenapa tidak dipakai?” ujarnya.

HUSSEIN ABRI DONGORAN



Laporan Utama 3/4

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.