Genderuwo di Dalam Tagar - majalah.tempo.co

Laporan Utama 2/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Genderuwo di Dalam Tagar


Tim media sosial kedua kandidat bertugas menangkis sekaligus menyerang lawan. Saling mengintai kesalahan.

devy ernis

Edisi : 1 Desember 2018
i Anggota tim Second House, Bandung, 30 November 2018. -TEMPO/Prima Mulia
Anggota tim Second House, Bandung, 30 November 2018. -TEMPO/Prima Mulia

 

PADA layar telepon seluler Arya Mahendra Sinulingga tertera daftar tanda pagar yang terangkum dalam “#02 Prabowo-Sandiaga”. Di urutan pertama tertulis “#2019GantiPresiden”, kedua “#PrabowoSandi”, dan ketiga “#Prabowo”. Di bawahnya ada belasan tanda pagar lain beserta angka yang berubah-ubah. Pada -pojok atas layar, tercantum waktu pada saat itu.

“Dari telepon ini, saya bisa memantau apa yang sedang dimainkan kubu sebelah di Twitter,” ujar Arya saat ditemui pada Rabu pekan lalu.

Pergerakan tanda pagar atau tagar yang dipopulerkan pendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno itu dipantau Arya melalui radar01.com. Aplikasi ini dikembangkan Tim Kampanye Nasional Joko Widodo-Ma’ruf Amin. Di tim tersebut, Arya menjabat Direktur Informasi Publik.

Tagar adalah tanda yang disematkan pada unggahan di media sosial untuk menghimpun berbagai unggahan, terutama yang topiknya sama. Pada layar telepon seluler Arya, di samping tagar “#2019GantiPresiden”, tertulis angka 340, sedangkan “PrabowoSandi” 188. “Angka itu menunjukkan jumlah akun yang sedang mendorong atau lagi mainin tagar itu,” kata Arya, Wakil Ketua Umum Partai Perindo.

Menurut Arya, hasil pemantauan di media sosial tersebut menjadi salah satu bahan untuk merancang konten dan tagar tandingan. Bermarkas di gedung High End, satu kompleks dengan gedung MNC Tower di Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, 20-an orang bekerja menggodok konten dan kemudian memviralkannya.

Wakil Direktur Komunikasi Politik Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf, Meu-tya Viada Hafid, mengatakan tiga direktorat di tim Jokowi-Ma’ruf berkolaborasi untuk melawan Prabowo-Sandiaga dalam “perang udara”. Ketiga direktorat itu Direktorat Komunikasi Politik, Direktorat Konten, dan Direktorat Informasi Publik.

Setelah Direktorat Konten merampungkan materi, konten tersebut dievaluasi sebelum disebarkan ke media sosial. “Untuk mengomentari apa yang pas dan kurang,” kata Direktur Komunikasi Politik Usman Kansong, yang juga Pemimpin Redaksi (nonaktif) Media Indonesia. Lolos di tahap evaluasi, konten disebarkan dengan bantuan gugus tugas media sosial, yang salah seorang anggotanya adalah peneliti lembaga survei Populi Center, Nona Evita. “Tugas kami membantu memviralkan tagar sekaligus menyebarkan informasi yang sekiranya perlu diketahui warganet,” ujar Nona.

Gugus tugas tersebut berada di bawah Direktorat Informasi Publik. Supaya viral, kata Arya Sinulingga, konten disebarkan ke grup WhatsApp partai pendukung, relawan, dan tokoh berpengaruh di media sosial. “Mereka lalu menyebarkannya ke media sosial,” ujar Arya. Misalnya, ketika pada Rabu pekan lalu tagar “#2019GantiPresiden” mencuat, Arya menginstruksikan timnya memviralkan “#01JokowiLagi” sembari menambahkan tautan berita di situs web mengenai kinerja pemerintah.

Tagar lain yang dipopulerkan tim Jokowi-Ma’ruf adalah “#SaveMukaBoyo-lali”. Tagar itu viral setelah Prabowo berpidato di hadapan warga Boyolali pada akhir Oktober lalu. Kala itu, Prabowo berbicara mengenai ketimpangan ekonomi. Dia memberikan perumpamaan bahwa orang Boyolali tak punya tampang orang kaya sehingga mungkin bakal diusir jika masuk hotel berbintang. Ucapan Prabowo memantik protes sebagian masyarakat Boyolali sekaligus menjadi peluru bagi kubu Jokowi.

Sekretaris Perusahaan MNC Group itu mengatakan tagar “#SaveMukaBoyolali” tak diciptakan timnya, tapi muncul di media sosial karena diunggah warga Boyo-lali. “Begitu tagar itu muncul, kami hanya membantu memviralkan. Yang memainkan bukan dari sini,” ujar Arya. Menurut dia, pertempuran di media sosial lebih mudah dimenangi jika isunya berasal dari blunder lawan. “Kalau isunya original, enggak capek. Kami tinggal support saja,” katanya.

Di luar tim resmi, ada regu yang merancang tagar dan memviralkannya. Salah satunya tim yang dipimpin dosen Universitas Padjadjaran, Bandung, Muradi. Pengamat pertahanan ini salah seorang dirigen kampanye media sosial Jokowi-Ma’ruf di Jawa Barat.

Acara diskusi yang diprakarsai tim digital Prabowo-Sandiaga, Pride, di Jakarta, September 2018. -Instagram @RelawanPride

Menurut Muradi, kubu Jokowi-Ma’ruf memiliki sekitar 8.000 “prajurit” di media sosial di seluruh Indonesia. Di Jawa Barat saja, kata dia, jumlahnya sekitar 500 orang. “Sampai hari ini, semua akun ada pemiliknya. Mereka bukan relawan atau anggota timses, tapi orang biasa,” ujar Muradi.

Beralamat di Jalan Tubagus Ismail, Bandung, markas tim Muradi dinamai Second House. “Kami menyebutnya komunitas pendukung Jokowi,” katanya. Di rumah itulah konten media sosial digodok dengan bantuan lima anak muda, yang di antaranya berstatus mahasiswa Universitas Padjadjaran. Mereka juga bertugas menyebarluaskan isu atau tanda pagar.

Salah satu tagar yang diciptakan tim Muradi adalah “#banserbersamaNKRI”. Tagar itu dibuat untuk menandingi “#bubarkanbanser” yang viral setelah peristiwa pembakaran bendera Hizbut Tahrir pada peringatan Hari Santri di Garut, Oktober lalu.

Kubu Prabowo sebenarnya memainkan strategi serupa. Pada saat Jokowi menyebut “politik genderuwo” untuk menyindir politikus penyebar ketakutan di masyarakat pada November lalu, tim Prabowo-Sandiaga memantau tagar “#PolitikGenderuWO” mencapai lebih dari 40 ribu cuit-an di Twitter. Tim digital Prabowo-Sandiaga, Pride, kemudian menciptakan “EkonomiGenderuwo” sebagai tandingannya.

Menurut Koordinator Pride sekaligus anggota Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi, Anthony Leong, penggodokan nama tagar tersebut tak lama. “Kami hanya memotret fakta,” ia mengklaim. Tagar itu kemudian dipopulerkan sekitar seribu “relawan” dengan menyertakan tautan berita tentang kenaikan harga bahan pokok dan sulitnya mendapat pekerjaan.

Tim media sosial juga bertugas mempopulerkan ungkapan yang dilontarkan Prabowo atau Sandiaga. Misalnya, begitu Sandiaga melontarkan “tempe setipis kartu ATM”, tim menyebarkannya di media sosial. Menurut anggota Direktorat -Teknologi Informasi Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi, Raditya Pratama, timnya tak perlu bersusah payah membuat ungkapan tersebut kondang. “Yang makin membuat viral justru kubu Jokowi,” ujar Raditya. Respons pendukung Jokowi di media sosial dengan sendirinya membuat celotehan Sandiaga makin kesohor.

Dalam “perang udara”, Raditya menyebutkan timnya akan terus melontarkan dua isu ekonomi, yakni soal lapangan pekerjaan dan harga bahan pokok. Kubu Prabowo mengklaim, pada era pemerintahan Jokowi, angka pengangguran meningkat dan harga bahan pokok naik terus.

Ismail Fahmi, pemerhati media sosial sekaligus pengembang Drone Emprit, aplikasi untuk memantau percakapan di dunia maya, menilai kubu Jokowi lebih rapi dalam merancang konten media sosial. Berdasarkan data yang dihimpun Drone Emprit, Ismail juga menyimpulkan bahwa kubu Prabowo lebih militan ketika bertempur di udara. “Selain jumlah percakapannya lebih banyak, pendukung Prabowo lebih aktif mencuit ulang unggahan para tokohnya,” kata Ismail.

DEVY ERNIS, HUSSEIN ABRI, PRAMONO, AHMAD FIKRI (BANDUNG)



Laporan Utama 2/4

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.