Tujuh Hari Menggempur Boyolali - Laporan Utama - majalah.tempo.co

Laporan Utama 1/4

Selanjutnya
text

Tujuh Hari Menggempur Boyolali


Dipasok tim di belakangnya, para calon presiden dan wakil presiden melontarkan kata-kata nyeleneh.

Stefanus Teguh Edi Pramono

Edisi : 1 Desember 2018
i Joko Widodo dan Prabowo Subianto di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, Oktober 2014. -Dok TEMPO/M. Iqbal Ichsan
Joko Widodo dan Prabowo Subianto di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, Oktober 2014. -Dok TEMPO/M. Iqbal Ichsan

ACARA Presiden Joko Widodo di lapangan tenis indoor Kabupaten Lampung Tengah, Provinsi Lampung, Jumat dua pekan lalu, sejatinya pembagian 1.300 sertifikat tanah untuk warga setempat. Tapi, di tengah pidatonya, Jokowi menyinggung soal fitnah yang berseliweran menjelang pemilihan presiden 2019.

Mengenakan songkok dan kain tapis di bahunya, Presiden mengeluhkan fitnah yang kerap ditudingkan kepadanya bahwa dia adalah kader Partai Komunis Indonesia. Ia lalu menunjuk layar besar yang memampangkan foto Dipo Nusantara Aidit sedang berpidato pada 1955. Di bawah podium Aidit, ada sosok yang kerap diidentikkan oleh penyebar isu sebagai Jokowi. “Lahir saja belum, astagfirullah,” ujar Jokowi. “Ini yang kadang-kadang, aduh, mau saya tabok orangnya di mana. Saya cari betul,” kata Jokowi lagi. Ia mengklaim isu bahwa dia kader PKI dipercaya oleh sekitar 9 juta penduduk Indonesia.

Tak sampai enam jam setelah pidato tersebut, jagat maya mulai riuh dengan tanda pagar “#TabokFitnah”. Aplikasi Drone Emprit, yang digagas pakar teknologi informasi Ismail Fahmi, mencatat, satu jam setelah magrib, ada 2.000 percakapan di Twitter yang menggunakan tanda pagar atau tagar tersebut. Hingga tengah malam, jumlahnya meningkat lima kali lipat. “Hari itu ‘#TabokFitnah’ menjadi trending topic,” ujar Ismail, Rabu pekan lalu.

Menurut Ismail, mayoritas pengguna tagar itu adalah pendukung Joko Widodo-Ma’ruf Amin. Ibarat perang, kata dia, tagar itu tabuhan genderang yang mempersatukan pemilih pasangan tersebut. Menjadikan tagar itu sebagai topik yang paling dibicarakan tak ubahnya memenangi perang.

Direktur Informasi Publik Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf, Arya Sinulingga, yang memantau pergerakan tagar tersebut, mengatakan pendukung Jokowi-Ma’ruf di media sosial hari itu memang menggaungkan “#TabokFitnah”. Wakil Ketua Umum Partai Persatuan Indonesia ini mengatakan penggunaan tagar itu merupakan upaya melawan fitnah yang kerap ditujukan kepada Presiden Jokowi. “Tim media sosial yang ada di tim kampanye nasional juga ikut menaikkan tagar tersebut,” ujarnya.

Warga Boyolali melakukan aksi damai ”Save Tampang Boyolali” di Boyolali, Jawa Tengah, 4 November lalu. -ANTARA/Puspa Perwitasari

Tim Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno pun menggelar perlawanan. Anthony Leong, anggota tim media sosial yang berada di bawah Direktorat Komunikasi dan Media Badan Pemenangan Nasional, menyebarkan potongan video Jokowi di Lampung Tengah yang disatukan dengan petikan pidato Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri kala berkampanye dalam pemilihan Gubernur Sumatera Utara. Dalam video itu, Megawati menyatakan jangan memilih pemimpin yang menabok rakyatnya. “Kami mendapat video itu dari simpatisan, lalu kami sebarkan,” kata Anthony.

Tak mau menari dengan tabuhan genderang lawan, kubu Prabowo-Sandi menggunakan tagar berbeda, yaitu “#2019PrabowoSandi” dan “#JanganPilihTukangTabok”. Anthony mengakui penggunaan dua tagar itu tidak terlalu menggema di Twitter. Tim Prabowo ogah menggunakan “#TabokFitnah” karena tak mau ikut memviralkannya.

Aplikasi Drone Emprit mencatat, perang kata-kata para calon makin sering muncul menjelang pemilihan presiden 2019. Pernyataan mereka kemudian diviralkan di media sosial. “Setiap satu calon menyerang, lawannya akan membalas,” ujar Ismail Fahmi.

Dua kubu sama-sama menggunakan berbagai istilah untuk menyerang lawan. Sandiaga Uno, misalnya, pada Jumat pertama September lalu memunculkan ungkapan “tempe setipis kartu ATM”. Menurut Sandi, pedagang menjual tempe dalam ukuran tipis akibat kenaikan harga bahan baku. “Tempe katanya sekarang sudah dikecilkan dan tipisnya sudah hampir sama dengan kartu ATM,” tutur Sandi di rumah Prabowo di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan.

Sejak itu, mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta tersebut beberapa kali menyebut istilah lain yang terkait dengan tempe. Saat berkunjung ke Pasar Wonodri, Semarang, Senin terakhir September lalu, Sandi, yang melihat tempe dibungkus plastik, menyebut istilah “tempe saset”. “Bukan cuma sampo yang saset, tempe juga begitu,” ujarnya. Di Pasar Tanjung Samanhudi, Jember, Jawa Timur, sebulan kemudian, Sandi menyebut tempe berukuran besar sebagai “tempe tablet”.

Dua anggota badan pemenangan nasional Prabowo-Sandi mengatakan Sandiaga memiliki tim yang merancang berbagai istilah yang mudah dimengerti publik. Tim ini bermarkas di Jalan Pulombangkeng Nomor 15, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, tak jauh dari rumah Sandiaga.

Menurut keduanya, istilah yang dimunculkan bersifat unik dan baru. Umumnya istilah itu terkait dengan ketidakstabilan harga, yang menjadi salah satu fokus kampanye Sandiaga.

Sebagai tempat melontarkan istilah itu, kata dua sumber tersebut, pasar tradisional dipilih Sandiaga karena di tempat ini masyarakat merasakan harga tak stabil. Di pasar pula, menurut keduanya, tim Sandiaga merancang berbagai pose foto, seperti menutup rambut dengan petai atau duduk di atas cabai. Foto dan istilah nyeleneh didesain agar bisa viral di media sosial.

Personel tim Sandiaga, Iqbal Farabi, mengatakan ide menggunakan istilah “tempe setipis kartu ATM” muncul setelah Sandi bertemu dengan penjual gorengan yang menjajakan tempe tipis karena takut konsumen tak akan membeli tempe tebal, yang harganya lebih mahal. Personel tim media sosial Sandiaga, Raditya Pratama, membantah tudingan bahwa jagoannya sengaja merancang istilah untuk mempengaruhi persepsi publik. “Istilah ‘tempe setipis ATM’ itu spontanitas Sandi,” ujar Raditya.

Setelah ungkapan itu kondang, barulah Raditya dan timnya memberikan masukan kepada Sandiaga. “Kami beri saran supaya dia berbicara lagi soal tempe,” katanya. Berbagai istilah itu, menurut Raditya, bertujuan menunjukkan harga tempe di tiap pasar berbeda-beda. “Nanti akan ada istilah baru lagi,” ujarnya.

Menurut Raditya, timnya terus memantau efek pernyataan Sandiaga di media sosial. Setelah itu, tim akan menjelaskan maksud pernyataan tersebut kepada para juru bicara. Tujuannya agar mereka tak memberikan penafsiran berbeda atas ucapan Sandi jika ditanyai wartawan. Para juru bicara pun bertugas menyebarkan kosakata Sandi.

Pasangannya, Prabowo Subianto, juga kerap menggunakan ungkapan nyeleneh. Maret lalu, Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya itu menyebutkan Indonesia bakal bubar pada 2030. Akhir Oktober lalu, saat berpidato di Boyolali, Jawa Tengah, mantan Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus itu menyebutkan orang miskin sulit masuk hotel mewah karena memiliki “tampang Boyolali”. Wakil Sekretaris Jenderal Gerindra yang juga juru bicara tim Prabowo-Sandiaga, Andre Rosiade, mengatakan istilah itu spontan diucapkan Prabowo.

Juru bicara tim kampanye Jokowi-Ma’ruf, Budiman Sudjatmiko, menuding istilah-istilah yang digunakan Prabowo dan Sandiaga cenderung menebarkan ketakutan dan sarat kebohongan. Budiman menilai tim Prabowo-Sandiaga menggunakan metode “slang pemadam kebohongan” atau firehose of falsehood. Para pengamat politik menyebutkan metode ini digunakan Donald Trump saat pemilihan Presiden Amerika Serikat pada 2016.

Budiman menjelaskan, inti dari gaya kampanye itu adalah menyebarkan kabar bohong berulang kali seperti air yang memancur deras dari slang pemadam kebakaran. “Setelah kebohongannya terungkap, mereka menuding inkumben melakukan kebohongan yang lebih parah,” ujar Budiman.

Menurut politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ini, informasi bohong yang disampaikan terus-menerus berpotensi mempengaruhi persepsi publik. “Mereka jadi mengamini kebohongan itu,” katanya. Raditya Pratama membantah tudingan bahwa Prabowo dan Sandiaga menyebarkan kebohongan. “Semua yang diungkapkan Prabowo dan Sandiaga berdasarkan data dan fakta,” ujarnya.

Budiman membuat kajian soal metode ini dan menyampaikannya kepada Jokowi dalam pertemuan Jokowi dengan orang-orang berpengaruh di media sosial di Hotel Santika, Bogor, Oktober lalu. Wakil Direktur Komunikasi Politik Tim Kampanye Jokowi, Meutya Viada Hafid, mengatakan Jokowi sudah mengetahui ihwal metode “slang pemadam kebohongan”.

Tiga anggota tim kampanye Jokowi mengatakan metode yang diterapkan lawan membuat Jokowi mengubah gaya kampanyenya. Caranya tak jauh berbeda dengan Prabowo-Sandi, yaitu menggunakan kosakata yang tak kalah nyeleneh. Tim Jokowi merancang istilah-istilah yang bisa menyerang sekaligus mewakili tudingan mereka terhadap kubu Prabowo. Maka muncullah istilah “politikus sontoloyo” dan “politik genderuwo”.

Ketiga sumber yang mengetahui rancangan tersebut mengatakan istilah-istilah itu kemudian disodorkan kepada anggota staf Presiden di Istana, yaitu Ari Dwipayana, agar bisa disebut saat Jokowi berpidato. Dimintai tanggapan, Ari mengatakan Presiden kerap melontarkan istilah secara spontan. Jokowi, menurut Ari, juga mendengarkan masukan dari banyak kalangan, termasuk soal gaya kampanye. “Presiden terbuka mendengarkan masukan itu. Tapi, dijalankan atau tidak, berada di tangan Presiden,” ujarnya.

Joko Widodo menyapa peserta Sehat Bersama #01JokowiLagi di Lampung, 24 November lalu. -ANTARA/Aloysius Jarot Nugroho

Saat berpidato dalam acara pembagian 5.000 sertifikat tanah di lapangan sepak bola Ahmad Yani, Jakarta Selatan, menjelang akhir Oktober lalu, Jokowi mengingatkan agar masyarakat berhati-hati terhadap politikus yang memperdaya mereka. “Banyak politikus baik, tapi juga banyak yang sontoloyo,” ujarnya. Begitu pula saat membagikan sertifikat di Tegal, Jawa Tengah, Jokowi mengatakan ada politikus yang suka menakut-nakuti rakyat. “Itu namanya politik genderuwo.”

Dua orang yang mengetahui asal-muasal penggunaan istilah “politik genderuwo” mengatakan persiapan memunculkan kata itu cukup matang. Tim media sosial telah menyiapkan meme dan tagar “#PolitikGenderuWO”—mengacu ke suku kata terakhir pada nama Prabowo. Begitu Presiden selesai berpidato, meme dan tagar itu pun diluncurkan ke media sosial.

Budiman Sudjatmiko mengatakan istilah seperti “sontoloyo” dan “politik genderuwo” muncul karena metode “slang pemadam kebohongan” sulit dilawan dengan menyajikan data, tapi mesti dengan gaya humor. “Di Amerika, kritikus Donald Trump bukan para akademikus, tapi komedian,” ujarnya.

Gempuran kata-kata oleh dua kubu nyaris tak pernah berhenti di media sosial. Tak hanya mendukung ucapan calon presidennya, tim media sosial dan simpatisan juga melancarkan serangan balik. Mereka pun sama-sama menanti lawan membuat kesalahan. Setelah Prabowo mengeluarkan istilah “muka Boyolali”, kata Direktur Informasi Publik Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf, Arya Sinulingga, pendukung Jokowi mengeluarkan tagar “#SaveMukaBoyolali”.

Tak hanya di udara, pendukung Jokowi pun melancarkan serangan darat dengan menggelar unjuk rasa di Boyolali. “Pertempurannya sampai tujuh hari di udara,” ujar Arya. Demikian pula sebaliknya. Setelah Jokowi mengeluarkan pernyataan “politik genderuwo”, tim Prabowo menyerang balik dengan tagar “#EkonomiGenderuwo”, yang menyoroti persoalan ekonomi selama kepemimpinan Jokowi.

Raditya Pratama dari tim media sosial Sandiaga mengatakan tidak semua serangan dilawan balik. Ibarat gerilya, kata Raditya, perlawanan cukup dilakukan sesaat. “Setelah bertahan, kami akan kembali ke isu ekonomi,” ujarnya.

PRAMONO, DEVY ERNIS, HUSSEIN ABRI YUSUF, RAYMUNDUS RIKANG



Laporan Utama 1/4

Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.