Tidurlah, Tidur... - Buku - majalah.tempo.co

Buku 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Tidurlah, Tidur...


SETELAH membaca buku ini, saya jadi takut membawa buku ke kamar tidur.

Bagja

Edisi : 1 Desember 2018
i Kurang tidur bisa menjadi bencana umat manusia. Sebuah studi komprehensif tentang kerja otak, tubuh, ingatan, juga peran mimpi dalam memori kita.
Kurang tidur bisa menjadi bencana umat manusia. Sebuah studi komprehensif tentang kerja otak, tubuh, ingatan, juga peran mimpi dalam memori kita.

Matthew Walker, melalui Why We Sleep, menunjukkan bahwa kemajuan peradaban telah merampas waktu tidur manusia modern karena teknologi lampu dan listrik membuat malam tetap terang.

Kehadiran lampu itu menjadi salah satu penyebab manusia berubah memandang waktu. Lampu itu pula yang membuat jam kerja manusia modern, terutama di perkotaan, menjadi lebih panjang. Dampaknya adalah tidur mereka berkurang satu setengah jam dibanding manusia purba, yang terlelap 7,6 jam.

Dosen ilmu saraf dan psikolog di University of California, Berkeley, Amerika Serikat, ini mengatakan bahwa membaca buku bisa menginterupsi memori dan membuat tidur tak sempurna. Membaca dengan lampu terang adalah distraksi tidur karena mata dan pikiran terdorong terus berjaga.

Walker, 46 tahun, meneliti urusan tidur ini selama lebih dari 20 tahun. Ia mengamati keadaan otak manusia yang tidur di bawah empat jam, empat-enam jam, dan rata-rata delapan jam semalam. Data penelitiannya itu ia hubungkan dengan banyak hal, dari tingkat kecerdasan, kecelakaan, penurunan ingatan, kerusakan otak, kepikunan, serangan jantung, hingga kanker.

Di luar soal cara penyajiannya yang menyenangkan, dengan kalimat sederhana yang terang dan jelas, temuan Walker agak mengerikan. Orang yang tidur empat jam memiliki peluang mengalami kecelakaan lalu lintas sebesar 60 persen dibanding mereka yang tidur delapan jam. Kerusakan otak pada mereka yang tidur empat jam sama dengan kerusakan otak pecandu alkohol.

Mereka yang tidur empat jam juga punya ingatan lebih buruk dibanding mereka yang tidur delapan jam. Untuk mengujinya, Walker meminta mahasiswanya belajar bermain piano. Mereka diminta menuliskan nada dengan dua tangan seturut irama, seperti sedang memencet tuts.

Esoknya, setelah para mahasiswa itu tidur, Walker mengamati tingkat kefasihan mereka bermain piano dan menghafal nada. Mahasiswa yang tidur delapan jam ternyata punya memori lebih kuat terhadap nada dan lebih fasih bermain piano ketimbang mereka yang tidur kurang dari enam jam.

Temuan itu mendorong Walker menelusuri lebih jauh sistem kerja ingatan manusia. Rupanya, tidur delapan jam adalah durasi terbaik untuk menyimpan dan mentransfer ingatan dari memori jangka pendek ke panjang, atau melupakannya.

Pada dasarnya, otak manusia terbagi dalam dua peran: otak tidur dan otak tak tidur. Pada bayi, rasio keduanya 50 : 50. Peran otak tidur terus menurun seiring dengan usia hingga stabil pada angka 80 : 20. Otak yang tak tidur itulah yang berperan mengolah mimpi dan memori ketika kita tidur.

Tak seperti Sigmund Freud, yang percaya bahwa mimpi punya makna, Walker menganggap mimpi hanya residu memori. Karena itu, tidur yang nyenyak membuat kita tak mengingat mimpi karena otak tak tidur kita sibuk mentransfer dan menyimpan memori. Sebaliknya, durasi tidur yang kurang membuat sistem kerja otak terganggu sehingga kemampuannya mencerna dan mengolah informasi menurun lebih cepat.

Karena tidur begitu penting dalam siklus hidup manusia, pada bagian akhir, Walker menyarankan pemerintah di negara mana pun agar memperhatikan kebutuhan tidur warga negaranya. Kemajuan ekonomi, yang membuat penduduk kota lebih banyak melek akibat kesibukan dan kemacetan, adalah malapetaka bagi umat manusia.

Dampaknya tak hanya pengeluaran negara lebih besar akibat biaya pengobatan naik, tapi juga menurunnya produktivitas dan kualitas penduduk, yang berimbas pada pertumbuhan ekonomi. Pemerintah Inggris kehilangan 30 miliar euro setahun atau setara dengan 2 persen produk domestik bruto lantaran penduduknya suka begadang.

Walker menyebut diri seorang “penidur yang serius”. Buku yang ia tulis selama empat tahun ini banyak memutarbalikkan fakta dan anggapan umum, seperti tidur menandakan kemalasan dan tak produktif. Faktanya, kurang tidur justru membuat hidup boros dan tak produktif. Dengan temuan-temuan soal dampak buruk kurang tidur itu, buku ini jelas tak baik dibawa ke kamar tidur.

 

Tak seperti Sigmund Freud, yang percaya bahwa mimpi punya makna,

Walker menganggap mimpi hanya residu memori.

 

 

WHY WE SLEEP: THE NEW SCIENCE OF SLEEP AND DREAMS

Penulis : Matthew Walker

Penerbit : Penguin, 2018

Tebal : 360 halaman

BAGJA HIDAYAT



Buku 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.