Bentrok di El Chaparral - Internasional - majalah.tempo.co

Internasional 1/3

Sebelumnya Selanjutnya
text

Bentrok di El Chaparral


Ribuan migran berdatangan dari Amerika Tengah ke perbatasan Meksiko untuk masuk Amerika Serikat. Presiden Trump mengancam akan menutup perbatasan.

Kurniawan

Edisi : 1 Desember 2018
i Migran dari Amerika Tengah melintasi Tijuana menuju perbatasan antara Amerika Serikat dan Meksiko, 20 November 2018.
Migran dari Amerika Tengah melintasi Tijuana menuju perbatasan antara Amerika Serikat dan Meksiko, 20 November 2018.

Maria Mesa, migran asal Honduras, bersama dua putri kembarnya yang berusia lima tahun, Saira dan Sheilly, berusaha menyeberangi sebuah sungai dangkal menuju pagar dekat pintu masuk El Chaparral di perbatasan Meksiko-Amerika Serikat, Ahad pekan lalu. Mereka hanya mengenakan pakaian yang melekat di badan. Mesa memakai celana-kaus hitam dan kaus bergambar tokoh kartun Disney. Satu anak memakai kaus biru-putih dan bercelana pendek. Satu lagi berkaus ungu serta hanya mengenakan popok dan sandal jepit. Ketika polisi Meksiko menghentikan mereka, Mesa berbalik arah.

Dua ratus meter dari mereka, dua migran lain telah menyeberangi sungai. Mereka mulai menggali tanah di kaki pagar perbatasan dengan tangan dan ember. Mereka mencoba membuat lubang agar bisa merangkak melewati pagar kawat setinggi sekitar tiga meter itu.

Tak jauh dari mereka, ribuan orang berkerumun di depan pintu gerbang masuk ke Amerika dari Tijuana, Meksiko. Ini gerbang perbatasan tersibuk dengan rata-rata 90 ribu orang melintas setiap hari—70 ribu orang bermobil dan 20 ribu berjalan kaki. Sebagian dari mereka datang dari Honduras dengan naik karavan dan sudah berhari-hari antre di sana untuk mendapatkan izin masuk Negeri Abang Sam. Suasana memanas. Beberapa orang mencoba memanjat tembok baja perbatasan setinggi sekitar sepuluh meter.

Tiba-tiba udara dipenuhi asap. Polisi perbatasan Amerika Serikat rupanya telah menembakkan gas air mata ke arah kerumunan migran. Seseorang berteriak dan kerumunan manusia itu pun berhamburan. Satu tabung gas jatuh di dekat Mesa dan keluarganya dan menyebarkan asap yang mencekik. Anak-anak Mesa terbatuk-batuk dan sang ibu langsung menyambar kedua putrinya. ”Saya tarik anak-anak dan lari,” kata Mesa kepada NBC News, Selasa pekan lalu.

Ibu lima anak itu mengatakan bahwa putranya yang berusia 3 tahun, James, juga bersama mereka dan pingsan setelah paru-parunya penuh gas. Ia dirawat di kamp pengungsian Benito Juarez di Tijuana. ”Salah satu dari anak-anak mungkin bisa mati,” ujarnya. Mesa berusaha masuk Amerika untuk bersatu dengan suaminya, yang kini tinggal di Louisiana.

Kim Kyung-hoon, fotografer Reuters, mengabadikan usaha keluarga Mesa menyeberangi perbatasan dan dibalas dengan tembakan gas air mata. Foto Mesa sekeluarga yang sedang berlari itu kemudian muncul dalam berbagai surat kabar Amerika dan memicu protes dari komunitas internasional. Foto itu menunjukkan kebohongan klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahwa para migran tersebut adalah penjahat dan anggota geng.

Namun Trump membela serangan gas air mata itu dan menyebut para migran sebagai orang-orang yang sangat keras kepala. Dia meminta Meksiko menarik para migran itu kembali ke negara masing-masing. ”Lakukan dengan pesawat terbang, lakukan dengan bus, lakukan dengan cara apa pun yang kalian mau, tapi mereka tidak masuk Amerika,” Trump mencuit di Twitter, Senin pekan lalu. ”Kami akan menutup perbatasan secara permanen bila perlu. Kongres, danai tembok itu!”

Migran yang kini berkumpul di Tijuana itu berdatangan dari berbagai negara di Amerika Tengah. Sebagian besar dari Honduras, negara yang memang sedang bermasalah. Negeri itu kini menjadi pusat perdagangan narkotik dan tempat korupsi merajalela. Keadaan bertambah buruk setelah kudeta pada 2009. Saat itu militer menggulingkan Presiden Manuel Zelaya, yang ingin memperpanjang masa kepresidenannya melalui referendum, dan menerbangkannya ke Kosta Rika. Kekuasaan kemudian diserahkan kepada Roberto Micheletti, Ketua Kongres.

Berbagai negara, Organisasi Negara-negara Amerika, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa mengecam kudeta itu dan menolak mengakui pemerintahan baru tersebut. Namun Amerika Serikat, yang punya banyak kebun pisang serta hubungan militer dan ekonomi dengan negeri itu, mendukung pemilihan umum setelah kudeta. Porfirio Lobo akhirnya menang dalam pemilihan umum itu, yang dikecam komunitas internasional karena sarat dengan kekerasan.

Meski pemerintah Honduras menyatakan krisis telah berakhir, kekerasan nyatanya terus meningkat dan mendorong ribuan orang keluar dari negeri itu. Orang-orang inilah yang naik karavan dan berkonvoi sejauh hampir 5.000 kilometer menuju perbatasan Meksiko untuk masuk ke Amerika Serikat.

NPR menyatakan sekitar 7.000 migran telah tiba di perbatasan Tijuana dengan menumpang karavan. Tapi ribuan migran lain tiba lebih dulu dan berkemah di sana. Beberapa ratus migran inilah yang bentrok dengan polisi perbatasan Amerika pada Ahad pekan lalu.

Rodney Scott, pemimpin Patroli Perbatasan Sektor San Diego, mengatakan kepada CNN bahwa beberapa migran melempari- polisi dengan batu dan polisi menembakkan gas air mata untuk melindungi diri. Polisi Meksiko kemudian menahan 98 orang dalam kerusuhan itu dan 42 orang ditahan oleh polisi Amerika, termasuk 8 perempuan dan beberapa anak.

Presiden Trump telah memerintahkan 6.000 tentara, termasuk polisi militer, menuju perbatasan untuk mendukung polisi Perlindungan Bea dan Cukai Perbatasan. Polisi dan pegawai bea-cukai memang dilengkapi senjata api, tapi juru bicara militer mengklaim bahwa para polisi militer itu tak dipersenjatai. Menteri Pertahanan Amerika James Mattis mengatakan para polisi militer hanya membawa tameng dan tongkat pentungan, bukan senjata api. Total 1.800 tentara diterjunkan di perbatasan pada Senin pekan lalu, bertambah dari pekan-pekan sebelumnya.

Trump juga memberi lampu hijau kepada tentara untuk menggunakan ”kekuatan mematikan” melawan para migran. Tapi Gedung Putih kemudian mengeluarkan memo bahwa keputusan untuk menggunakan ”kekuatan mematikan” itu hanya untuk melindungi para agen federal dan atas diskresi Menteri Pertahanan. Dan, dua pekan lalu, Menteri Mattis menekankan bahwa Departemen Keamanan Dalam Negeri telah menyerukan untuk tidak menggunakan kekuatan mematikan. Namun memo yang ditandatangani Kepala Staf Gedung Putih John Kelly itu juga memperluas kewenangan militer, yang bertentangan dengan pernyataan Mattis.

Para imigran itu ingin mencari suaka ke Amerika; tindakan yang sebenarnya dilindungi hukum Amerika dan hukum internasional. Namun pegawai perbatasan telah membatasi jumlah orang yang dapat mengajukan suaka. Hanya 40 orang yang diproses setiap hari. Para migran harus berbulan-bulan menunggu untuk mendaftar serta berbulan-bulan atau bahkan tahunan lagi untuk memprosesnya. Para migran memprotes lambannya proses ini.

Sebagian migran mulai putus asa. Jose Luis Tepeu, migran dari Guatemala, kini tinggal di sebuah kotak kardus. Dia telah menunggu lebih dari lima hari untuk bisa masuk Amerika. ”Bila tak bisa, saya akan pulang,” katanya, seperti dikutip Reuters, Kamis pekan lalu. Dia selama ini bekerja di Meksiko, tapi pendapatannya terlalu kecil untuk hidup dan menopang keluarganya. ”Anda tidak akan digaji bagus di sini.”

Kekerasan yang pecah pada Ahad pekan lalu itu telah mengejutkan sebagian migran. Belasan orang langsung balik badan setelah kejadian itu. Sebagian besar masih bertahan di tenda atau kemah seadanya di luar stadion olahraga Benito Juarez di Tijuana. Pemerintah Tijuana mencatat, 6.151 orang tinggal di kompleks olahraga itu, termasuk 3.936 pria, 1.147 perempuan, dan 1.068 anak.

Masalah migran ini memaksa pemerintah Amerika dan Meksiko mencari jalan keluar. The Washington Post melaporkan bahwa kedua pihak telah mencapai kesepakatan sementara, tapi tidak formal. Menurut kesepakatan itu, migran harus tetap tinggal di Meksiko selama permohonan suakanya diproses. ”Untuk saat ini, kami setuju terhadap kebijakan itu,” ucap Menteri Dalam Negeri Meksiko Olga Sanchez Cordero. Tapi, kata dia, itu hanya rencana jangka pendek.

Menteri Luar Negeri Meksiko Marcelo Ebrard menyerukan kepada pemerintah Trump agar membantu pembangunan di Amerika Tengah untuk menahan laju migran dari kawasan miskin. Kamis pekan lalu, pemerintah Meksiko mengumumkan rencana merelokasi 6.000 migran di Benito Juarez ke tanah seluas hampir satu hektare, yang dikenal sebagai El Barretal, yang sering menjadi tempat konser musik atau acara publik lain. Letaknya sekitar 18 kilometer dari Tijuana.

IWAN KURNIAWAN (NBC NEWS, REUTERS, CNN, THE WASHINGTON POST, MEXICO NEWS DAILY)



Internasional 1/3

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.