Bertumpuk Proyek di JALAN Tol Cikampek - majalah.tempo.co

Ekonomi dan Bisnis 1/5

Sebelumnya Selanjutnya
text

Bertumpuk Proyek di JALAN Tol Cikampek


Maju-mundur tiga proyek di ruas jalan tol Jakarta-Cikampek sempat meresahkan subkontraktor penyedia alat berat.

Putri Adityowati

Edisi : 1 Desember 2018
i Proyek pembangunan infrastruktur jalan tol layang Jakarta-Cikampek, Jawa Barat, Kamis pekan lalu.
Proyek pembangunan infrastruktur jalan tol layang Jakarta-Cikampek, Jawa Barat, Kamis pekan lalu.

Hampir dihentikan, pengerjaan proyek diatur ulang. 

 

Beberapa subkontraktor penyedia alat berat berkali-kali menghubungi General Manager Light Rail Transit PT Adhi Karya Isman Widodo, Selasa dua pekan lalu. Mereka menanyakan kelanjutan proyek kereta ringan atau light rail transit (LRT) yang melintas dari Cawang menuju Bekasi Timur sejauh 18,5 kilometer. Sebab, sehari sebelumnya, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi meminta pengerjaan konstruksi kereta ringan di ruas jalan tol Jakarta-Cikampek kilometer 11 sampai kilometer 17 dihentikan sementara.

Subkontraktor kelimpungan karena alat beratnya banyak dioperasikan untuk proyek ini. Mereka ogah merugi apabila alat tersebut teronggok berhari-hari di lapangan. “Kalau berhenti, ya, berarti harus dipulangkan, atau bisa dipindahkan ke tempat lain,” kata Isman saat ditemui, Selasa pekan lalu. Sedangkan PT Adhi Karya tak mau proyeknya tertunda lebih lama. “Kami jelaskan kepada mereka bahwa ini masih dalam proses peninjauan.”

Setelah memimpin rapat koordinasi tentang penanganan kemacetan jalan tol Jakarta-Cikampek di Bekasi Timur, Selasa lalu, Menteri Budi mengumumkan langkah penghentian sementara dua proyek infrastruktur, yakni pembangunan kereta ringan oleh PT Adhi Karya dan jalur kereta cepat Jakarta-Bandung oleh PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC). Budi menginstruksikan penghentian dua proyek tersebut selama beberapa bulan ke depan. “Kami akan minta LRT dan KCIC tidak berkonstruksi dulu di daerah kilometer 11-17. Sementara tidak ada kegiatan di sana,” ujarnya.

Pernyataan ini membuat geger kontraktor dan subkontraktor. Direktur Utama PT Adhi Karya Budi Harto kemudian meminta konfirmasi tentang hal ini kepada Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek Bambang Prihartono. Lewat sambungan telepon, Budi Harto memastikan pengerjaan konstruksi kereta ringan bisa dilanjutkan hingga tuntas akhir tahun depan. “Kalau dihentikan, beban pengeluaran tambahan bisa jalan terus dan justru kereta ini tidak bisa segera berfungsi,” tutur Budi Harto.

Hingga akhir November, pengerjaan konstruksi untuk kereta ringan fase pertama, yakni rute Cawang-Bekasi, telah mencapai 42 persen. Adapun pembangunan tiang pancang dan rel kereta rute Cawang-Cibubur mencapai 72 persen, sementara progres rute Cawang-Dukuh Atas 38 persen. Budi Harto menyebutkan pengerjaan konstruksi milik Adhi Karya sebetulnya tak ada yang mengganggu lalu lintas di badan jalan tol Jakarta-Cikampek.  Di ruas jalan tersebut, pengerjaan mencakup enam titik, yaitu untuk long span Cikunir, long span Kali Bekasi, feeding point di kilometer 13+400, Stasiun Cikunir, Stasiun Bekasi Barat, dan Stasiun Bekasi Timur. “Semua crane- di luar jalan tol. Saat beton datang, truk berhenti sebentar di badan jalan, lalu bergeser lagi,” ucap Budi Harto. “Itu pun hanya malam hari.”

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi

Isman Widodo mengatakan seluruh rencana konstruksi ini sejak awal dilaporkan secara berkala kepada pemerintah melalui rapat koordinasi yang dipimpin konsultan manajemen konstruksi PT Ciriajasa Cipta Mandiri—di bawah penunjukan PT Jasa Marga (Persero). Sejak Agustus lalu, tepatnya menjelang pelaksanaan Asian Games di Jakarta, dibentuklah sebuah grup koordinasi melalui WhatsApp. Lebih dari 50 orang bergabung dalam grup itu, termasuk Isman. Semua penanggung jawab kontraktor melaporkan rencana kerja proyek dan progres konstruksi setiap hari. Data yang dilaporkan cukup detail, termasuk titik lokasi proyek dan waktu pengerjaan. “Juga dilaporkan penanganan masalah terbaru. Pokoknya update terus,” tutur Isman. Kepolisian dan pejabat Kementerian Perhubungan serta Kementerian Pekerjaan Umum tergabung dalam grup percakapan itu.

Empat hari sebelum Menteri Budi Karya memutuskan penundaan proyek, semua stakeholder sempat menggelar rapat di Kementerian Pekerjaan Umum atas undangan Direktorat Jenderal Bina Marga. Topik utama pertemuan itu juga mengenai kemacetan di sekitar proyek yang membentang di jalan tol Jakarta-Cikampek. Direktur Utama PT KCIC Chandra Dwiputra mengatakan rapat tersebut tak bisa langsung menyelesaikan masalah kemacetan di lapangan.

Chandra, yang mendelegasikan timya dalam rapat itu, menerima laporan bahwa kemacetan terjadi lantaran penyempitan jalur di ruas jalan tol lingkar luar Jakarta menjelang gerbang Cikunir kilometer 9 hingga kilometer 10 arah Jatiasih. Di titik itu, KCIC sedang membangun fondasi bore pile untuk terowongan.

Rapat memutuskan relokasi gerbang Cikunir yang semula dikerjakan PT KCIC akan dialihkan kepada PT Waskita Karya (Persero). Sebab, alat berat milik Waskita siap sedia di lokasi sehingga tak perlu keluar-masuk melalui jalan tol. Target penyelesaiannya pekan pertama Desember.

Waskita Karya bertugas mengerjakan proyek jalan tol layang Jakarta-Cikampek sepanjang 38,6 kilometer di bawah koordinasi PT Jasa Marga Jalan Layang Cikampek (Persero). Jalan bebas hambatan ini akan terbentang dari Cikunir sampai Karawang Barat. Tiang pancang LRT berada di sebelah kiri dari arah Jakarta, sementara tiang jalan tol layang berada di tengah membelah dua arah jalan. Proyek inilah yang diprioritaskan Menteri Perhubungan Budi Karya lantaran akan difungsikan sebelum masa mudik Idul Fitri, Juni 2019. Progres pembangunan jalan ini mencapai 58,5 persen per akhir November. “Konstruksi lain kita hitung lagi, dilihat paling tidak tiga-empat bulan,” ucap Budi Karya.

Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Bambang Prihartono membenarkan penyempitan jalan terjadi di kilometer 9 serta kilometer 11-17. Sebetulnya terdapat lima proyek di titik itu. Selain LRT, kereta cepat Jakarta-Bandung, dan jalan tol layang Jakarta-Cikampek, ada perbaikan jalan dan pembangunan jalan layang jarak pendek.

Sejak tahun lalu, kata Bambang, kemacetan makin parah seiring dengan bertambahnya pengerjaan konstruksi proyek-proyek tersebut. Pertengahan November lalu, Pusat Pengendali Lalu Lintas Nasional Kepolisian RI melaporkan bahwa kemacetan sepanjang 11 kilometer juga terjadi di jalan tol Jakarta-Cikampek kilometer 30-41. “Kami sudah lama panik,” tutur Bambang. Kendati demikian, saat menerima panggilan telepon dari Budi Harto, Bambang memastikan pengaturan proyek di jalan tol Jakarta-Cikampek tak akan menghambat rencana kerja. “Sebab, kami dikira yang mengusulkan kepada Pak Menteri untuk menghentikan proyek LRT dan kereta cepat. Bukan begitu maksudnya,” katanya.

Revisi pengaturan proyek transportasi ini juga menjadi perhatian Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan. Luhut mendukung manajemen ulang pengerjaan proyek untuk melancarkan lalu lintas di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Ia membantah kabar bahwa seretnya pendanaan memicu rencana penghentian dua proyek di sana. “Tidak ada isu soal itu.” Semua direktur utama kontraktor proyek membenarkan hal ini. Budi Harto mengungkapkan, dari total pinjaman yang telah cair senilai Rp 12 triliun, Adhi Karya telah membayar Rp 6,2 triliun. PT KCIC juga telah menerima pinjaman US$ 810 juta atau sekitar Rp 11,6 triliun per akhir Oktober.

MOBIL dan truk berat memperlambat lajunya di kilometer 10 saat Tempo melewati- jalan tol Jakarta-Cikampek, Kamis pekan lalu. Di titik itu terjadi penyempitan jalan dari empat menjadi tiga lajur. Di sebelah kiri, tiang-tiang pancang rel kereta ringan berdiri tegak ditutup moveable concrete barrier beton dan seng. Di tengah, tiang jalan tol layang dibiarkan terbuka hanya berbatas cone. Alat berat bersisian dengan mobil yang melaju.

Sejumlah kontraktor mengatakan pengaturan pembangunan oleh konsultan konstruksi PT Ciriajasa Cipta Mandiri selama ini tak optimal sehingga menyebabkan lalu lintas di sekitar proyek berantakan. “Seperti disampaikan oleh Jasa Marga, manajemennya kurang powerful sehingga sekarang harus dibantu BPTJ,” kata Direktur Utama KCIC Chandra Dwiputra.

 

Proyek tunnel section 1 kereta cepat Jakarta-Bandung di kawasan Halim, Jakarta, Kamis pekan lalu.

Padahal, menurut Chandra, konsorsium KCIC rajin melaporkan rencana kerja harian kepada mereka. Kepala BPTJ Bambang Prihartono membenarkan informasi bahwa Kementerian Perhubungan menginstruksikan BPTJ agar mengambil alih pengaturan lalu lintas di sekitar proyek. “Karena selama ini Ciria banyak berfokus ke implementasi proyek.”

Direktur Utama PT Jasa Marga Jalan Layang Cikampek Djoko Dwijono membantah anggapan bahwa kinerja konsultan yang ditunjuknya tak optimal. Menurut Djoko, volume lalu lintas di ruas jalan tol sepanjang proyek cukup tinggi. Selain itu, konsultan harus menyesuaikan langkah dengan berbagai peraturan dari Kementerian Perhubungan dan Kementerian Pekerjaan Umum. “Saya anggap sinkronisasi pekerjaan keseluruhan proyek yang mereka lakukan masih dalam toleransi cukup,” ujar Djoko.

Djoko mengatakan, dengan tambahan rekayasa lalu lintas pelat nomor kendaraan ganjil-genap di gerbang jalan tol Tambun yang diatur BPTJ, volume lalu lintas akan menurun sehingga kemacetan berkurang. Rekayasa ini berlaku efektif per 17 Desember 2018.

Setelah rapat bersama dengan Kementerian Perhubungan, Kamis dua pekan lalu, Direktur Utama PT Jasa Marga Desi Arryani memastikan pengerjaan jalan tol layang, LRT, dan kereta cepat Jakarta-Bandung berjalan seturut rencana. Desi menyatakan pembangunan jalan tol layang Jakarta-Cikampek akan selesai lebih dulu sehingga dapat mengalihkan sekitar 30 persen dari total volume kendaraan di jalan tol sebelumnya. “Kalau tidak dikebut, Jakarta-Cikampek suatu saat akan terkunci,” ucapnya. Selanjutnya, Jasa Marga akan memperpanjang jalan tol Jakarta-Cikampek 10 kilometer ke selatan sampai Sadang. Pembangunan dimulai pada semester pertama 2020.

Setelah rapat itu, Menteri Perhubungan Budi Karya meralat keputusannya secara lisan. “Tidak ada yang kami hentikan secara membabi-buta.” Budi menerangkan, ia hanya meminta pengerjaan proyek tidak bertumpuk dalam satu waktu.

Sementara itu, PT Adhi Karya masih menunggu penetapan jalur rel dari Setiabudi ke Dukuh Atas. Budi Harto mendesak Gubernur DKI Jakarta dan Menteri Perhubungan agar segera menetapkan lintasan ini. “Seharusnya sekarang segera ditetapkan.” Jika kereta ringan sudah beroperasi, sedikitnya 750 orang per hari dapat terangkut oleh moda transportasi ini.

BPTJ tak sabar menginginkan transportasi massal segera tersedia tahun depan. “Rekayasa ganjil-genap hanya setahun, makin berat beban transportasi. Ini harus diatur pintar-pintar,” kata Kepala BPTJ Bambang Prihartono.

PUTRI ADITYOWATI



Ekonomi dan Bisnis 1/5

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.