Jejak Telapak Kaki dan Tangan Tisna - majalah.tempo.co ‚Äč

Seni 3/3

Sebelumnya Selanjutnya
text

Jejak Telapak Kaki dan Tangan Tisna


Suasana pameran Tisna Sanjaya tetap seperti dulu: hitam, centang-perenang, ruwet, tapi tidak kusut. Pameran ini lebih menawarkan perenungan daripada karya yang menonjok dan menggedor.

Tempo

Edisi : 14 Juli 2018
i Suasana pameran Tisna Sanjaya tetap seperti dulu: hitam, centang-perenang, ruwet, tapi tidak kusut. Pameran ini lebih menawarkan perenungan daripada karya yang menonjok dan menggedor.
Suasana pameran Tisna Sanjaya tetap seperti dulu: hitam, centang-perenang, ruwet, tapi tidak kusut. Pameran ini lebih menawarkan perenungan daripada karya yang menonjok dan menggedor.

SEMACAM etalase kaca selebar sekitar 5 meter dengan tinggi sekitar 3 meter di sisi kiri lobi gedung pameran utama Galeri Nasional Indonesia memperlihatkan setumpuk penuh sampah basah yang tampaknya sudah mengering. Ini sampah sebenarnya, konon sampah Sungai Citarum, diambil dari bagian sungai yang lewat di Bandung. Inilah sapaan pertama kepada pengunjung pameran tunggal Tisna Sanjaya, yang akan berakhir pada Sabtu, 21 Juli nanti.

Sapaan ini seolah-olah memberi isyarat bahwa pengunjung akan bertemu dengan karya seni rupa "seputar sampah". Tisna, perupa yang berangkat dari seni grafis sebelum merambah ke dunia seni rupa pertunjukan serta instalasi, sejauh ini memang dikenal dengan karya-karya yang grotesque-tidak rapi cenderung jorok tapi ekspresif, ruwet tapi tidak kusut, peletat-peletot tapi tidak janggal, murah tapi sangat berkarakter, dan didominasi warna hitam yang membentuk suasana ruang pameran. Dan, sesekali, ada karya yang meruapkan bau jengkol. Bahkan ketika dia pertama kali berpameran di sebuah mal di Jakarta, sebuah kawasan yang gemerlap dan mahal, meski terasa seolah-olah disesuaikan dengan lingkungan tempat pameran, misalnya sejumlah lukisannya tak hanya hitam-putih, tapi juga berwarna-warni, karyanya secara keseluruhan tetaplah grotesque.

Kali ini, dengan tajuk yang provokatif, "Potret Diri sebagai Kaum Munafik", suasana pameran Tisna tak berbeda dengan gambaran tersebut, gambaran yang tersimpulkan dari beberapa pamerannya yang saya kunjungi. Yang berbeda adalah tema "cerita" yang hendak disampaikan.

Benar, sejumlah karya etsanya masih "cerita" yang lama, atau ia kembali ke yang lama karena karya-karya tersebut baru, bertarikh 2017 dan 1018: goresan garis ruwet ekspresif, membentuk suasana riuh, menampilkan gambar-gambar "aneh" seperti wajah dengan mata-hidung-mulut membentuk gambar pohon. Atau sebuah kepala, miring, berada di antara ranting-ranting dua pohon, sementara pohon itu tumbuh pada bukit kepala-kepala-gambaran yang surealistis, mengerikan, kesan yang tak jarang ada pada karya-karya etsanya.

Namun, setelah lengkap berkeliling di ruang pameran, yang terkesan hampir ada pada tiap karya yang dipamerkan kali ini adalah jejak telapak kaki dan telapak tangan. Ada jejak sejumlah telapak kaki yang membentuk susunan diagonal, ada yang membentuk komposisi berbeda. Yang kemudian tersimpulkan adalah ada kesan satu komposisi yang diulang-ulang dengan segala variannya: dua jejak telapak tangan di sudut kanan-kiri bagian atas bidang gambar, di bagian bawah jejak telapak kaki, dan di tengah bisa bidang buat tak sempurna. Atau, yang di tengah itu, sesuatu yang lain, goresan-goresan garis simpang-siur, bentuk palang, segitiga, dan sebagainya.

Bisa dipahami bila kemudian "jejak" itu memberikan imaji jejak orang melakukan salat. Di ruang depan pameran ada dua karya, masing-masing terdiri atas 33 sajadah dengan taburan warna hitam, abu-abu, serta aksen oker dan merah di sana-sini. Salah satu dari dua karya 33 sajadah itulah yang judulnya diangkat menjadi tema pameran ini, "Potret Diri sebagai Kaum Munafik", karya tahun 2017. Karya ini diciptakan dari sebuah performance Tisna suatu hari pada 2017 di Museum Modern and Contemporary Art Nusantara, museum di bilangan Jakarta Barat.

Tentu saja, dalam pameran ini, pengunjung bisa mendapat imaji dari peristiwa di Indonesia belakangan ini: bom bunuh diri. Sebuah karya lukisan bermedia arang dan media lain, berukuran 2 x 2 meter, menggambarkan sesosok perempuan yang mengenakan niqab tengah menggendong dua anak. Judul karya ini: Ibu. Pada kanvas ada tulisan "Ibu, Limpahan sumber kehidupan, bukan bom kematian". Bukankah beberapa waktu lalu seorang perempuan yang menggendong anak meledakkan diri di sebuah tempat di Surabaya?

Namun lukisan itu bukan sebuah poster. Tisna bisa saja terilhami oleh peristiwa tersebut. Hanya, dilihat dari lukisan itu sendiri, perupa yang peduli terhadap masalah kemasyarakatan itu tidak sekadar memprotes. Ia menyuguhkan satu gambaran yang memancing imaji untuk sebuah diskusi tentang ibu, niqab, anak, dan sesuatu yang bukan kasih sayang. Gestur tubuh perempuan ber-niqab itu tidak sedang mengasuh anak. Langkah dan pandangannya tertuju pada sebuah niat. Gambar figur di tengah dalam sebentuk mirip wajah, lalu seluruh sisa ruang gambar adalah hitam dengan sejumlah goresan garis; ada yang membentuk anak panah, ada juga yang membentuk tulisan seperti yang sudah dikutip itu. Keseluruhan lukisan ini memberi saya imaji tentang sesuatu yang jauh dari kasih sayang ibu-anak. Imaji yang kemudian terbawa ketika melihat keseluruhan pameran ini.

Pameran ini menawarkan sebuah perenungan gaya Tisna, tentang makna beragama dan bermasyarakat. Cetakan jejak telapak kaki dan tangan pada bidang gambar, yang tidak rapi sebagaimana biasanya Tisna, kadang mengesankan sesuatu yang syahdu, tapi kadang kala terkesan juga jejak itu memberi bayangan kekerasan: jejak telapak itu seolah-olah berdarah.

Adapun dua karya instalasinya bagi saya terasa hanya sebagai tambahan. Begitu juga rekaman video Tisna saat berkarya dan rekaman pembuatan pelat untuk cetakan karyanya. Pameran ini terbentuk oleh karya-karya dua dimensi. Dibandingkan dengan pameran sebelumnya, misalnya di Bentara Budaya 15 tahun silam yang bertema "Jeprut", memang pameran ini masih dalam orbit Tisna Sanjaya. Namun, bagi saya, pameran teranyar Tisna ini kekurangan sesuatu yang dulu disebutkan dalam katalognya: kurang "mengetuk, menusuk, menggedor, mengajak… mengilik-kilik, mengajak bertanya dan berbagi dengan yang lain…" untuk "mencari, mencari, dan mencari sampai menemukan, menemukan, menemukan entah apa….".

Bambang Bujono, Pengamat Seni Rupa



Seni 3/3

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.