Mangrove Hilang, Tambak Udang Terbilang - majalah.tempo.co ‚Äč

Ilmu dan Teknologi 1/1

Sebelumnya
text

Mangrove Hilang, Tambak Udang Terbilang


Hutan mangrove Indonesia menghilang seluas 52 ribu hektare setiap tahun. Laju deforestasi mangrove terbesar disumbang oleh penggunaan lahan untuk tambak udang.

Tempo

Edisi : 18 Maret 2018
i Mangrove Hilang, Tambak Udang Terbilang
Mangrove Hilang, Tambak Udang Terbilang

VIRNI Budi Arifanti tampak kesal saat menceritakan penelitiannya tiga tahun lalu di Delta Mahakam, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Peneliti pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan, dan Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan itu gusar karena 21 ribu hektare kawasan bakau hilang dalam kurun 11 tahun hanya untuk tambak udang yang tak produktif. "Satu hektare tambak hanya menghasilkan 30 kilogram udang. Produksi minim karena hanya mengandalkan pakan alamiah yang diperoleh dari sungai," ujar Virni, Selasa dua pekan lalu.

Penelitian Virni, yang berkolaborasi dengan Oregon State University, Amerika Serikat; USAid Indonesia; dan Universitas Mulawarman itu mengambil sampel 10 tambak udang dan 10 hutan mangrove untuk menghitung kerusakan mangrove akibat konversi menjadi tambak udang. Virni mempresentasikan penelitian itu pada sesi paralel pembahasan mangrove dan karbon biru dalam Konferensi Tingkat Tinggi Hutan Hujan Asia-Pasifik Ketiga yang berlangsung di Yogyakarta, 23-25 April lalu. "Butuh waktu hingga ratusan tahun untuk memulihkan tambak kembali menjadi kawasan mangrove seperti semula," kata Virni.

Menebang mangrove dan menggali tanah untuk tambak udang, menurut Virni, sama dengan membongkar seluruh ekosistem yang ada di sekitar kawasan mangrove. Bila terjadi pemadatan tanah menggunakan alat berat dalam proses pembuatan tambak, lapisan atas dan lapisan bawah tanah akan mengalami kompaksi. Kompaksi merupakan degradasi fisik yang membuat aktivitas biologi tanah menurun dan struktur tanah hancur perlahan-lahan. "Pemadatan tanah menyebabkan tanah tak lagi subur untuk ditanami mangrove," ujarnya.

Tambak telah mengubah siklus hidrologi ekosistem bakau. Maka, bila tambak hendak direstorasi menjadi kawasan mangrove kembali, yang pertama harus dilakukan adalah menormalisasi siklus hidrologi tambak, yaitu dengan memungkinkan terjadinya pasang-surut air di area bekas tambak. "Proses itu penting untuk memicu regenerasi mangrove secara alamiah," kata Virni. Itulah yang membuat waktu pemulihan mangrove ke kondisi semula sangat lama.

Kerusakan bakau Indonesia dan dunia mendapat sorotan para peneliti di KTT tersebut. Indonesia disebut sebagai negara yang memiliki hutanmangroveterbesar di dunia, tapi laju hilangnya mangrove juga sangat memprihatinkan. Direktur Konservasi Tanah dan Air Kementerian Lingkungan Hidup dan KehutananMuhammad Firman mengatakan Indonesia kehilangan 52 ribu hektare mangrove per tahun atau setara dengan luas tiga lapangan sepak bola per pekan. "Penyebab paling signifikan adalah konversi lahan pertanian, tambak, dan infrastruktur," ucap Firman dalam konferensi, Selasa dua pekan lalu.

Menurut Firman, laju kerusakan mangrove yang tinggi itu membuat pemerintah mengeluarkan aturan untuk merestorasi dan merehabilitasi hutan mangrove. "Langkah strategisnya adalah meminimalisasi konversi mangrove, mempromosikan fungsi keanekaragaman hayati, dan melindungi kawasan pesisir," ujarnya.

Daniel Murdiyarso, peneliti senior Pusat Penelitian Hutan Internasional (CIFOR), menyebutkan luasan kawasan bakau Indonesia kini kurang dari 3 juta hektare, terus menyusut sejak 1980-an. Sebelumnya, Indonesia mempunyai total 4,2 juta hektare hutan mangrove. Daniel juga menyebutkan laju deforestasi mangrove terbesar disumbang oleh penggunaan lahan untuk akuakultur atau budi daya udang. Industri pariwisata juga mendorong orang mengembangkan tambak udang secara besar-besaran. "Ada teleconnection antara industri, konsumsi udang, dan kerusakan mangrove," kata Daniel di sela konferensi.

Laporan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) yang bertajuk "The State of World Fisheries and Aquaculture" pada 2016 mencatat Indonesia sebagai negara produsen perikanan nomor dua di dunia setelah Cina. Total produksi perikanan tangkap Indonesia lebih dari 6 juta ton, sedangkan produksi perikanan budi daya lebih dari 4 juta ton.

Udang merupakan komoditas utama dari sektor kelautan dan perikanan yang diekspor ke berbagai negara, di antaranya Jepang, Amerika Serikat, dan negara-negara Eropa. Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam siaran tertulisnya menyebutkan Indonesia memiliki potensi lahan pesisir untuk tambak udang terluas di dunia, yakni lebih dari 3 juta hektare.

Pengurangan hutan bakau sangat berdampak pada upaya mitigasi perubahan iklim. Daniel, dalam penelitiannya bersama peneliti Amerika Serikat dan Finlandia yang dipublikasikan di jurnal Nature GeoScience pada 2011, menghitung hutan mangrove Indonesia per hektare menyimpan lima kali karbon lebih banyak ketimbang hutan tropis dataran tinggi. Hutan mangrove bisa menyerap sekaligus menyimpan karbon lima kali lipat ketimbang hutan daratan. Tanaman ini punya produktivitas tinggi dalam menyerap dan menyimpan karbon. Mangrove menghasilkan biomassa karbon yang tinggi.

Menurut Daniel, sebanyak 70 persen biomassa karbon disimpan dalam akar yang tumbuh dengan pesat dalam jumlah banyak. Akar berukuran kecil yang jumlahnya banyak inilah yang menyerap karbon. "Mangrove punya cara yang unik menyimpan karbon, yakni dengan merontokkan dan membusukkan akarnya. Lalu karbon disimpan dan terus terakumulasi ribuan tahun," ujarnya.

Daniel menghitung satu hektare bakau mampu menyimpan 1.000-1.500 ton karbon. Di Papua, ia menganalisis mangrove dapat menyimpan 1.650 ton karbon per hektare. Sementara itu, di Cilacap, Jawa Tengah, bakau menyimpan 600 ton karbon per hektare. Menurut penelitian Daniel, kapasitas penyimpanan karbon tiap hutan mangrove berbeda, tergantung biomassa pada tegakan, kandungan tanah dan kedalaman, juga kerapatan mangrove.

Bilamangroverusak dan berkurang jumlahnya, simpanan karbon banyak yang terlepas ke atmosfer. Daniel mengatakan, dari pembukaan tambak udang, sebanyak 190 juta ton karbon dioksida atau CO2 terlepas ke atmosfer. Ini terjadi karena, ketika membuat tambak, orang membabat habis mangrove hingga akarnya, menggali tanah, dan mengaduknya. "Sumbangan emisi dari aktivitas tambak udang ini sebesar 30 persen dari total deforestasi per tahun," katanya.

Shinta Maharani



Ilmu dan Teknologi 1/1

Sebelumnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.