Teror Orang Gila - majalah.tempo.co

Nasional 4/6

Sebelumnya Selanjutnya
text

Teror Orang Gila


Serangan kepada kiai atau tokoh agama serentak terjadi di banyak daerah. Pelakunya sama: mereka yang bertingkah seperti orang gila ketika tertangkap. Intelijen kecolongan, polisi belum berhasil memetakan hubungan-hubungannya.

Administrator

Edisi : 18 Februari 2018
i Teror Orang Gila
Teror Orang Gila

SEBERMULA para santri di Pondok Pesantren Minhajunnidzom Dluo-el-Gonna tak menaruh curiga kepada seorang lelaki yang melintas di depan pondok, di Jalan Lintas Timur AMD, Desa Sukaratu, Pandeglang, Banten. Mereka mulai curiga ketika laki-laki 28 tahun itu mondar-mandir setiap malam, bahkan selama tiga malam pada Kamis-Sabtu dua pekan lalu.

Karena khawatir lelaki asing itu bikin onar, ditambah berseliweran kabar di WhatsApp yang menyebutkan banyak serangan terhadap kiai di sejumlah tempat, santri dan penduduk di sekitar pondok menangkapnya. Ia lalu dibawa ke pos ronda. "Masyarakat khawatir, bukan saya yang diancam atau terancam," kata Encep Muhaimin, pemimpin pondok, pada Rabu pekan lalu.

Video penangkapan dan interogasi laki-laki itu muncul di Facebook. Dalam video itu terdengar ia mengaku hendak membunuh ulama di Pandeglang dengan upah Rp 5 juta per kiai. Bersama dia ada sembilan orang lain di sekujur kabupaten itu yang punya niat sama, yakni membunuh para ulama.

Encep mendapat laporan lebih rinci ihwal interogasi itu. Dua santrinya melaporkan bahwa laki-laki yang mereka tangkap tak meruapkan bau menyengat kendati kaus merah dan celana jinsnya kumal. Giginya putih dan kaus dalamnya bersih. "Orang ini 90 persen normal dan 10 persen pura-pura gila," ujar Riski, salah satu santri yang melapor kepada Encep.

Ketika ditanya namanya, laki-laki ini mengaku bernama Firmansyah. Secara mengejutkan, ketika ditanya siapa yang menyuruhnya, ia dengan lantang menjawab PKI. Apa itu PKI? "Partai Komunis Indonesia," katanya, seperti dikutip Riski. Tiga jam setelah penangkapan, polisi dari Kepolisian Resor Pandeglang tiba. Desa Sukaratu berjarak satu jam perjalanan dari pusat kota.

Polisi membawa Firmansyah ke Rumah Sakit Umum Daerah Pandeglang akibat luka-luka pukulan masyarakat yang menangkapnya. Tak seperti kepada warga Sukaratu, menurut Kepala Polres Pandeglang Ajun Komisaris Besar Indra Lutrianto Amstono, Firmansyah menjawab pertanyaan penyidik secara berbelit-belit. "Tingkahnya menyerupai orang dengan gangguan jiwa," ujar Indra.

Tak berhasil mengorek keterangan meyakinkan, polisi memeriksa sidik jari Firmansyah dengan alat pelacak sidik jari. Rekaman alat ini terhubung ke data Kependudukan dan Catatan Sipil. Dari sini diketahui ia bernama Wahyudin, kelahiran Jawa Tengah, 15 Januari 1990, dan tinggal di Jalan Raya Bina Marga Nomor 58, Cipayung, Jakarta Timur. Alamat ini adalah Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulya 1, panti khusus orang jompo.

Anggota staf Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulya 1, Winda, yang dimintai konfirmasi Tempo, membantah kabar bahwa Wahyudin penghuni pantinya. "Dilihat dari usianya saja sudah bukan penghuni. Di sini semuanya jompo," katanya Kamis pekan lalu.

Persis di sebelah Tresna Werdha, ada Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa 2. Kepala Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa 2, Tuti Sulistyaningsih, memastikan Wahyudin dengan data kependudukan seperti itu pernah menghuni pantinya. Tuti sudah mengecek identitasnya karena sehari sebelumnya ada polisi yang datang memastikan identitas Wahyudin atau Firmansyah ke pantinya. "Kami baru mengetahuinya ketika polisi mengecek ke sini Rabu kemarin," ujar Tuti.

Menurut Tuti, Wahyudin kabur dari panti pada 17 September 2017, setelah menjadi penghuni selama sembilan bulan. Ia, dan empat anggota stafnya, mengaku tidak mengetahui kronologi Wahyudin kabur dari panti, padahal setiap hari ada 38 petugas satuan pengamanan yang berjaga.

Data di Panti menyebutkan, nama lengkap Wahyudin adalah Wahyudin Firmansyah. Lahir di Wonogiri, Jawa Tengah, ia putra pasangan Suhartono dan Mogisor, dengan pendidikan terakhir sekolah menengah atas. Sebelum menghuni Bina Laras 2, ia menghuni Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa 1 di Cengkareng, Jakarta Barat.

Wahyudin pindah ke Cipayung pada 27 Januari tahun lalu bersama 22 orang lainnya. Di dokumen yang mengiringinya masuk panti, tertulis bahwa Wahyudin "Terlihat bingung, namun dapat mengutarakan dirinya melalui senyuman, kondisi fisik baik, dan terlihat sehat".

Tuti mengatakan penghuni Bina Laras 1 adalah pengidap gangguan jiwa yang agresif. Setelah membaik atau naik ke level 2, mereka dipindahkan ke Bina Laras 2. Dia pun meyakini kondisi Wahyudin sama dengan 1.208 orang penghuni Bina Laras 2 lainnya, yaitu pikirannya sudah tenang, bisa diajak mengobrol, serta bisa membedakan tindakan baik dan buruk.

Sebelum bertemu dengan Tuti, Tempo bercakap dengan lima penghuni Bina Laras 2. Seorang laki-laki ketika ditanya namanya mengaku bernama Adam. Seorang pemuda lain menghampiri Tempo dan meminta uang untuk membeli rokok. Ketika diberi uang Rp 500, ia mengatakan uang itu tak cukup untuk membeli satu batang rokok. "Harganya Rp 2.000," katanya. Ia berlalu setelah diberi uang sejumlah itu.

Saat menunggu Tuti itu, teman-teman Adam hilir-mudik di ruang tunggu. Mereka tersenyum dan menyapa. "Menunggu siapa? Oh, Bu Tuti. Kirain suaminya," ujar salah satunya. Lancar. Jelas. Runut.

Kembali ke Wahyudin Firmansyah. Ia hanya satu hari di Markas Polres Pandeglang setelah ditangkap. Polisi membawanya ke Klinik Dira Sukantri Toha di Desa Kadubeureum, Kecamatan Pabuaran, Serang. Ajun Komisaris Besar Indra Lutrianto mengatakan hendak memastikan penyakit Wahyudin. "Sampai sekarang kami belum menerima hasil pemeriksaan klinik," katanya. Hasil pemeriksaan klinik itu akan jadi acuan polisi dalam menanganinya.

l l l

SERANGAN terhadap kiai dimulai ketika Umar Basri dipukuli seorang pria yang menjadi makmum salat subuhnya pada Sabtu terakhir bulan lalu. Umar, 60 tahun, tak lain pemimpin Pondok Pesantren Al Hidayah di Desa Cicalengka Kulon, Bandung. Kepala Umar bocor dan tubuhnya penuh luka akibat pukulan itu. Polisi lalu menangkap Asep, laki-laki 50 tahun, yang diduga sebagai penganiaya Umar.

Empat hari berikutnya, terjadi lagi penganiayaan terhadap tokoh agama. Kali ini korbannya Prawoto dari Komando Brigade Pimpinan Pusat Persatuan Islam (Persis). Ia dianiaya hingga meninggal di depan rumahnya di Blok Kasur, Cigondewah Kidul, Bandung. Pembunuhnya Asep Maftuh alias Encas, 45 tahun, tetangga Prawoto.

Juru bicara Kepolisian Daerah Jawa Barat, Ajun Komisaris Besar Hari Suprapto, mengatakan kedua pelaku penyerangan di dua tempat itu sama-sama mengidap gangguan jiwa. Asep, seorang buruh bangunan, pernah menghuni Rumah Sakit Jiwa Cisarua, Bogor, Jawa Barat, pada usia 26 tahun. Ia dirawat selama enam bulan, lalu diharuskan menjalani rawat jalan. Setelah keluar, Asep tak pernah lagi ke Cisarua.

Penyakit sakit jiwa Asep diketahui polisi dari keluarganya. Meski begitu, menurut Ajun Komisaris Besar Hari, polisi tetap membawa Asep ke Cisarua untuk memastikan penyakitnya. "Dari lima tahap pemeriksaan, baru pemeriksaan kedua sudah blank, maksudnya tidak bisa berkomunikasi dan memberi jawaban," ujar Hari, Kamis pekan lalu.

Berbeda dengan Asep, kata Hari, keadaan Asep Maftuh, sesuai dengan keterangan dokter, hanya menderita gangguan kepribadian. Asep Maftuh bisa menjawab pertanyaan penyidik saat diperiksa. Ia pun ditetapkan sebagai tersangka penganiayaan dan ditahan di sel Kepolisian Resor Kota Besar Bandung. "Apabila selesai secara administratif akan diserahkan ke Kejaksaan untuk penuntutan," ujarnya. Polisi memastikan penganiayaan oleh Asep kriminal murni.

Lima hari berselang, warga Desa Banyu Asih, Cigudeg, Bogor, juga geger ketika dua penduduk baku bacok. Sulaiman, 55 tahun, dibacok oleh Jamhari, yang lebih muda dua tahun. Videonya beredar di Facebook dengan keterangan bahwa Sulaiman seorang ustaz desa itu. Namun polisi memastikan Sulaiman hanya petani. Lagi pula, sebelum pembacokan, keduanya minum kopi bersama. Polisi sudah menyimpulkan: Jamhari punya gangguan mental.

Tak hanya di Banten dan Jawa Barat, dari Tuban, Jawa Timur, juga dikabarkan ada orang gila mengamuk di Masjid Baiturrahim, Jalan Sumurgempol, pada Selasa pekan lalu. Pelakunya Ahmad Falih. Pada hari itu, Ahmad dan keluarganya berada di masjid tersebut sampai larut malam. Jemaah masjid pun menanyakan tujuannya. Ahmad adalah penduduk Desa Karangharjo, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Dicecar pelbagai pertanyaan, Ahmad marah dan merusak kaca masjid.

Kepala Kepolisian Daerah Jawa Timur Inspektur Jenderal Machfud Arifin mengatakan Ahmad sengaja datang ke Kingking untuk berobat kepada KH Muhammad Ahmad Ainul Yaqin, pengasuh Pondok Pesantren Al Islahiyah, yang tak jauh dari Masjid Baiturrahim. Machfud mengatakan, sesuai dengan penjelasan dokter Rumah Sakit Bhayangkara Jawa Timur, Ahmad mengidap penyakit skizofrenia paranoid atau merasa jiwanya terancam dan terus diawasi.

l l l

KEJADIAN-kejadian yang mendadak viral di media sosial itu membuat masyarakat waspada. Di Pandeglang, setelah kejadian di Sukaratu, polisi menerima laporan ada penangkap orang yang diduga gila lainnya di Ciwalet dan Cimanggung. Mereka menangkap seorang pemuda yang menanyakan alamat seorang tokoh agama.

Penduduk membawa pemuda itu ke kantor polisi. "Keluarganya sudah datang menjemput dan diinfokan bahwa pemuda itu menderita gangguan jiwa," kata Kepala Kepolisian Resor Pandeglang Indra Lutrianto.

Berbeda dengan kejadian lain di Pandeglang, Bandung, Tuban, atau Bogor, di Sukabumi hingga kini polisi tak berhasil menemukan pelaku perusak Masjid Jami Al Quba di Pondokkaso Landeuh pada Senin pekan lalu. Masjid tersebut ditemukan masyarakat dalam kondisi berantakan, termasuk Kitab Suci.

Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Choirul Anam meminta polisi serius mengantisipasi maraknya serangan kepada tokoh agama di banyak tempat itu. Anam, aktivis pembela hak asasi manusia, ingat serangan orang gila pada 1999 di Timor Leste. Mengutip dokumen di Komisi Kebenaran dan Persahabatan Indonesia-Timor Leste, Anam membaca bahwa ada pengakuan orang gila yang menyerang tokoh agama itu sengaja dibuat gila dengan dicekoki pil anjing gila.

Juga di Jawa Timur pada 1998. Anam mendapat pengakuan dari seorang aparat bahwa para operator lapangan dicekoki obat sebelum mereka membantai para ulama. Karena itu, ia meminta polisi tak percaya begitu saja pada pengakuan gangguan jiwa. "Kalau tak pernah gila dan tiba-tiba gila serta ditemukan pil ’biru’, dipastikan ini didesain," ujarnya.

Kepala Badan Intelijen Negara Jenderal Budi Gunawan mengatakan pelbagai serangan kepada tokoh agama itu merupakan kampanye hitam untuk menurunkan legitimasi pemerintah yang tak mampu menjaga keamanan. Menurut dia, teror itu berkaitan dengan pemilihan umum serentak tahun ini. "Sudah kami prediksi karena itu tahun politik, ada yang lempar berita palsu dan isu lama," katanya.

Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta masyarakat tak berspekulasi dan menyerahkan penanganannya kepada polisi. Kepala Kepolisian RI Jenderal Tito Karnavian memerintahkan anak buahnya lebih intens menjaga serta merapat ke pesantren dan ulama. "Yang sudah tertangkap akan kami dalami, apakah ada koneksi satu kasus dengan lainnya," ujarnya.

Rusman Paraqbueq, Anton Septian, Ahmad Faiz (jakarta), Aminuddin (bandung), Deden Abdul Aziz (bogor), Nurhadi (tuban), Adi Warsidi (aceh)


Menggila di Jawa

TIBA-tiba saja bermunculan "orang gila". Mereka berkeliaran di sekitar pesantren dan masjid lalu menyerang pemimpin pondok atau tokoh agama di sekitarnya. Tak jelas dan terang benar motif penyerangan itu. Wakil Presiden Jusuf Kalla menampik serangan serentak dan terarah ini ada kaitan dengan politik. Tapi Kepala Badan Intelijen Negara Komisaris Jenderal Budi Gunawan punya kesimpulan menyeramkan: serangan masif di banyak tempat sejak awal tahun itu adalah bagian dari kampanye hitam untuk pemerintahan Presiden Joko Widodo. Logikanya sederhana. Penyerangan itu, kata Budi, diamplifikasi oleh orang lain sebagai bentuk muncul kembalinya Partai Komunis Indonesia—yang tercatat dalam sejarah pernah bentrok dengan ulama. Jokowi acap diisukan sebagai anak aktivis partai terlarang itu.

• 27 Januari 2018
» Korban: Umar Basri, 50 tahun, pemimpin Pondok Pesantren Al Hidayah, Cicalengka, Bandung
» Pelaku: Asep, 50 tahun
» Lokasi: Masjid Al Hidayah, Cicalengka, Bandung
» Kronologi: Seusai salat subuh berjemaah, Asep menyerang Umar dengan tangan kosong. Asep ditangkap di Musala Al Fadhulah, Cicalengka, sekitar dua kilometer dari lokasi kejadian.
» Perkembangan: Tim dokter memastikan Asep menderita gangguan jiwa berat. Polisi tetap melanjutkan penyidikan dengan mendatangkan saksi ahli dan melakukan pengumpulan alat bukti.

• 1 Februari 2018
» Korban: Prawoto, 40 tahun, Komandan Brigade Persatuan Islam
» Pelaku: Asep Maptuh, 45 tahun
» Lokasi: Blok Kasur, Kelurahan Cigondewah Kidul, Kecamatan Bandung Kulon, Bandung
» Kronologi: Prawoto menegur Asep karena menggedor rumah. Asep marah dan mengejar korban sambil membawa linggis. Dalam kejar-kejaran, Prawoto terjatuh, lalu dipukul di bagian kepala dan tangan.
» Perkembangan: Pelaku dikirim ke Rumah Sakit Jiwa Cisarua, Bogor, Jawa Barat. Polisi menyita linggis dan kaus berlogo partai politik dari tangan Asep.• 6 Februari 2018

» Korban: Sulaiman, 55 tahun, warga Desa Banyu Asih, Cigudeg, Bogor
» Pelaku: Jamhari, 53 tahun
» Lokasi: Kampung Cijambe, Desa Banyu Asih, Cigudeg, Bogor
» Kronologi: Sulaiman dan Jamhari sempat minum kopi bersama di kebun durian. Jamhari menawar sebuah durian, tapi ditolak Sulaiman. Jamhari, yang menderita gangguan jiwa, pulang untuk mengambil golok dan membacok Sulaiman.
» Perkembangan: Sulaiman sempat disebut sebagai ustaz di wilayah itu, tapi sebenarnya ia petani. Polisi mengusut pertengkaran ini meski ada upaya penyelesaian lewat jalur kekerabatan. Sulaiman dan Jamhari punya hubungan saudara.

• 10 Februari 2018
» Korban: Tidak ada
» Terduga pelaku: Wahyudin Firmansyah, 28 tahun
» Lokasi: Kelurahan Sukaratu, Kecamatan Majasari, Pandeglang, Banten
» Kronologi: Wahyudin terpantau mondar-mandir di sekitar rumah Encep Muhaimin, ulama di daerah tersebut, selama tiga hari. Lantaran curiga, masyarakat di sekitar rumah Encep menangkap Wahyudin dan memukulinya.
» Perkembangan: Wahyudin sempat menjadi pasien Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa, Cipayung, Jakarta Timur.

• 11 Februari 2018
» Korban: Karl Edmund Prier, 80 tahun; tiga anggota jemaat gereja; dan seorang polisi
» Pelaku: Suliyono, 22 tahun
» Lokasi: Gereja Santa Lidwina, Bedog, Sleman, Yogyakarta
» Kronologi: Suliyono datang di tengah perayaan misa. Ia melukai tiga anggota jemaat sebelum merangsek ke altar dan melukai Romo Prier. Suliyono juga merusak patung Yesus dan Maria di altar. Polisi menembak kaki Suliyono.
» Perkembangan: Suliyono sempat dirawat di Rumah Sakit Bhayangkara, tapi kini perawatannya dipindahkan ke Jakarta. Detasemen Khusus 88 mengambil alih penyidikan perkara ini.

• 12 Februari 2018
» Korban: Tidak ada
» Pelaku: Belum diketahui
» Lokasi: Masjid Al Quba, Pondokkaso Landeuh, Parungkuda, Sukabumi, Jawa Barat
» Kronologi: Warga Pondokkaso Landeuh mendapati karpet dan Al-Quran sudah teracak-acak saat akan menjalankan salat subuh. Mereka langsung melaporkan temuan itu ke polisi.
» Perkembangan: Pelaku dalam pengejaran.

• 13 Februari 2018
» Korban: Tidak ada
» Pelaku: Ahmad Falih, 30 tahun
» Lokasi: Masjid Baiturrahim, Kingking, Tuban, Jawa Timur
» Kronologi: Ahmad hendak berobat kepada Muhammad Ahmad Ainul Yaqin, pengasuh Pondok Pesantren Al Islahiyah. Namun, karena menunggu terlalu lama, dia mengamuk serta melempari jendela dan pintu masjid. Ahmad diduga mengidap gangguan jiwa.
» Perkembangan: Ahmad diperiksa di Kepolisian Daerah Jawa Timur. Polisi menyita sejumlah barang bukti, antara lain laptop, telepon seluler, dan buku bertulisan huruf Arab.

Naskah: Raymundus Rikang | Diolah Dari Berbagai Sumber

Nasional 4/6

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.