Anggaran Hilang, Gizi Buruk Terbilang - majalah.tempo.co

Anggaran Hilang, Gizi Buruk Terbilang

Minggu, 11 Februari 2018 00:00 WIB

TEMPURUNG kelapa muda menjadi menu makan siang Fransisca Patatcot dan anak lelakinya pada Sabtu dua pekan lalu. Duduk bersebelahan di teras kayu Gereja Santo Petrus Paulus, Distrik Pulau Tiga, Kabupaten Asmat, Papua, mereka asyik mengudap potongan tempurung. Ketika tempurung habis, ia menggantinya dengan menyantap sabut kelapa. "Yang penting kenyang, toh," kata perempuan 45 tahun itu kepada Tempo sambil memangku anak lelakinya yang lain yang juga terlihat kurus.

Gereja Santo Petrus Paulus berada di antara Kampung As dan Atat. Kampung ini terletak di tepi Sungai Mamat dan dikepung hamparan rawa-rawa. Butuh sekitar tiga jam mengendarai perahu cepat dari Agats-ibu kota Kabupaten Asmat-untuk menjangkau kampung itu. Menyantap tempurung kelapa menjadi kebiasaan baru di Asmat. "Sebelumnya tak pernah ada yang makan itu," ujar Hendrik Mengga, yang juga berada di gereja itu bersama Fransisca.

Anggaran Hilang, Gizi Buruk Terbilang
Kematian 72 penduduk Kabupaten Asmat menguak persoalan laten kesehatan di Provinsi Papua. Puluhan triliun rupiah anggaran yang diguyurkan pemerintah pusat tiap tahun ternyata tak menambah kualitas kesehatan penduduk daerah tersebut. Kasus gizi buruk bayi masih terus muncul tiap tahun. Angka kematian pasien lima kali lipat di atas rata-rata nasional. Tempo menelusuri pelayanan kesehatan di sejumlah kabupaten lain di Papua sejak Agustus tahun lalu dan menemukan banyak penyimpangan yang ditengarai terjadi dari tahun ke tahun. Investigasi ini terselenggara atas kerja sama majalah Tempo, Tempo Institute, dan Free Press Unlimited.

Baca Juga

  • Resolusi Sepeda
  • Bahan Bakar Limbah Biomassa
  • Kiri-Kanan Tidak Oke
  • Candu PlayStation
  • TEMPURUNG kelapa muda menjadi menu makan siang Fransisca Patatcot dan anak lelakinya pada Sabtu dua pekan lalu. Duduk bersebelahan di teras kayu Gereja Santo Petrus Paulus, Distrik Pulau Tiga, Kabupaten Asmat, Papua, mereka asyik mengudap potongan tempurung. Ketika tempurung habis, ia menggantinya dengan menyantap sabut kelapa. "Yang penting kenyang, toh," kata perempuan 45 tahun itu kepada Tempo sambil memangku anak lelakinya yang lain yang juga t

    ...

    Anda belum login/register untuk berlangganan Majalah Tempo versi Web / Aplikasi.
    info lebih lanjut hubungi : 021-50805999 atau cs@tempo.co.id

    Administrator

    Sign up below to get more articles, get unlimited access in here

    Anda belum register/login, silahkan untuk free artikel di sini