Bunyi Pletak, Lalu Jatuh - majalah.tempo.co

Bunyi Pletak, Lalu Jatuh

Senin, 17 April 2017 00:00 WIB

BOCAH sebelas tahun itu berhenti bermaingamedi sabak komputer barunya, Rabu pekan lalu. Ia kemudian berguling dari kasur tipis dan meninggalkan tiga sepupu yang menemaninya. Dengan mengesot, Fahri-bocah lelaki itu-menuju kamar mandi di rumahnya di Bandung. Uwaknya yang melihat dia beringsut lalu mengangkatnya ke kamar kecil untuk berkemih.

Sejak usia lima tahun, saat teman-teman seusianya mulai aktif berlarian, Fahri justru sudah tak bisa berdiri. Beberapa kali tulang kakinya patah karena tak sanggup menopang berat badannya. Yang pertama dan paling parah saat usianya empat tahun, Fahri tiba-tiba terjatuh tanpa sebab saat berjalan menuju sekolah taman kanak-kanak. Insiden itu membuat tulang kering kaki kanannya patah."Tiba-tiba kaki kanannya bunyi ’pletak’, lalu dia jatuh. Bangun, bunyi ’pletak’ lagi, sampai empat kali,"kata ibunya, Sri Astati Nursani.

Bunyi Pletak, Lalu Jatuh
Penyakit tulang rapuh tak hanya terjadi pada orang tua, tapi juga anak-anak. Penanganannya hampir sama.

Baca Juga

  • Revisi Pesanan Jokowi
  • Poros Teror Suriah-Surabaya
  • Akuarium Jemaah Pendukung Daulah
  • Pemberontak di Unit Nomor 2
  • BOCAH sebelas tahun itu berhenti bermaingamedi sabak komputer barunya, Rabu pekan lalu. Ia kemudian berguling dari kasur tipis dan meninggalkan tiga sepupu yang menemaninya. Dengan mengesot, Fahri-bocah lelaki itu-menuju kamar mandi di rumahnya di Bandung. Uwaknya yang melihat dia beringsut lalu mengangkatnya ke kamar kecil untuk berkemih.

    Sejak usia lima tahun, saat teman-teman seusianya mulai aktif berlarian, Fahri justru sudah tak bisa berdir

    ...

    Anda belum login/register untuk berlangganan Majalah Tempo versi Web / Aplikasi.
    info lebih lanjut hubungi : 021-50805999 atau cs@tempo.co.id

    Administrator

    Sign up below to get more articles, get unlimited access in here

    Anda belum register/login, silahkan untuk free artikel di sini