Aliansi Pemburu Kaum Kiri - Laporan Utama - majalah.tempo.co ‚Äč

Laporan Utama 3/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Aliansi Pemburu Kaum Kiri


Kelompok anti-komunisme bermunculan di sejumlah kota. Disokong pensiunan tentara dan tokoh Islam garis keras.

Administrator

Edisi : 16 Mei 2016
i

RAPAT tertutup itu berlangsung tanpa perdebatan. Selama dua jam, perwakilan sejumlah organisasi kemasyarakatan bergiliran menyampaikan pendapat di lantai dua kantor Majelis Ulama Indonesia, Rabu siang pekan lalu. Kesimpulan mereka serupa: tanda-tanda kebangkitan Partai Komunis Indonesia semakin jelas. "Kami mewakili seluruh jaringan yang sadar akan bangkitnya PKI," kata Alfian Tanjung, Ketua Departemen Kajian Strategis Gerakan Bela Negara (GBN), setelah menghadiri rapat tersebut.

Hadir dalam pertemuan tersebut antara lain Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Front Pembela Islam Shobri Lubis, Ketua GBN Mayor Jenderal Purnawirawan Budi Sujana, serta perwakilan Gerakan Pemuda Islam Indonesia dan Pelajar Islam Indonesia. Ada pula anggota staf ahli Menteri Pertahanan, Ian Santoso, yang memberikan catatan bahwa gejala bangkitnya PKI sudah begitu kentara. Menurut Alfian, semua peserta rapat sepakat mengawasi dan melawan segala gerak-gerik pendukung PKI. "Mereka tak bisa tersenyum manis saja," ujar Alfian.

Yang mereka paparkan sebagai tanda-tanda kebangkitan komunisme di Indonesia adalah sejumlah kegiatan kalangan masyarakat sipil. Di antaranya perhelatan Belok Kiri Fest di Lembaga Bantuan Hukum Jakarta pada 27 Februari-6 Maret lalu, rencana pemutaran film Pulau Buru Tanah Air Beta di kantor Aliansi Jurnalis Independen Yogyakarta pada 3 Mei 2016, serta ASEAN Literary Festival di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada 5-8 Mei lalu.

Berbeda dengan tudingan kelompok Islam garis keras itu, penyelenggara acara menyatakan kegiatannya tak bersangkut paut dengan kebangkitan komunisme. Ketua AJI Yogyakarta Anang Zakaria, misalnya, mengatakan film dokumenter Pulau Buru akan diputar dalam acara Hari Kebebasan Pers Dunia. "Film itu bisa disebut karya jurnalistik. Pemerintah pun tak pernah melarangnya," ujar Anang. Sekretaris Jenderal Komite Belok Kiri Fest Indraswari Agnes menyatakan hal senada. Menurut dia, festival itu melawan propaganda Orde Baru. "Acara itu untuk menyudahi buta politik dan amnesia sejarah," kata Agnes.

Di Jakarta, bukan hanya kegiatan masyarakat sipil yang jadi sasaran. Pertemuan di kantor MUI juga menyebut Simposium Nasional "Membedah Tragedi 1965" di Hotel Aryaduta, Jakarta, pertengahan April lalu, sebagai pertanda hidupnya kembali komunisme. Padahal acara tersebut difasilitasi Kementerian Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan, dengan ketua panitia pengarah Letnan Jenderal Purnawirawan Agus Widjojo. Kala itu, Alfian dan kawan-kawan mengerahkan massa untuk berunjuk rasa di depan Hotel Aryaduta.

Menurut Ketua MUI Ma'ruf Amin, perwakilan organisasi kemasyarakatan Islam juga meminta MUI mengeluarkan fatwa haram terhadap komunisme. "Kami mendukung gerakan antikomunis. Kami bisa saja menerbitkan fatwa haramnya paham itu," ujar Ma'ruf.

Setelah pertemuan di MUI, koalisi antikomunis ini merancang sejumlah kegiatan. Pada Jumat pekan lalu, misalnya, mereka menggelar acara silaturahmi yang dihadiri 200-an purnawirawan tentara dan polisi, plus pengurus ormas keagamaan dan kepemudaan. Mereka juga mengundang Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu sebagai tamu utama dalam hajatan di Balai Kartini, Jakarta Selatan, itu.

Dalam pidato sambutannya, Ryamizard mengatakan, sebagai Menteri Pertahanan, dia tak ingin ada ribut-ribut di negeri ini. "Saya tak ingin ada pertumpahan darah," ujarnya. Namun, menurut dia, banyaknya acara berbau kiri bisa memancing emosi kubu yang kontra. "Yang dikeluarkan masih anak-cucunya. Ini pengecut juga. Jadi bahaya laten itu benar," kata Ryamizard.

Menurut Ketua GBN Budi Sujana, acara di Balai Kartini merupakan pemanasan menjelang simposium pada 1-2 Juni nanti. Simposium nasional itu mengambil tema "Mengamankan NKRI dari Bahaya Komunisme". Mereka telah menunjuk mantan Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat Letnan Jenderal Purnawirawan Kiki Syahnakri sebagai ketua panitia simposium tandingan itu. Setelah simposium, pada 3 Juni, mereka akan mengadakan apel besar-besaran dengan mengerahkan sekitar 100 ribu orang.

Budi mengklaim simposium dan rangkaian kegiatan melawan komunisme dibiayai sejumlah pengusaha muslim, antara lain Tommy Soeharto. "Dari mana kalau bukan dari mereka? Kami hanya bermodal semangat dan pemikiran," ujar Budi. Kuasa hukum Tommy Soeharto, Elza Syarief, mengaku tidak tahu apakah Tommy akan menyumbang kegiatan tersebut atau tidak. "Soal itu saya tak paham," kata Elza.

Menjelang simposium, Alfian dan kawan-kawan akan meresmikan organisasi bernama Barisan Ganyang PKI. Anggota barisan pemukul itu, menurut Alfian, sudah digalang lewat jejaring WhatsApp selama dua bulan terakhir. Yang dipilih merupakan ahli bela diri dengan rentang usia 30-40 tahun. "Gugus tempur kami akan main fisik," ujar Alfian, yang juga anggota Badan Ahli Front Pembela Islam.

Tak hanya di Jakarta. Gerakan pengganyangan komunisme juga bermunculan di daerah. Di Jawa Timur, mereka bergabung dalam Front Pancasila. Kamis dua pekan lalu, front ini berunjuk rasa menolak kebangkitan komunisme di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya. Berhimpun dalam front ini antara lain Forum Madura Bersatu, Pelajar Islam Indonesia, Lembaga Dakwah Islam Indonesia, Laskar Sapu Jagat, Gerakan Nasional Patriot Indonesia, Center for Indonesian Community Studies, dan Front Pembela Islam. "Anggota kami banyak. Semua orang tahu itu," kata salah seorang penggagas Front Pancasila, Arukat Djaswadi.

Di Yogyakarta, Ketua Front Anti Komunis Indonesia Burhan Zainuddin Rusjiman juga mengancam akan menghadang setiap kegiatan berbau kiri. Massa kelompok inilah, bersama anggota Forum Komunikasi Putra-Putri TNI/Polri, yang mengacaukan acara World Press Freedom Day 2016 dan pemutaran film Pulau Buru Tanah Air Beta di kantor AJI Yogyakarta.

Bersama massa Forum Umat Islam, Burhan juga membubarkan pemutaran film Senyap pada 2014. Film dokumenter karya sutradara Joshua Oppenheimer itu bertema sentral pembantaian massal pada 1965. "PKI sedang bangkit melalui kegiatan seperti pemutaran film," kata lelaki 76 tahun yang biasa disapa Burhan Kampak itu.

Linda Trianita, Artika Rachmi Farmita (Surabaya)

Laporan Utama 3/4

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.