Selingan



  • Membaca Imagologi Orang Cina dalam Sastra Kolonial
    Selingan

    Membaca Imagologi Orang Cina dalam Sastra Kolonial

    LEWAT buku Bukan Takdir, Widjajanti W. Dharmowijono membongkar penyebaran stereotipe negatif tentang orang Cina di Nusantara yang telah mengakar selama ratusan tahun. Dia menelisik sekitar 200 karya sastra yang ditulis pada 1880-1950. Citra seperti kasar, rakus, dan penjilat dilekatkan para penulis sastra Eropa di Hindia Belanda terhadap tokoh-tokoh Cina dalam cerita mereka. Citra yang menyulut sejumlah peristiwa berdarah yang menelan korban tak berdosa.

  • Prasangka terhadap Orang Tionghoa Bukanlah Takdir
    Selingan

    Prasangka terhadap Orang Tionghoa Bukanlah Takdir

    Setelah 12 tahun, buku karya Widjajanti W. Dharmowijono tentang pencitraan orang Cina dalam novel Indo-Belanda bertarikh 1880-1950 akhirnya dirilis Penerbit Ombak pada 5 April 2021. Perilisan ini disyukuri Inge—panggilan akrab Widjajanti—karena dulu naskah yang bersumber dari disertasinya di Universiteit van Amsterdam itu pernah ditolak penerbit Belanda. Namun Inge tetap berkukuh pada keinginannya semula: bukunya harus terbit dalam bahasa Indonesia dan dibaca khalayak negeri ini.

  • Persada, Sebuah Legenda
    Selingan

    Persada, Sebuah Legenda

    Selama tinggal di Yogyakarta, Umbu Landu Paranggi membesarkan komunitas penyair Persada Studi Klub. Bisa menembus rubrik puisi yang dikelolanya adalah suatu kebanggaan bagi penyair Yogyakarta saat itu. 

  • Perjamuan Terakhir Sang Presiden Malioboro
    Selingan

    Perjamuan Terakhir Sang Presiden Malioboro

    Penyair Umbu Landu Paranggi wafat pada Selasa dinihari, 6 April lalu. Pria kelahiran Sumba Timur itu menutup usia di Rumah Sakit Bali Mandara, Sanur, Bali, dalam usia 77 tahun. Kepergiannya meninggalkan duka bagi para murid dan penggemar syair-syair etniknya. Umbu adalah mentor bagi banyak seniman di Jawa dan Bali. Dia pernah "menggelandang" di Yogyakarta dan menghidupkan komunitas seniman Persada Studi Klub yang bermarkas di Malioboro. Setelah pindah ke Bali pun dia teguh menjadi guru puisi bagi penyair-penyair muda yang bernaung di komunitas puisi. Walau menggembleng banyak seniman, Umbu memilih jalan sunyi. Dia menjauhi sorotan dan mengasingkan diri dari hiruk-pikuk dunia seni. 

     

  • Umbu Tiada, namun Mengada
    Selingan

    Umbu Tiada, namun Mengada

    Penyair Bali Warih Wisatsana menceritakan pergaulannya dengan Umbu Landu Paranggi. Umbu, menurut dia, adalah pribadi yang bersahaja lahir-batin; tak ada rekayasa untuk memisteriuskan diri.

  • Kho Ping Hoo Melaporkan Banjir
    Selingan

    Kho Ping Hoo Melaporkan Banjir

    Tidak jelas mengapa buku ini baru terbit 13 tahun setelah ditulis. Namun sekarang pun, 55 tahun kemudian, wacana Kho Ping Hoo tetap aktual.

  • Jurus Fantasi, Peta Cina, dan Cerita Silat Kho Ping Hoo
    Selingan

    Jurus Fantasi, Peta Cina, dan Cerita Silat Kho Ping Hoo

    Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo pernah berjaya pada zamannya. Saat kebanyakan penulis cerita silat Indonesia menyadur kisah pengarang Cina pada 1950-an, Kho Ping Hoo menyusun sendiri lakonnya. Lahir di Sragen, 95 tahun lalu, Kho Ping Hoo muda mulai menulis karena kondisi ekonomi. Sebagai pengarang ia produktif. Tercatat ada ratusan judul yang ia lahirkan, sebagian di antaranya berlatar Cina dan sisanya Indonesia. Bu Kek Siansu menjadi salah satu yang fenomenal. Terdiri atas 24 jilid, buku itu masih menyihir penggemarnya hingga kini karena plot ceritanya yang menarik dan sarat filosofi. Karyanya yang lain juga populer, walau sejumlah muatan sejarah dan geografis tentang Cina di bukunya disebut-sebut meleset dari fakta. Namun para pembaca “mengampuni” hal itu karena bagaimanapun tulisan Kho Ping Hoo hanyalah fiksi. Untuk mengenang lelaki yang wafat pada 1994 itu, Roemah Bhinneka pada 15 Maret 2021 menggelar diskusi secara daring. Dalam diskusi, lahir gagasan untuk memperkenalkan lagi Kho Ping Hoo kepada para pembaca belia.

  • Saadawi Telah Pergi
    Selingan

    Saadawi Telah Pergi

    KETIDAKADILAN dialami Nawal El Saadawi sebagai perempuan sejak napas pertamanya. Di Desa Katr Tahla, tempat dia lahir pada 27 Oktober 1931, kehadiran anak perempuan dianggap sebagai dosa dan kemalangan, sementara kelahiran anak laki-laki patut dirayakan. Yang paling traumatis baginya adalah pengalaman saat secuil daging klitorisnya diambil dalam sunat perempuan. Dia menjadi pejuang hak perempuan yang bersuara paling lantang melawan patriarki dan penindasan terhadap perempuan. Buku-bukunya yang sebagian besar berlatar belakang di Mesir dapat dibaca sebagai permasalahan universal. Gelombang perjuangannya menyentuh para perempuan di sudut-sudut lain dunia, tak terkecuali di Indonesia. Saadawi wafat pada 21 Maret 2021, meninggalkan jejak dalam gerakan perempuan dan hak asasi manusia di seluruh dunia.

  • Seekor Phoenix dari Nil
    Selingan

    Seekor Phoenix dari Nil

    Nawal El Saadawi selalu mendapat tekanan dari pemerintah, masyarakat, dan institusi agama, tapi dia bergeming dengan perjuangannya memerdekakan perempuan.

  • Usmar Ismail, Film, dan Kita
    Selingan

    Usmar Ismail, Film, dan Kita

    SERATUS tahun lalu, Usmar Ismail lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat. Seabad usia sineas yang dianggap sebagai bapak perfilman Indonesia itu diperingati di mana-mana. Tempo mewawancarai sanak keluarga Usmar, juga membaca ulang kiprahnya.

  • Dari Bukittinggi sampai Makassar
    Selingan

    Dari Bukittinggi sampai Makassar

    Acara perayaan seabad usia Usmar Ismail digelar di berbagai kota. Dari Bukittinggi, kota kelahiran Usmar, sampai Makassar dan Jakarta.

  • Tonil-tonil Realis Usmar
    Selingan

    Tonil-tonil Realis Usmar

    Mendahului film-filmnya, Usmar Ismail menulis sejumlah naskah teater yang dipentaskan bersama kelompok Sandiwara Penggemar Maya. Naskah-naskah realis yang tentu menjadi basis bagi kemunculan sederet filmnya.

  • Usmar Ismail dan Ekosistem Kreatifnya
    Selingan

    Usmar Ismail dan Ekosistem Kreatifnya

    Film bagi Indonesia dapat dipandang sebagai bibit kepandaian Barat jang tertanam dinegeri ini, mendjadi suatu tanda pertemuan Barat dan Timur, atau dengan istilah ilmu pengetahuan: suatu tanda proces acculturatie di Indonesia sekarang, sebagai dalam lapangan politik, “demokrasi” dapat pula diterima sematjam itu. 

    (Armijn Pane dalam “Produksi Film Tjerita di Indonesia”, diterbitkan majalah kebudayaan Indonesia edisi Januari-Februari 1953)

     

  • Sang Pencetus Badan Bahasa
    Selingan

    Sang Pencetus Badan Bahasa

    Dalam Kongres Bahasa Indonesia 1930, Sanusi Pane mengusulkan pembentukan institusi pengembangan bahasa Indonesia. Idenya terwujud pada 1948, menjadi lembaga yang kini disebut Badan Bahasa.

  • Sanusi Pane: Sebuah Pleidoi untuk Bahasa Indonesia
    Selingan

    Sanusi Pane: Sebuah Pleidoi untuk Bahasa Indonesia

    Nama sastrawan angkatan Pujangga Baru, Sanusi Pane, tak banyak diingat dalam kajian sejarah Kongres Pemuda. Padahal, dalam kongres pertama, dia bersama Mohammad Tabrani berperan dalam mengusung istilah nahasa Indonesia ketimbang bahasa Melayu yang diusulkan Mohammad Yamin. Sanusi juga mencetuskan ide pendirian institut dan perguruan tinggi kesusastraan Indonesia dalam Kongres Bahasa Indonesia Pertama. Untuk kiprahnya itu, Sanusi Pane diusulkan menjadi pahlawan nasional.

  • Ritual-ritual Kuno Penolak Wabah
    Selingan

    Ritual-ritual Kuno Penolak Wabah

    JAUH sebelum pandemi Covid-19 mengoyak bumi, berbagai daerah di Nusantara sudah beberapa kali berhadapan dengan pagebluk yang memakan korban jiwa. Kondisi itu memunculkan beragam kearifan lokal yang bertaut erat dengan tradisi untuk mencegah ataupun melawan wabah. Ritual itu tak hanya berupa perapalan mantra dan doa, tapi juga tari-tarian, syair, serta upacara tradisional yang sebagian di antaranya masih dilestarikan sampai sekarang. Di Bali, misalnya, dikenal tari sakral sanghyang yang memadukan gerak tari dan trans, juga kidung, yang dilakukan untuk mengenyahkan bala dan memohon perlindungan dewata.

    Ada pula metode penyembuhan dan ramuan tradisional yang dipercaya berkhasiat mengobati penyakit dari masa ke masa. Bermacam ritual itu termaktub dalam buku Menolak Wabah yang dirilis Penerbit Ombak bekerja sama dengan Borobudur Writers & Cultural Festival Society, akhir tahun lalu. Buku yang terbagi menjadi dua jilid itu memuat puluhan karya tulis yang menggali kearifan lokal penolak wabah, dari relief, manuskrip, sejarah rempah, hingga ritual budaya.

  • Ramuan dari Leluhur
    Selingan

    Ramuan dari Leluhur

    Masyarakat adat di Nusantara menyimpan tradisi jamu warisan nenek moyang untuk mencegah penyakit. Kementerian Kesehatan meriset tanaman obat itu untuk khalayak luas.

  • Rancage tanpa Ajip
    Selingan

    Rancage tanpa Ajip

    Anugerah Sastera Rancage digelar untuk ke-33 kali. Berharap dapat terus bertahan meski perintisnya, Ajip Rosidi, telah wafat.

  • Dari Dadan sampai Komang Berata
    Selingan

    Dari Dadan sampai Komang Berata

    Anugerah Sastera Rancage yang mengapresiasi karya-karya sastra terbaik dalam bahasa daerah kembali digelar ke-33 kalinya. Digagas Ajip Rosidi, anugerah ini memberi semangat kepada penulis daerah untuk melestarikan bahasa lokal yang makin pudar.

  • Pertama dari Indonesia
    Selingan

    Pertama dari Indonesia

    Orang-orang Bloomington masuk daftar sastra terbitan Penguin Classics. Kisahnya dinilai tak tergerus zaman.

  • 12

    Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

    4 artikel gratis setelah Register.