Majalah TEMPO | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Selingan



  • Nyawa Kedua Margasatwa dan Puspita
    Selingan

    Nyawa Kedua Margasatwa dan Puspita

    Mural karya Lee Man Fong, Margasatwa dan Puspita Indonesia, yang menjadi koleksi Hotel Indonesia Kempinski mengalami proses restorasi. Lukisan terbesar yang pernah dibuat Lee Man Fong ini digarap pada 1962 atas perintah Presiden Sukarno. Lukisan ini bertema keberagaman hayati Indonesia. Tak banyak yang tahu bahwa mural ini memiliki master berupa dua lukisan cat air yang juga dibuat Lee Man Fong. Ikuti kisah tentang lukisan ini dan lukisan lain yang menjadi koleksi Hotel Indonesia Kempinski.

  • Apa Kabar Arjunawiwaha?
    Selingan

    Apa Kabar Arjunawiwaha?

    Lukisan Arjunawiwaha karya Sudarso di Hotel Indonesia nyaris tidak pernah dibicarakan. Padahal menarik dan sangatlah besar ukurannya.

  • Kekayaan Tradisi Tuak Kita
    Selingan

    Kekayaan Tradisi Tuak Kita

    Minuman beralkohol lokal di sejumlah daerah erat dengan tradisi. Sebagian peramu kini mulai menjualnya dengan kemasan menarik.

  • Geliat Minol, dari Cap Tikus hingga Wine Lokal
    Selingan

    Geliat Minol, dari Cap Tikus hingga Wine Lokal

    DI tengah polemik peredaran minuman beralkohol alias minol, produk lokal justru melejit dengan olahan dan kemasan profesional. Menyusul Cap Tikus, minuman tradisional beralkohol dari Minahasa, Sulawesi Selatan, awal tahun ini muncul Sophia, dari moke dan sopi khas Nusa Tenggara Timur. Beredarnya dua merek itu disokong regulasi pemerintah daerah yang pro-pemberdayaan ekonomi warga. Seperti halnya Bali, yang punya beragam minol, baik yang tradisional seperti arak maupun wine lokal. Sejumlah merek minuman keras itu tak hanya mengandalkan penjualan langsung, tapi juga memanfaatkan media sosial dan pasar daring. Strategi itu pula yang membuat minol yang diproduksi di Semarang, Vibe, bisa meluaskan pasar. Penjualan liquor ini juga disokong capaian Vibe, yang meraih penghargaan di kompetisi level Asia hingga dunia. Tempo melaporkan dari Bali dan NTT.

  •  Menebak Batu Bata Beraksara
    Selingan

    Menebak Batu Bata Beraksara

    Sektor permakaman dianggap sebagai zona inti penggalian. Terdapat temuan-temuan lepas, tapi belum bisa dipastikan apa tepatnya bangunan yang dulu berada di situs itu.   

  • Kumitir, Katastrofe, dan Tafsir Lain
    Selingan

    Kumitir, Katastrofe, dan Tafsir Lain

    DI masa pandemi ini, selama sebulan, sejak 4 Agustus sampai 9 September lalu, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPPCB) Jawa Timur melakukan ekskavasi skala besar di Situs Kumitir, dekat Trowulan, Mojokerto. Penggalian yang melibatkan puluhan pekerja ini menindaklanjuti ekskavasi tahun lalu, yang berhasil menemukan sebuah struktur talut panjang di Kumitir.

    Ekskavasi ini mengundang kegairahan baru atas penelitian Majapahit. Meski penggalian baru menyingkap 30 persen dari luas keseluruhan situs, berbagai tafsir muncul menyusul kerja keras BPCB Jawa Timur ini. Tempat apakah situs Kumitir? Apakah pendarmaan? Apakah sebuah kota kecil? Apakah kedaton? Mengapa bisa terpendam? Mengapa minim temuan artefak? Apakah bencana alam atau ulah manusia yang menghancurkan kawasan situs? Tempo melaporkannya.  

     

  • Tilik dan Bangkitnya Marwah Film Pendek
    Selingan

    Tilik dan Bangkitnya Marwah Film Pendek

    ANGKA 20 juta penayangan yang diraih Tilik membuka banyak kemungkinan untuk sebuah karya film pendek. Mulai tumbuh pada awal 1970-an, film pendek sering tak mendapat sorotan publik dan jamak dipandang sebagai batu loncatan sebelum sineas mengerjakan proyek panjang “sebenarnya”. Padahal banyak sineas yang mendapat piala utama dalam berbagai festival bergengsi dunia dengan karya singkatnya.

    Sejumlah persoalan memperlambat proses produksi dan kesempatan film pendek bertemu dengan penonton. Momentum yang diciptakan Tilik patut dimanfaatkan untuk menyuburkan ekosistem perfilman pendek kita.

  • Di Balik Tilik
    Selingan

    Di Balik Tilik

    Tilik, yang telah ditonton lebih dari 20 juta kali, memunculkan ketertarikan terhadap Bu Tejo dan wacana baru tentang film pendek. Apa cerita di baliknya? 

  • Tarzan Terbitan Semarang
    Selingan

    Tarzan Terbitan Semarang

    Toko Buku Liong menerbitkan sejumlah buku. Salah satunya komik Wiro, Anak Rimba Indonesia. Sebuah komik yang mengenalkan Indonesia karya komikus keturunan Tionghoa.

  • Suatu Masa di Toko Buku Liong
    Selingan

    Suatu Masa di Toko Buku Liong

    SEKITAR 70 tahun lalu, Toko Buku Liong adalah permata di kawasan Kota Lama Semarang, tepatnya di seberang Gereja Blenduk. Sejumlah komik legendaris diproduksi kios itu, di antaranya Wiro, Anak Rimba Indonesia; dan Dagelan Petruk Gareng. Toko Buku Liong dikelola Lie Djoen Liem dan Ong King Nio, pasangan keturunan Cina yang tinggal di Semarang. Namun ketidakpastian kondisi politik membuat keluarga Lie memilih hijrah ke Brasil pada 1958 dan menetap di sana, meninggalkan kios yang hingga kini mangkrak, tak jelas peruntukannya.

    Baru pada 2019 cucu Lie, Daniel Lie, datang ke Indonesia. Ia menyusuri lagi sejarah keluarganya dan Toko Buku Liong bersama kurator asal Rumania, Adelina Luft. Keduanya menggarap proyek kolaboratif: pameran daring Toko Buku Liong. Pameran itu dibagi ke dalam empat babak yang dirilis saban pekan selama Agustus 2020. Dalam situs virtual pameran, bangunan yang secara fisik sudah tiada itu dihidupkan kembali. Tempo melaporkan dari Semarang dan Yogyakarta.

  • Menuju Makam: Ladang Gandum, Langit Biru
    Selingan

    Menuju Makam: Ladang Gandum, Langit Biru

    Tempo mengunjungi makam Vincent van Gogh dan adiknya, yang juga berada di Auvers-sur-Oise. Sekitar 35 kilometer dari Paris.

  • Auvers-sur-Oise dan Lukisan Terakhir Van Gogh
    Selingan

    Auvers-sur-Oise dan Lukisan Terakhir Van Gogh

    Terkurung di rumahnya di Strasbourg, Prancis, di tengah pandemi Covid-19, sejarawan seni Wouter van der Veen tak sengaja mengungkap misteri lokasi lukisan terakhir Vincent van Gogh dibuat sebelum perupa itu bunuh diri. Peristiwa ini bertepatan dengan 130 tahun kematian Van Gogh. Ikuti laporan Tempo dari Belanda.

  • Setelah 1965, Sopoiku
    Selingan

    Setelah 1965, Sopoiku

    Setelah 1965, Kho Wan Gie tak memenuhi anjuran pemerintah Soeharto agar warga keturunan Cina berganti nama. Ia lalu membuat komik dengan nama samaran dari bahasa Jawa, Sopoiku, yang berarti “siapa itu”.

  • Mengenang Koh Put On dan Koh A Piao
    Selingan

    Mengenang Koh Put On dan Koh A Piao

    DUA komik karya dua orang peranakan Tionghoa, Kho Wan Gie dan Goei Kwat Siong, puluhan tahun silam sangat terkenal di sini, yaitu Put On dan Si A Piao. Kedua komik ini sudah lama tak terbit. Bila dihitung dari tahun kelahirannya pada 2 Agustus 1930, kini komik legendaris Put On genap berusia 90 tahun. Adapun Si A Piao berumur 70 tahun. Bagaimana kisah munculnya kedua komik ini?

  • Kata dan Pengalaman
    Selingan

    Kata dan Pengalaman

    Puisi Sapardi Djoko Damono kian lama kian peka akan bunyi, imaji, ide, gerak tubuh, dan emosi yang tiap kali beralih. Sajak-sajaknya selalu berkelok mendadak, membiarkan diri dicegat dengan frasa yang tak terduga.

  • Dari Pinangan ke Horison
    Selingan

    Dari Pinangan ke Horison

    Catatan tentang Sapardi Djoko Damono di Solo ini ditulis sepenuhnya berdasarkan ingatan. Pada pertengahan 1960-an, sebelum dan sesudah peristiwa 30 September 1965, beberapa seniman Solo suka berkumpul, dan dalam kumpul-kumpul itulah pertama kali saya bertemu dengan Mas Djoko—semua temannya memanggilnya demikian, tapi tanpa “Mas”. Mereka berusia akhir 20-an tahun. Saya, siswa kelas satu sekolah menengah atas, ikut hadir karena merupakan anggota Lingkaran Seni Muslim Surakarta yang dididirikan salah seorang dari mereka, yaitu Budiman S. Hartoyo, penyair dan wartawan. Kegiatan Lingkaran antara lain mengadakan latihan melukis.

  • Album dari Sudut Koran Sore   
    Selingan

    Album dari Sudut Koran Sore  

    Sajak-sajak Sapardi Djoko Damono diterima semua kalangan antara lain karena musikalisasi yang kuat. Bermula dari proyek mahasiswa tiga dasawarsa lalu, puisi Sapardi dilagukan terus hingga hari ini.

  • Ia yang Tak Mengkhianati Puisi
    Selingan

    Ia yang Tak Mengkhianati Puisi

    PENYAIR tersohor Sapardi Djoko Damono mengembuskan napas terakhir pada Ahad, 19 Juli lalu. Sajak-sajak Sapardi menempati pencapaian estetis tersendiri dalam jagat puisi Indonesia. Seorang pengamat mengatakan sajak-sajak imajis Sapardi berdiri kokoh di tengah, tidak tergoda terlalu ekstrem ke kiri sebagai sajak protes serta bisa menahan diri tak melangkah terlalu eksperimental ke kanan.

    Seluruh hidup Sapardi didedikasikan kepada sastra. Ia pernah menjadi redaktur sastra majalah Horison, dan sampai akhir hayatnya menjadi akademikus sastra di kampus. Sapardi juga seorang penerjemah, dari novel sampai naskah drama, yang tangguh. Lingkup aktivitas sastranya demikian luas dan intens. Yang juga membedakan Sapardi dengan penyair lain adalah sajak-sajaknya diterima luas oleh publik. Musikalisasi sajak-sajak cintanya, misalnya, demikian populer, juga menyentuh secara bersahaja semua kalangan.

    Menjelang kematiannya pada umur 80 tahun, Sapardi masih terus berusaha memproduksi buku-buku sastra. Ia yakin penerbitan sastra diterima masyarakat kita.

  • Dua Begawan dalam Satu Bingkai
    Selingan

    Dua Begawan dalam Satu Bingkai

    Sapardi Djoko Damono berkiprah sebagai dosen, ilmuwan dan penerjemah, serta penggiat sastra. Tak pernah berhenti belajar dan mengikuti perkembangan pengetahuan.

  • Santiago, Hedda, dan Keluarga Jenderal Mannon
    Selingan

    Santiago, Hedda, dan Keluarga Jenderal Mannon

    Sapardi Djoko Damono adalah penerjemah yang ulung. Ia berprinsip terjemahannya merupakan karya Indonesia, bukan sekadar karya asing dalam bahasa Indonesia.

  • 12

    Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

    4 artikel gratis setelah Register.